Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selama ini dipromosikan sebagai alat yang dapat memangkas beban kerja manusia.
Narasi yang berkembang menyebut AI sebagai “asisten digital” yang mampu mengambil alih tugas-tugas rutin, sehingga pekerja bisa lebih fokus pada pekerjaan strategis.
Namun, temuan terbaru justru menunjukkan sisi lain dari adopsi teknologi ini.
Baca juga: Airlangga: Ekonomi RI Tumbuh 5,39 Persen, Digitalisasi dan AI Jadi Motor Baru
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Alih-alih meringankan pekerjaan, penggunaan AI yang intensif dalam beberapa kasus justru memicu kelelahan mental baru yang kini dikenal sebagai “AI brain fry”.
Istilah tersebut merujuk pada kondisi kelelahan kognitif akibat penggunaan atau pengawasan AI yang melampaui kapasitas mental manusia.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam laporan terbaru yang dirilis dalam Harvard Business Review.
Secara konsep, AI dirancang untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Baca juga: Studi Visa: Penggunaan AI Naik, Kepercayaan Jadi Hambatan
Namun dalam praktiknya, penggunaan AI sering kali menuntut manusia untuk tetap berada dalam loop pengawasan, memeriksa, mengedit, dan memastikan hasil kerja AI tetap akurat.
Dikutip dari CNN, Kamis (16/4/2026), AI brain fry didefinisikan sebagai kelelahan mental yang muncul akibat penggunaan atau pengawasan AI yang berlebihan melampaui kapasitas kognitif seseorang.
Alih-alih memberikan waktu luang, pekerja justru dihadapkan pada pola kerja baru yang ditandai dengan multitasking intensif.
Boston Consulting Group (BCG) dalam studinya mencatat, pekerjaan kini sering kali berubah menjadi aktivitas mengelola berbagai agen AI secara bersamaan, mulai dari chatbot, generator konten, hingga sistem otomatis lainnya.
Alih-alih meringankan pekerjaan, penggunaan AI yang intensif dalam beberapa kasus justru memicu kelelahan mental baru yang kini dikenal sebagai “AI brain fry”.
Baca juga: Elon Musk Minta Bank Besar Langganan Grok AI untuk Ikut IPO SpaceX
“Bertentangan dengan janji memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan bermakna, juggling dan multitasking justru menjadi ciri utama bekerja dengan AI,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.
Kondisi ini memicu tekanan mental yang tidak selalu terlihat, tetapi berdampak langsung pada kualitas kerja.
Dampak dari AI brain fry tidak hanya bersifat abstrak. Para pekerja yang mengalami kondisi ini menggambarkannya sebagai sensasi “kabut mental” atau bahkan “dengungan” di kepala.
Seorang manajer teknik senior dalam studi tersebut menggambarkan pengalamannya: “Seperti ada selusin tab browser di kepala saya, semuanya berebut perhatian.”
Baca juga: Ambisi Baru Elon Musk, Siapkan Terafab untuk Produksi Chip AI
Ia juga mengaku harus membaca ulang pekerjaan berkali-kali, lebih sering meragukan keputusan sendiri, serta menjadi lebih mudah kehilangan fokus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa beban kognitif yang dihasilkan AI tidak sekadar tambahan pekerjaan, melainkan perubahan cara otak bekerja.
Dalam studi yang dilakukan BCG yang melibatkan 1.488 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat (AS), ditemukan bahwa penggunaan AI dalam jumlah besar tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas.