JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Senin (1/6/2026), bertepatan dengan dimulainya penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor sumber daya alam (DHE SDA) hari ini. Namun penguatan dinilai hanya bersifat sementara.
Sebagai informasi, rupiah di pasar spot menguat 76 poin atau 0,43 persen ke level Rp 17.805 per dollar Amerika Serikat (AS) dari posisi penutupan sebelumnya Rp 17.881 per dollar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong oleh implementasi kebijakan baru yang mewajibkan eksportir SDA menempatkan DHE di dalam negeri.
"Yang membuat Rupiah hari ini mengalami penguatan pada saat libur, itu adalah tentang masalah penerapan aturan baru DHE yang harus terparkir di perbankan Himbara. Ini yang cukup bagus," kata Ibrahim kepada media, Senin.
Baca juga: Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 tentang Perubahan Ketiga atas PP Nomor 36 Tahun 2023 mengenai DHE dari kegiatan pengusahaan, pengelolaan, dan/atau pengolahan SDA yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Dalam aturan itu, eksportir SDA diwajibkan merepatriasi DHE ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan 100 persen. Eksportir nonmigas juga wajib menempatkan 100 persen DHE SDA pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan, sementara eksportir migas wajib menempatkan minimal 30 persen DHE SDA selama tiga bulan.
Selain kebijakan DHE, pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan ekspor satu pintu secara bertahap mulai 1 Juni 2026. Pemerintah memberikan masa transisi hingga awal 2027 untuk penyesuaian pelaku usaha sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara penuh.
Baca juga: Purbaya: Kebijakan DHE SDA Dorong Ketahanan Ekonomi dan Perbankan
Meski demikian, Ibrahim menilai dampak positif kebijakan DHE terhadap rupiah kemungkinan tidak akan berlangsung lama karena perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan geopolitik global, khususnya hubungan AS dan Iran.
"Bisa saja DHE ini sangat berpengaruh, walaupun nanti secara teknisnya saya belum tahu. Tetapi ini hanya bersifat sementara, karena sebenarnya pelaku pasar ini sedang tertuju terhadap pernyataan dari Trump tentang nota kesepahaman gencatan senjata antara Iran dan Amerika. Ini yang sedang ditunggu," ucapnya.
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar keuangan global. Dia mencatat indeks dollar AS pada perdagangan Senin justru bergerak menguat meski sempat mengalami koreksi intraday.
"Tetapi kalau saya lihat bahwa dalam perdagangan hari ini sebenarnya dollar ASbitu menguat, terjadi cap up. Sempat juga tadi mengalami pelemahan di 35 poin, tetapi langsung kembali menguat.," katanya.
Baca juga: Purbaya: Kebijakan DHE SDA Jadi Sentimen Positif bagi Pasar Modal
Di tengah belum adanya terobosan signifikan dalam pembahasan gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran, pelaku pasar masih mencermati berbagai perkembangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.
Ibrahim memperkirakan ketidakpastian tersebut akan kembali membebani rupiah pada perdagangan berikutnya.
Dia memperkirakan pergerakan rupiah pada Selasa (2/6/2026) akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.850 per dollar AS. Sementara selama sepekan mendatang, rupiah diprediksi akan menuju level Rp 18.150 per dollar AS
"Kemungkinan besar nota kesepahaman antara kedua negara ini akan ditolak oleh Amerika. Dan ini yang membuat Rupiah ini kemungkinan dalam perdagangan besok di hari Selasa pada saat pembukaan pasar di Indonesia, kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan," tukasnya.
Baca juga: Aturan Baru DHE SDA Berlaku 1 Juni 2026, BTN Nilai Likuiditas Bank Lebih Aman
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang