Penulis
STOCKHOLM, KOMPAS.com - Rekonstruksi ekosistem purba berhasil mengungkap wajah Swedia selatan 200 juta tahun yang lalu.
Melalui penelitian paleontologi terbaru, daratan yang kini menjadi bagian dari wilayah Skandinavia tersebut pernah ditutupi oleh vegetasi sangat subur, menjadi rumah bagi buaya dan dinosaurus yang berkeliaran bebas.
Upaya menghidupkan kembali ekosistem era Jurassic ini diinisiasi oleh ahli paleontologi Vivi Vajda bersama tim penelitinya.
Baca juga: Dilarang UNESCO, Pemerintah Indonesia Ngotot Lanjutkan Proyek Jurassic Park di Taman Nasional Komodo
Proyek "Jurassic Park" ini bermula dari keresahan Vajda terkait minimnya literatur ilmiah visual mengenai sejarah alam wilayah tersebut.
"Saya benar-benar merasa bahwa kita kekurangan buku dengan ilustrasi yang benar-benar menunjukkan secara ilmiah, dengan dasar ilmiah yang sangat kuat, seperti apa rupa Swedia 200 hingga 100 juta tahun yang lalu selama periode Jurassic misalnya," jelas Vajda saat menerima kunjungan AFP di kantornya, dikutip pada 20 Mei 2026.
Ruang kerja Vajda, yang terletak di salah satu sayap Museum Sejarah Alam di Stockholm, dipenuhi deretan buku dan sampel fosil.
Di balik mikroskopnya, ia memeriksa spesimen yang dikumpulkan dari Provinsi Skane di Swedia selatan, lalu memproyeksikannya ke dinding menggunakan proyektor overhead.
"Ini sampel serbuk sari yang saya kumpulkan di lapangan," kata Vajda sambil menunjuk butiran berbentuk bulat dan persegi panjang yang tampak seperti bintik-bintik coklat dan kuning pada layar proyeksi.
Baca juga: Dinosaurus Berleher Panjang Terbesar di Asia Tenggara Ditemukan, Bobotnya Setara 9 Gajah
Ilustrasi fosil dinosaurus PsittacosaurusFosil-fosil tersebut berhasil terawetkan dengan baik berkat retakan dalam di tanah, melindungi mereka dari hantaman berbagai zaman es yang sempat menghapus jejak-jejak purba di seluruh wilayah Swedia lainnya.
Melalui butiran serbuk sari purba yang sekilas tampak sederhana tersebut, Vajda mampu membaca struktur alam masa lampau secara mendalam.
"Saya tertarik dengan hutan seperti apa yang ada selama periode Jurassic, jadi ketika saya melihat butiran serbuk sari, saya benar-benar melihat pohonnya. Saya dapat melihat pohon dan ekosistem di depan saya," ungkapnya.
Berawal dari visi visual yang muncul di benaknya setiap kali melihat batu atau fosil selama penelitian lapangan, gagasan untuk membagikan pemandangan purba tersebut kepada masyarakat umum pun mulai terbentuk secara bertahap.
Baca juga: 16.600 Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Bolivia, Ungkap Cara Theropoda Berjalan
Vajda bersama timnya kemudian mendedikasikan diri untuk merekonstruksi seluruh ekosistem dari periode tersebut. Hasil kerja keras ini akhirnya diterbitkan dalam buku pada Oktober 2025.
Proses rekonstruksi dilakukan secara metodis, dimulai dari setiap fragmen fosil yang tersimpan dengan cermat di arsip museum—mulai dari jejak kaki, gigi, hingga cetakan daun pada batu.