Menanggapi temuan itu, profesor nutrisi manusia dari King's College London, Ana Rodriguez-Mateos, mengatakan bahwa penelitian tersebut semakin memperkuat bukti mengenai manfaat polifenol terhadap kesehatan.
“Polifenol telah dikaitkan dengan risiko penyakit terkait usia yang lebih rendah, termasuk penyakit jantung dan penurunan kognitif," ujarnya.
"Studi klinis menunjukkan bahwa konsumsi senyawa ini dapat menurunkan tekanan darah dan mendukung fungsi pembuluh darah dan otak seiring bertambahnya usia. Studi ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa diet kaya polifenol dapat mendukung penuaan yang lebih sehat,” tambahnya.
Baca juga: Rutin Minum Kopi? Ilmuwan Temukan Bakteri Misterius di Usus Peminum Kopi
Meski demikian, sejumlah ahli mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tetap disikapi dengan hati-hati.
Profesor nutrisi dari Universitas Reading, Gunter Kuhnle mengatakan, mengukur asupan polifenol secara akurat bukan perkara mudah.
“Tidak mengherankan bahwa diet yang kaya buah dan sayuran memiliki potensi manfaat kesehatan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pola makan berbasis nabati memang selama ini dikaitkan dengan telomer yang lebih panjang dan proses penuaan yang lebih sehat.
Namun, menurut dia, masih sulit memastikan apakah manfaat tersebut benar-benar berasal dari polifenol atau dari pola makan sehat secara keseluruhan.
“Diet yang kaya makanan nabati dikaitkan dengan telomer yang lebih panjang dan potensi penuaan yang lebih sehat," ujarnya.
"Tetapi karena makanan nabati merupakan sumber utama polifenol, sangat sulit untuk membedakan apakah penuaan yang lebih sehat itu disebabkan secara khusus oleh polifenol atau karena mengonsumsi diet sehat yang kaya buah dan sayuran,” tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang