Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik Laut China Selatan dan Upaya Indonesia Menjaga Kedaulatan Laut Natuna Utara

Kompas.com, 2 April 2026, 12:00 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

Catatan konflik negara ASEAN vs China di LCS

Setelah Perang Vietnam berakhir dan penarikan militer AS, pasukan China menduduki bagian barat Kepulauan Paracer, menancapkan bendera di beberapa pulau, dan merebutnya dari pasukan Vietnam Selatan pada 1974.

Pasukan Vietnam melarikan diri ke selatan dan mendirikan pendudukan permanen pertama di Kepulauan Spratly. 

Sementara, Beijing membangun instalasi militer, termasuk landasan pacu dan pelabuhan di Pulau Woody, pulau terbesar di Paracel. 

Setelah jatuhnya Saigon dan penyatuan kembali Vietnam, negara itu mempertahankan klaim Vietnam Selatan sebelumnya atas Spratly dan Paracel. 

Baca juga: AS Kecam Manuver Berbahaya Angkatan Laut China di Laut China Selatan

China dan Vietnam kembali terlibat bentrok di LCS pada 1988 di Karang Johnson, menandai konflik bersenjata pertama atas Kepulauan Spratly.

Angkatan laut China menenggelamkan tiga kapal Vietnam, menewaskan 74 pelaut dalam salah satu konfrontasi militer paling serius di Laut China Selatan.  

Insiden ini terjadi di tengah reformasi ekonomi Deng Xiaoping pada 1980-an, ketika aktivitas ekonomi China mulai bergeser ke provinsi-provinsi pesisir, dan sumber daya maritim menjadi semakin berharga karena hidrokarbon dibutuhkan untuk mempertahankan pertumbuhan.

Pihak lain yang mengeklaim Laut China Selatan secara besar-besaran adalah Filipina. Negara iru yang menjadikan kedekatan geografisnya dengan Kepulauan Spratly sebagai dasar utama klaim atas sebagian gugusan pulau tersebut.

Baik Filipina maupun China juga mengklaim Scarborough Shoal yang berjarak sedikit lebih dari 100 mil (160 km) dari Filipina dan 500 mil dari China.

Baca juga: Pasca Joint Statement Indonesia-China, Akademisi Ingatkan Indonesia Tegas Jaga Kedaulatan Laut China Selatan

Malaysia dan Brunei Darussalam mengeklaim wilayah di Laut China Selatan yang menurut mereka termasuk dalam zona ekonomi eksklusifnya, sebagaimana didefinisikan oleh UNCLOS.

Brunei tidak mengeklaim satu pun pulau yang disengketakan, tetapi Malaysia mengeklaim sejumlah kecil pulau di Kepulauan Spratly.

Karenanya, Rachmat melihat bahwa konflik di Laut China Selatan lebih didorong oleh kepentingan politik, ekonomi, dan militer, alih-alih faktor sejarah. 

Menurutnya, nilai strategis kawasan ini sangat besar, mulai dari jalur perdagangan global, sumber daya alam, hingga proyeksi kekuatan militer. 

"Tidak mengherankan, banyak negara mengeklaim wilayah Laut China Selatan karena kepentingan mereka yang saling 'bertabrakan' untuk tujuan yang serupa," jelas dia.

Baca juga: PM Malaysia Anwar Ibrahim: Jangan Hanya Menyalahkan China dalam Ketegangan Laut China Selatan

Filipina dan bayang-bayang China di LCS

Beting Scarborough, wilayah yang diperebutkan China dan Filipina di Laut China Selatan, saat difoto pada 15 Februari 2024.AFP/JAM STA ROSA Beting Scarborough, wilayah yang diperebutkan China dan Filipina di Laut China Selatan, saat difoto pada 15 Februari 2024.

Bentrokan pertama militer China dan Filipina terjadi pada 1996, ketika kapal angkatan laut dari kedua negara saling serang di dekat Pulau Capones di Mischief Reef, bagian dari gugusan Kepulauan Spratly yang diklaim oleh Manila.

Insiden ini menandai pertama kalinya China terlibat konfrontasi militer dengan negara Asia Tenggara selain Vietnam.

Konflik China dan Filipina di Laut China Selatan pun semakin sering terjadi dalam beberapa tahun berikutnya. 

Untuk menegaskan klaimnya, pemerintah Filipina mengganti nama Laut China Selatan dengan Laut Filipina Barat dalam semua komunikasi resmi dan pada Oktober 2012.

Hubungan diplomatik antara Manila dan Beijing semakin memburuk setelah Filipina mengirimkan kapal perang untuk menghadapi kapal-kapal nelayan China di Scarborough Shoal, sebelah utara Kepulauan Spratly pada 2012. 

China kemudian mengirimkan kapal-kapal pengintainya untuk melindungi nelayannya. Berbagai upaya bilateral telah dilakukan untuk meredakan situasi, tetapi menemui jalan buntu.

Baca juga: Menlu Sugiono Singgung Konflik Laut China Selatan dan Sikap Indonesia ke Depan

Sengketa China-Filipina di Pengadilan Atbiterasi

Pada 2013, Filipina memulai kasus arbitrase internasional berdasarkan UNCLOS terkait klaim kedaulatan China atas Kepulauan Spratly dan Scarborough Shoal.

Akan tetapi, China menolak proses tersebut, sehingga memaksa pengadilan dan arbitrasenya untuk berlanjut tanpa partisipasinya. 

Kasus ini menandai pertama kalinya suatu negara mengajukan klaim terhadap China berdasarkan UNCLOS terkait masalah tersebut.

Pengadilan Arbitrase Den Haag pada 2016 pun memutuskan untuk mendukung Filipina dalam kasus sengketa di Laut China.

Baca juga: Kapal Selam Rusia Tiba di Laut China Selatan, Filipina Khawatir

Majelis hakim menyatakan, klaim nine-dash line milik China tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Dengan demikian, Beijing dianggap tidak memiliki hak historis atas sumber daya di Laut China Selatan.

Selain itu, nine-dash line tidak memenuhi persyaratan UNCLOS untuk membentuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut bagi China.

Pengadilan mengatakan Beijing melanggar kewajibannya sebagai anggota UNCLOS, dengan mengatakan bahwa kegiatan pembangunan pulau-pulau tersebut merusak lingkungan laut dan praktik kapal yang tidak aman meningkatkan risiko navigasi. 

Menindaklanjuti putusan itu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan pembentukan zona larangan penangkapan ikan dan suaka laut di sebuah laguna di Scarborough Shoal.

Baca juga: Menlu Tegaskan Tak Ada Pergeseran Sikap Terkait Kedaulatan RI di Laut China Selatan

Pada Selasa (31/3/2026), Filipina mengatakan menyatakan akan mengganti nama lebih dari 100 fitur pulau dalam upaya untuk memperkuat "kedaulatan" mereka di Laut China Selatan yang disengketakan, termasuk wilayah yang diklaim oleh China .

"Lebih dari 100 fitur Gugusan Pulau Kalayaan (KIG) akan memiliki nama-nama Filipina yang memperkuat administrasi dan tata kelola, serta kedaulatan, di Palawan dan Laut Filipina Barat," kata istana kepresidenan dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.

Perintah eksekutif Presiden Ferdinand Marcos itu mengarahkan semua lembaga pemerintah dan sekolah untuk mulai menggunakan nama-nama baru.

Selain itu, keputusan tersebut juga memerintahkan badan pemetaan negara untuk menerbitkan bagan dan peta terbaru untuk wilayah tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Terkini Lainnya
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Internasional
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Internasional
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Internasional
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
Global
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Global
'Jurassic Park' Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
"Jurassic Park" Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
Global
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Global
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Internasional
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Internasional
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
Internasional
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Global
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Internasional
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Internasional
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Internasional
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Konflik Laut China Selatan dan Upaya Indonesia Menjaga Kedaulatan Laut Natuna Utara
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat