Editor
BANDUNG, KOMPAS.com - Bagi Bahar (65), barang antik bukan hanya benda lawas bernilai sejarah.
Dari usaha menjual barang antik asal Jepang, Bahar mampu membesarkan keluarga dan membiayai pendidikan tiga anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Satu di antara anaknya bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran.
Baca juga: Dianggap Sensitif di Sejumlah Daerah, Film Pesta Babi Jadi Materi Kuliah di FISIP Unej
Bahar menjadi salah satu peserta Bandung Vintage Market yang digelar di Serhaya Hall, Jalan Asia Afrika Nomor 49, Kota Bandung, Jawa Barat.
Di lapaknya, berbagai barang antik asal Jepang dipajang, mulai dari keramik, boneka tradisional, hingga replika perlengkapan bangsawan dan panglima perang Jepang.
"Sudah lama jualan barang antik ini di Cikapundung. Anak tiga. Alhamdulillah sudah pada selesai (kuliah)," kata Bahar, Senin (1/6/2026).
Bahar mengatakan, usaha menjual barang antik telah menjadi sumber utama penghasilan keluarganya selama puluhan tahun.
Meski bisnis barang antik tidak selalu tampak ramai pembeli, Bahar menyebut selalu ada orang yang datang dan membeli koleksinya.
"Mungkin kelihatannya enggak ramai, tapi ada saja yang membeli," imbuhnya.
Menurut Bahar, setiap usaha memiliki jalan rezekinya masing-masing.
Keyakinan itu membuatnya tetap menekuni jual beli barang antik hingga kini.
Pasar barang antik yang digeluti Bahar tidak hanya berasal dari Bandung.
Ia memiliki pelanggan dari berbagai daerah, terutama pedagang dan kolektor.
Sejumlah pelanggan Bahar berasal dari Jakarta, Palembang, Solo, hingga Malang.
"Kalau saya market-nya kebanyakan pedagang dan kolektor. Tiap kota ada," ujarnya.