Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenang 141 Tahun Dewi Sartika: Perjuangan dan Tantangan dalam Membangun Pendidikan Perempuan Indonesia

Kompas.com, 4 Desember 2025, 11:00 WIB
Intan Maharani

Penulis

KOMPAS.com - Tanggal 4 Desember menjadi momen penting untuk mengenang kelahiran Dewi Sartika, pahlawan nasional yang memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia.

Pada Kamis (4/12/2025), Raden Dewi Sartika merayakan ulang tahun ke-141. Bertepatan dengan kelahirannya, jasa-jasa bangsawan asal Bandung itu pun menjadi sorotan. 

Lahir dalam keluarga bangsawan, Dewi Sartika tumbuh di tengah tradisi yang membatasi peran perempuan. Kala itu, pendidikan formal untuk perempuan sangat terbatas. 

Sejak kecil hingga dewasa, ia melihat para wanita dalam keluarga besarnya fokus pada urusan rumah tangga. Namun, ia percaya bahwa pendidikan untuk wanita lebih dari itu. 

Dewi Sartika pun tergerak untuk membangun sekolah khusus para istri dan menularkan semangat belajar kepada perempuan-perempuan di sekitarnya.

Lantas, bagaimana perjalanan hidup dan perjuangan Dewi Sartika dalam membangun pendidikan untuk perempuan?

Baca juga: Dewi Sartika, Tokoh Perempuan Indonesia di Bidang Pendidikan

Keluarga menjunjung tinggi pendidikan

Dewi Sartika dibesarkan dalam keluarga yang menekankan pentingnya pendidikan. Ayahnya, Raden Rangga Somanagara, seorang pejabat di pemerintahan kolonial, memiliki pandangan lebih progresif terhadap pendidikan, khususnya untuk anak-anak perempuan. 

Dewi dan saudara-saudaranya mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah Belanda, Eerste Klasse Inlandsche School. Kala itu, sekolah hanya untuk anak-anak ningrat dan Belanda.

Sehingga Dewi Sartika menuntut ilmu bersama dengan anak-anak Hindia Belanda, Indo Belanda, dan keturunan bangsawan lainnya. 

Meskipun demikian, Dewi Sartika merasa bahwa pendidikan untuk perempuan harus lebih dari sekadar keterampilan rumah tangga atau pelajaran agama. 

Ia melihat bahwa perempuan perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup yang lebih luas.

Baca juga: Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan

Tantangan sosial yang dihadapi

Pada 1893, kehidupan Dewi Sartika berubah drastis setelah ayahnya diasingkan. 

Raden Rangga terlibat dalam sebuah peristiwa yang menyebabkan pengasingannya ke Ternate setelah dituduh terlibat dalam percakapan berbahaya terhadap pejabat kolonial. 

Akibatnya, keluarga Dewi Sartika harus pindah dan ia ditempatkan bersama pamannya di Cicalengka.

Di rumah pamannya, Dewi Sartika mengalami perlakuan yang kurang baik. Ia diperlakukan seperti pembantu, karena pamannya melihat statusnya sebagai anak dari keluarga yang "tercemar." 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Stori
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Stori
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Stori
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Stori
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Stori
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Stori
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Stori
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Stori
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Stori
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Stori
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Stori
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Stori
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Stori
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau