
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Rawon merupakan masakan khas Jawa Timur yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan kisah dan waktu di dalamnya. Kuah hitam khas yang berasal dari kluwek mungkin terlihat sederhana, tetapi di balik itu ada cerita panjang yang seru juga untuk dikupas.
Saya menemukannya kembali saat berkeliling kota Malang bersama ibu. Sebuah perjalanan yang istimewa meskipun sederhana, karena kami jarang melakukannya sejak Ibu mulai rapuh.
Baca juga: Soto Tauto, Kuliner Khas Pekalongan yang Banyak Diburu
Saat perut bernyanyi, kami berhenti di Rawon Tessy Jalan Kawi, cabang dari rawon legendaris yang telah ada sejak 1942, Jalan Trunojoyo.
Pusat warung rawon ini berada di kawasan Stasiun Malang Kota Baru, di Jalan Trunojoyo, dekat hiruk pikuk kedatangan dan keberangkatan orang-orang dari berbagai kota.
Rawon Tessy, salah satu kuliner rawon legendaris di Malang - Dokumentasi pribadi, design by CanvaSama halnya dengan rawon itu sendiri, tempat ini juga menjadi bagian dari perjalanan.
Saya selalu ingin lagi dan lagi menikmati masakan legendaris yang ada di seputaran kota kelahiran. Meskipun tidak semua pernah saya datangi di masa kecil atau remaja, setidaknya saya mampu membawa angan kembali menyusuri lorong waktu yang tidak bisa kembali.
Baca juga: Resep Rawon untuk Sahur, Kuah Hitam Gurih dan Bumbu Meresap
Dengan menikmatinya, saya sudah bisa merasakan suasana masa lampau, masa-masa kejayaan sebuah warung kuliner. Tidak banyak kuliner yang mampu bertahan lintas generasi, dan Rawon Tessy telah menjadi salah satu yang masih konsisten.
Sejak tahun 1942, resepnya tetap dijaga. Kuah rawon yang khas berasal dari kluwek, menghadirkan warna hitam yang sering kali disalahartikan sebagai rasa yang berat. Padahal itulah keunikannya.
Rawon Tessy memiliki karakter yang lebih ringan atau light, tidak terlalu berminyak, dan terasa bersih di lidah.
Ibu bernostalgia sambil menikmati sepiring rawon - Dokumentasi pribadi Nama Tessy bukan karena pemiliknya adalah Tessy Srimulat. Setahu saya sang pemilik dulu biasa berada di warung utama dekat stasiun, mempunyai wajah mirip Tessy Srimulat, demikian juga aksesoris yang dikenakannya; cincin akik, kalung, juga ikat pinggangnya.
Baca juga: 8 Kuliner Legendaris Purbalingga: Tempe Mendoan hingga Es Durian Langganan SBY
Saat pesanan datang, aroma khas rawon langsung tercium. Saat saya sesap dalam, kuahnya terasa lembut, dengan rasa gurih yang tidak berlebihan.
Tekstur dagingnya empuk, mudah dipisahkan, dan menyerap bumbu dengan baik. Rasanya seperti makanan rumahan. Nendang!
Bagi saya, pengalaman menikmati rawon di sini tidak lengkap tanpa lauk pendamping. Seperti biasa di atas meja, tersaji tempe goreng dan mendol yang membuat rawon menjadi kaya akan rasa.
Tempe gorengnya renyah di luar, tetap lembut di dalam. Gurihnya pas, tidak berlebihan. Sementara mendol, dengan teksturnya yang padat dan sedikit kasar, sungguh menghadirkan rasa khas yang dalam.
Lauk tempe dan mendol, teman serasi menikmati rawon - Dokumentasi pribadi Bumbunya meresap, sedikit pedas, dan aroma kencur yang samar, membuat setiap gigitan terasa “hidup”.
Andaikan ada telur asin, pasti lebih klop dan maknyus, sayangnya saat itu sudah habis. Perpaduannya sederhana, tetapi saling melengkapi.
Namun yang membuat pengalaman itu terasa lebih dalam bukan hanya makanannya, melainkan kebersamaan yang langka.
Saya duduk satu meja dengan ibu, menikmati rawon di tengah perjalanan kami mengelilingi kota Malang. Kota yang sama, dengan jalan yang mungkin sudah sering kami lewati, tetapi terasa berbeda ketika kembali dinikmati bersama.
Ada percakapan sederhana dan untaian memori yang kami panggil kembali. Saat-saat bersama Bapak yang juga gemar jalan dan jajan bersama di momen liburan.
Di luar sana, mungkin banyak makanan yang lebih modern, lebih menarik secara visual, atau lebih viral. Tetapi tempat seperti Rawon Tessy mempunyai nilai berbeda, tetap konsisten pada rasa dan menjaganya agar mampu membawa siapa saja untuk kembali.
Suasana warung yang mampu membawa kembali ke masa lalu - Dokumentasi pribadi Ketika nasi rawon hampir habis, saya menyadari bahwa yang tersisa bukan hanya rasa, ada kenangan yang tertambat.
Kenangan kota, waktu, dan ibu yang duduk bersama saya menikmati hal sederhana yang mungkin suatu hari akan sangat saya rindukan.
Bagi saya pribadi inilah letak keistimewaan sebuah kuliner legendaris, yang tak hanya bertahan karena rasa, tetapi lebih pada terus menjadi bagian dari cerita hidup orang-orang yang singgah dan menikmatinya.
Salam Lestari! (Yy)
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menyesap Rasa dalam Sepiring Rawon Tessy yang Eksis Sejak 1942"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang