Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Temukan Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Alami Beban Mental Baru

Kompas.com, 16 April 2026, 14:25 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selama ini dipromosikan sebagai alat yang dapat memangkas beban kerja manusia.

Narasi yang berkembang menyebut AI sebagai “asisten digital” yang mampu mengambil alih tugas-tugas rutin, sehingga pekerja bisa lebih fokus pada pekerjaan strategis.

Namun, temuan terbaru justru menunjukkan sisi lain dari adopsi teknologi ini.

Baca juga: Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,39 Persen, Digitalisasi dan AI Jadi Motor Baru

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Alih-alih meringankan pekerjaan, penggunaan AI yang intensif dalam beberapa kasus justru memicu kelelahan mental baru yang kini dikenal sebagai “AI brain fry”.

Istilah tersebut merujuk pada kondisi kelelahan kognitif akibat penggunaan atau pengawasan AI yang melampaui kapasitas mental manusia.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam laporan terbaru yang dirilis dalam Harvard Business Review.

Ketika AI menambah beban, bukan mengurangi

Secara konsep, AI dirancang untuk meningkatkan efisiensi kerja.

Baca juga: Studi Visa: Penggunaan AI Naik, Kepercayaan Jadi Hambatan

Namun dalam praktiknya, penggunaan AI sering kali menuntut manusia untuk tetap berada dalam loop pengawasan, memeriksa, mengedit, dan memastikan hasil kerja AI tetap akurat.

Dikutip dari CNN, Kamis (16/4/2026), AI brain fry didefinisikan sebagai kelelahan mental yang muncul akibat penggunaan atau pengawasan AI yang berlebihan melampaui kapasitas kognitif seseorang.

Alih-alih memberikan waktu luang, pekerja justru dihadapkan pada pola kerja baru yang ditandai dengan multitasking intensif.

Boston Consulting Group (BCG) dalam studinya mencatat, pekerjaan kini sering kali berubah menjadi aktivitas mengelola berbagai agen AI secara bersamaan, mulai dari chatbot, generator konten, hingga sistem otomatis lainnya.

KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Alih-alih meringankan pekerjaan, penggunaan AI yang intensif dalam beberapa kasus justru memicu kelelahan mental baru yang kini dikenal sebagai “AI brain fry”.

Baca juga: Elon Musk Minta Bank Besar Langganan Grok AI untuk Ikut IPO SpaceX

“Bertentangan dengan janji memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan bermakna, juggling dan multitasking justru menjadi ciri utama bekerja dengan AI,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.

Kondisi ini memicu tekanan mental yang tidak selalu terlihat, tetapi berdampak langsung pada kualitas kerja.

“Seperti ada banyak tab di otak”

Dampak dari AI brain fry tidak hanya bersifat abstrak. Para pekerja yang mengalami kondisi ini menggambarkannya sebagai sensasi “kabut mental” atau bahkan “dengungan” di kepala.

Seorang manajer teknik senior dalam studi tersebut menggambarkan pengalamannya: “Seperti ada selusin tab browser di kepala saya, semuanya berebut perhatian.”

Baca juga: Ambisi Baru Elon Musk, Siapkan Terafab untuk Produksi Chip AI

Ia juga mengaku harus membaca ulang pekerjaan berkali-kali, lebih sering meragukan keputusan sendiri, serta menjadi lebih mudah kehilangan fokus.

Kondisi ini menunjukkan bahwa beban kognitif yang dihasilkan AI tidak sekadar tambahan pekerjaan, melainkan perubahan cara otak bekerja.

Dalam studi yang dilakukan BCG yang melibatkan 1.488 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat (AS), ditemukan bahwa penggunaan AI dalam jumlah besar tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas.

Halaman:


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau