Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka

Kompas.com, 2 Mei 2026, 08:00 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com – Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Tanggal ini dipilih bukan sekadar sebagai penanda kalender, melainkan untuk mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam membangun pendidikan yang merdeka, berkeadilan, dan berpihak kepada rakyat.

Hari Pendidikan Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal 2 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Bagi Indonesia, Hardiknas tidak hanya menjadi peringatan hari lahir seorang tokoh besar. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan pernah menjadi medan perjuangan melawan ketidakadilan kolonial dan jalan menuju kemerdekaan bangsa.

Baca juga: Mengenang 141 Tahun Dewi Sartika: Perjuangan dan Tantangan dalam Membangun Pendidikan Perempuan Indonesia

Ki Hajar Dewantara diabadikan 11 Maret 1959, sebulan sebelum meninggal. Termasuk 10 pahlawan nasional nyang juga seorang guru. - Ki Hajar Dewantara diabadikan 11 Maret 1959, sebulan sebelum meninggal. Termasuk 10 pahlawan nasional nyang juga seorang guru.

Latar belakang Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Pakualaman, Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga ningrat Keraton Pakualaman, sehingga sejak kecil memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses pendidikan bergaya Barat.

Namun, pengalaman memperoleh pendidikan justru membuat Soewardi melihat ketimpangan besar dalam sistem pendidikan kolonial Hindia Belanda. Pada masa itu, sekolah berkualitas umumnya hanya terbuka bagi anak-anak Belanda dan kalangan priyayi kaya, sementara sebagian besar rakyat pribumi tidak memiliki kesempatan yang sama.

Kondisi inilah yang kemudian membentuk kesadaran Soewardi bahwa pendidikan tidak boleh menjadi alat pemisah kelas sosial. Baginya, pendidikan harus menjadi sarana pembebasan dan jalan bagi rakyat untuk memperoleh martabat.

Baca juga: Maria Walanda Maramis: Pelopor Pendidikan dan Hak Perempuan

Dari pelajar, jurnalis, hingga pengkritik kolonialisme

Soewardi menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan sempat melanjutkan ke STOVIA, sekolah kedokteran untuk pribumi. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikannya karena alasan kesehatan.

Setelah itu, Soewardi menempuh jalan perjuangan melalui tulisan. Ia menjadi jurnalis dan penulis yang berani mengkritik kebijakan kolonial. Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah “Als ik eens Nederlander was” atau “Seandainya Aku Orang Belanda”, yang dimuat di surat kabar De Expres pada 1913.

Tulisan tersebut mengkritik rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis, sementara Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Kritik tajam itu membuat Soewardi bersama Dr. Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker, yang dikenal sebagai Tiga Serangkai, diasingkan ke Belanda pada 1913.

Pengasingan itu tidak memadamkan semangatnya. Sebaliknya, masa di Belanda menjadi periode penting bagi Soewardi untuk memperdalam pemikiran pendidikan dan memperluas pandangan tentang kemerdekaan manusia.

Baca juga: Nugroho Notosusanto: Menteri Pendidikan Soeharto dan Sejarawan Orba

Perubahan nama dan pilihan dekat dengan rakyat

Setelah kembali ke tanah air pada 1919, Soewardi semakin memantapkan perjuangannya di bidang pendidikan. 

Pada 3 Februari 1928, saat genap berusia 40 tahun menurut tarikh Jawa, Soewardi Soerjaningrat mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara sebagai bentuk kedekatannya dengan rakyat.

Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian identitas pribadi. Nama “Ki” mencerminkan gelar kehormatan bagi guru atau sesepuh, sementara “Hajar” berkaitan dengan makna pengajar. Adapun “Dewantara” mengandung makna kemuliaan.

Dengan nama baru itu, Ki Hajar Dewantara ingin menanggalkan jarak kebangsawanan dan mendekatkan dirinya kepada rakyat. Ia memilih jalur pendidikan kerakyatan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kolonial yang elitis.

Baca juga: Dampak Kebijakan Politik Etis di Pendidikan untuk Pergerakan Nasional

Para pamong (guru) yang mengajar di Taman Siswa pada tahun 1934. Posisi dari kiri ke kanan untuk pamong perempuan (duduk), adalah Nyi Surip, Nyi Sudarminto, Nyi Hajar Dewantara, Nyi Mangunsarkoro, dan Nyi Sunaryati Sukemi. Posisi dari kiri ke kanan untuk pamong laki-laki (berdiri), adalah Ki Mangun Kawoco, Ki Hajar Dewantara, Ki Suwarjo, dan Suryo Adiputro.Dok. Museum Dewantara Kirti Griya Para pamong (guru) yang mengajar di Taman Siswa pada tahun 1934. Posisi dari kiri ke kanan untuk pamong perempuan (duduk), adalah Nyi Surip, Nyi Sudarminto, Nyi Hajar Dewantara, Nyi Mangunsarkoro, dan Nyi Sunaryati Sukemi. Posisi dari kiri ke kanan untuk pamong laki-laki (berdiri), adalah Ki Mangun Kawoco, Ki Hajar Dewantara, Ki Suwarjo, dan Suryo Adiputro.

Berdirinya Taman Siswa

Puncak perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan terlihat dari pendirian Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lembaga ini awalnya bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Stori
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Stori
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Stori
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Stori
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Stori
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Stori
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Stori
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Stori
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Stori
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Stori
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Stori
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Stori
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Stori
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau