Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena AI Mirip Era Komputer? Ramai Digunakan, Produktivitas Belum Signifikan

Kompas.com, 20 April 2026, 14:36 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber Fortune

NEW YORK, KOMPAS.com - Harapan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan langsung mendongkrak produktivitas kerja ternyata belum sepenuhnya terwujud. Fenomena ini mengingatkan pada “paradoks produktivitas” yang pernah dicatat ekonom peraih Nobel Robert Solow pada 1987.

Saat itu, setelah kemunculan transistor, mikroprosesor, hingga chip memori pada 1960-an, banyak pihak meyakini teknologi komputer akan memicu lonjakan produktivitas. Namun yang terjadi justru sebaliknya: pertumbuhan produktivitas melambat dari 2,9 persen pada periode 1948–1973 menjadi hanya 1,1 persen setelah 1973.

Komputer bahkan sempat dinilai menghasilkan terlalu banyak informasi, memicu laporan yang sangat rinci dan menumpuk dalam bentuk cetakan kertas. Kondisi ini membuat teknologi yang diharapkan meningkatkan efisiensi justru belum memberikan dampak nyata dalam beberapa tahun awal.

“Anda bisa melihat era komputer di mana-mana, kecuali dalam statistik produktivitas,” tulis Solow dalam New York Times Book Review pada 1987.

Baca juga: PHK Massal di Silicon Valley karena AI?

Kini, pola serupa terlihat dalam adopsi AI di dunia usaha. Meski 374 perusahaan dalam indeks S&P 500 dalam paparan kinerjanya menyebut AI sebagian besar dengan nada positif, analisis Financial Times periode September 2024–2025 menunjukkan implementasi tersebut belum tercermin dalam peningkatan produktivitas secara luas.

Studi National Bureau of Economic Research juga menemukan mayoritas eksekutif belum merasakan dampak signifikan AI.

Seperti dikutip dari Fortune, Senin (20/4/2026), dari 6.000 CEO, CFO, dan pimpinan perusahaan di AS, Inggris, Jerman, dan Australia, sekitar dua pertiga memang telah menggunakan AI, tetapi rata-rata hanya sekitar 1,5 jam per minggu.

Bahkan, 25 persen responden mengaku belum menggunakan AI sama sekali.

Dalam tiga tahun terakhir, hampir 90 persen perusahaan menyatakan AI belum berdampak pada produktivitas maupun tenaga kerja.

Meski demikian, ekspektasi terhadap AI tetap tinggi. Para eksekutif memperkirakan teknologi ini akan meningkatkan produktivitas sebesar 1,4 persen dan output 0,8 persen dalam tiga tahun ke depan.

Sementara itu, perusahaan memproyeksikan penurunan tenaga kerja sebesar 0,7 persen, tetapi pekerja justru melihat potensi peningkatan lapangan kerja sebesar 0,5 persen.

Sejumlah riset menunjukkan AI memang memiliki potensi besar. Penelitian Massachusetts Institute of Technology pada 2023 menyebut penggunaan AI dapat meningkatkan kinerja pekerja hingga hampir 40 persen dibandingkan yang tidak menggunakan teknologi tersebut.

Namun, dampak tersebut belum terlihat di tingkat makro. Kepala ekonom Apollo, Torsten Slok, mengatakan, “AI ada di mana-mana, kecuali dalam data makroekonomi.”

Ia juga mencatat bahwa di luar kelompok perusahaan teknologi besar, belum terlihat pengaruh AI terhadap margin laba maupun ekspektasi pendapatan.

Temuan studi lain juga bervariasi. Laporan Federal Reserve Bank of St. Louis mencatat kenaikan produktivitas kumulatif sebesar 1,9 persen sejak akhir 2022 setelah kemunculan ChatGPT.

Halaman:


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau