Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi

Kompas.com, 12 Mei 2026, 10:57 WIB
Serafica Gischa

Editor

Sumber trisakti

KOMPAS.com - Sore 12 Mei 1998 menjadi salah satu titik paling kelam dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Aksi damai di sekitar Universitas Trisakti, Jakarta Barat, berubah menjadi tragedi berdarah setelah tembakan aparat menewaskan empat mahasiswa.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Trisakti 1998 itu bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan civitas akademika. 

Lebih jauh, tragedi tersebut menjadi salah satu momentum penting yang mempercepat runtuhnya Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa.

Darah yang tumpah di Trisakti menjadi simbol bahwa perubahan politik di Indonesia tidak lahir dengan mudah. Reformasi dibayar dengan keberanian, pengorbanan, dan nyawa anak-anak muda yang menuntut keadilan.

Baca juga: Latar Belakang dan Kronologi Tragedi Trisakti 1998

Krisis yang membakar gelombang reformasi 

Tragedi Trisakti tidak terjadi begitu saja. Sejak pertengahan 1997, Indonesia dilanda krisis moneter Asia yang mengguncang masyarakat. 

Nilai rupiah merosot tajam, harga kebutuhan pokok meelonjak, inflasi membebani rumah tangga, dan pengangguran meluas. 

Krisis ekonomi itu dengan cepat berubah menjadi krisis politik. Kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Soeharto terus menurun, terutama karena tuntutan penghapusan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme semakin menguat. 

Mahasiswa kemudian muncul sebagai salah satu kekuatan utama gerakan reformasi. Mereka menuntut perubahan menyeluruh, mulai dari supremasi hukum, pembatasan kekuasaan, hingga pengunduran diri Soeharto dari jabatan presiden.

Di Universitas Trisakti, gelombang itu juga terasa kuat. Mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus menyuarakan aspirasi reformasi sebagai bagian dari kegelisahan nasional yang sudah tidak bisa dibendung.

Baca juga: Hendriawan Sie, Korban Tragedi Trisakti Asal Balikpapan

Aksi damai di Kampus Trisakti 

Pada 12 Mei 1998, ribuan civitas akademika Universitas Trisakti berkumpul di kawasan kampus. Aksi tersebut diawali dengan kegiatan simbolik, mulai dari penurunan bendera setengah tiang, mengheningkan cipta, hingga mimbar bebas.

Suasana awal demonstrasi berlangsung tertib. Massa kemudian bergerak dalam long march menuju Gedung DPR/MPR untuk menyampaikan tuntutan reformasi secara langsung.

Namun, langkah massa tertahan di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Aparat keamanan menghadang perjalanan mahasiswa sehingga negosiasi berlangsung cukup panjang.

Setelah hujan turun dan pembicaraan dilakukan, massa akhirnya sepakat kembali ke kampus secara tertib. Pada titik inilah keadaan yang sebelumnya relatif terkendali berubah menjadi mencekam.

Mahasiswa Universitas Trisakti berkonvoi melewati Jalan Medan Merdeka Barat menuju depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/5/2015). Aksi ini untuk memperingati 17 tahun tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menelan korban empat orang mahasiswa Trisakti saat memperjuangkan reformasi.KOMPAS.COM / RODERICK ADRIAN MOZES Mahasiswa Universitas Trisakti berkonvoi melewati Jalan Medan Merdeka Barat menuju depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/5/2015). Aksi ini untuk memperingati 17 tahun tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menelan korban empat orang mahasiswa Trisakti saat memperjuangkan reformasi.

Penembakan yang mengguncang Indonesia 

Ketika massa mahasiswa bergerak kembali menuju kampus, ketegangan meningkat. Gas air mata ditembakkan, kepanikan terjadi, dan suara tembakan mulai terdengar.

Penembakan tidak hanya terjadi di luar kampus, tetapi juga mengarah ke area Universitas Trisakti. Situasi tersebut membuat mahasiswa berlarian menyelamatkan diri, sementara sebagian lainnya berusaha menolong rekan-rekan yang terluka.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Stori
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Stori
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Stori
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Stori
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Stori
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Stori
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Stori
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Stori
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Stori
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Stori
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Stori
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Stori
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Stori
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau