Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Respons Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme di Bidang Pendidikan

Kompas.com, 5 Agustus 2024, 23:30 WIB
Ini Tanjung Tani,
Widya Lestari Ningsih

Tim Redaksi

Sumber Kompas.com

KOMPAS.com - Salah satu dampak kolonialisme dan imperialisme di bidang pendidikan adalah didirikannya lembaga pendidikan formal ala Barat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Pendidikan menjadi salah satu program politik etis atau politik balas budi Belanda yang mulai diterapkan pada 1901.

Meskipun politik etis membuat sebagian kaum bumi putra dapat bersekolah, nyatanya juga terjadi diskriminasi.

Belanda pada dasarnya menghambat lahirnya sekolah bagi pribumi yang setaraf dengan sekolah untuk keturunan bangsa Eropa.

Hal itu karena pendidikan pada zaman kolonial hadir bukan untuk mencerdaskan rakyat, tetapi demi kepentingan Belanda sendiri yang ingin menciptakan tenaga kerja yang dapat dibayar murah.

Pada akhirnya, muncul respons bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme di bidang pendidikan, khususnya dari golongan-golongan terpelajar di Indonesia yang diuntungkan dari program pendidikan politik etis.

Baca juga: Ciri-ciri Pendidikan pada Masa Kolonial Belanda

Respons bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia muncul dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah berdirinya lembaga pendidikan Indonesische-Netherland School (INS) Kayutanam dan Taman Siswa.

Lembaga pendidikan yang didirikan oleh kaum bumi putra itu untuk menyaingi sekolah-sekolah Belanda.

Taman Siswa

National Onderwijs Instituut Taman Siswa atau dikenal sebagai Taman Siswa, merupakan lembaga pendidikan yang berupaya membangun konsep pendidikan nasional di masa kolonial.

Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara, pada 3 Juli 1922, di Yogyakarta.

Berdirinya Taman Siswa merupakan bentuk perlawanan Ki Hajar Dewantara terhadap diskriminasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial.

Program pendidikan politik etis sangat diskriminatif karena rakyat jelata atau golongan pribumi bawah tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi, dan hanya bisa bersekolah pada tingkat dasar saja (setara SD).

Baca juga: Peran Wanita Taman Siswa dalam Melawan Ordonansi Sekolah Liar

Hanya golongan priayi yang dapat mengenyam pendidikan hingga tingkat lanjut, bahkan juga diberikan akses untuk mengambil pendidikan tinggi di Eropa.

Kondisi yang demikian membuat Ki Hajar Dewantara membangun Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial.

Mengetahui hal tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda merasa khawatir dengan berdirinya Taman Siswa.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Stori
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Stori
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Stori
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Stori
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Stori
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Stori
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Stori
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Stori
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Stori
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Stori
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Stori
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Stori
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Stori
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau