KOMPAS.com - Salah satu dampak kolonialisme dan imperialisme di bidang pendidikan adalah didirikannya lembaga pendidikan formal ala Barat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Pendidikan menjadi salah satu program politik etis atau politik balas budi Belanda yang mulai diterapkan pada 1901.
Meskipun politik etis membuat sebagian kaum bumi putra dapat bersekolah, nyatanya juga terjadi diskriminasi.
Belanda pada dasarnya menghambat lahirnya sekolah bagi pribumi yang setaraf dengan sekolah untuk keturunan bangsa Eropa.
Hal itu karena pendidikan pada zaman kolonial hadir bukan untuk mencerdaskan rakyat, tetapi demi kepentingan Belanda sendiri yang ingin menciptakan tenaga kerja yang dapat dibayar murah.
Pada akhirnya, muncul respons bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme di bidang pendidikan, khususnya dari golongan-golongan terpelajar di Indonesia yang diuntungkan dari program pendidikan politik etis.
Baca juga: Ciri-ciri Pendidikan pada Masa Kolonial Belanda
Respons bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia muncul dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah berdirinya lembaga pendidikan Indonesische-Netherland School (INS) Kayutanam dan Taman Siswa.
Lembaga pendidikan yang didirikan oleh kaum bumi putra itu untuk menyaingi sekolah-sekolah Belanda.
National Onderwijs Instituut Taman Siswa atau dikenal sebagai Taman Siswa, merupakan lembaga pendidikan yang berupaya membangun konsep pendidikan nasional di masa kolonial.
Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara, pada 3 Juli 1922, di Yogyakarta.
Berdirinya Taman Siswa merupakan bentuk perlawanan Ki Hajar Dewantara terhadap diskriminasi pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial.
Program pendidikan politik etis sangat diskriminatif karena rakyat jelata atau golongan pribumi bawah tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi, dan hanya bisa bersekolah pada tingkat dasar saja (setara SD).
Baca juga: Peran Wanita Taman Siswa dalam Melawan Ordonansi Sekolah Liar
Hanya golongan priayi yang dapat mengenyam pendidikan hingga tingkat lanjut, bahkan juga diberikan akses untuk mengambil pendidikan tinggi di Eropa.
Kondisi yang demikian membuat Ki Hajar Dewantara membangun Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial.
Mengetahui hal tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda merasa khawatir dengan berdirinya Taman Siswa.