Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalan-Jalan ke Lembur Pakuan, Daerah Rumah Dedi Mulyadi yang Asri

Kompas.com, 25 Mei 2026, 21:54 WIB
Dani Julius Zebua,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

SUBANG, KOMPAS.com - Siapa yang tak kenal Lembur Pakuan? Daerah di Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini dikenal sebagai salah satu daerah kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Namun, Lembur Pakuan sesungguhnya punya daya tarik lain, termasuk hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang dan permukiman warga yang asri.

Baca juga:

Jalur pedestrian membelah area persawahan dengan dangau-dangau beratap ijuk berdiri di tepian, menghubungkan rumah-rumah warga yang tertata rapi di tengah suasana pedesaan yang tenang.

Di beberapa titik, ada embung dan gemericik aliran sungai yang mengairi sawah memperkuat kesan asri kawasan ini.

Lembur Pakuan di Subang tak hanya dikenal sebagai daerah rumah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tapi juga suasana permukiman yang asri.DOKUMENTASI KOMINFO KP Lembur Pakuan di Subang tak hanya dikenal sebagai daerah rumah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tapi juga suasana permukiman yang asri.

Dari kejauhan, suasana kampung sudah terasa Sunda banget. Tidak hanya dari bentang alamnya, tapi juga dari detail ruang yang dibangun. Misalnya dari bangunan, ruang terbuka, hingga elemen visual seperti gapura yang menyambut setiap pengunjung.

Gapura-gapura itu memadukan arsitektur modern dengan ornamen budaya, diperkaya elemen bambu dan kain hitam-putih yang sarat makna filosofi.

Setelah melewati banyak gapura inilah, pengunjung bisa memilih menuju lanskap sawah, ruang budaya, keramahan warga, atau titik-titik sejarah yang menyatu dalam satu kawasan.

Baca juga:

Wisata ke Lembur Pakuan, rumah Gubernur Dedi Mulyadi

Tawarkan aktivitas wisata yang beragam

Lembur Pakuan di Subang tak hanya dikenal sebagai daerah rumah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tapi juga suasana permukiman yang asri.DOKUMENTASI KOMINFO KP Lembur Pakuan di Subang tak hanya dikenal sebagai daerah rumah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tapi juga suasana permukiman yang asri.

Di balik suasana kampung yang tenang itu, tumbuh sebagai ruang yang ramai diperbincangkan publik.

Aktivitas wisatawan pun beragam. Ada yang menyusuri jalur pedestrian dan jalan kampung, berhenti di beberapa titik untuk mengamati aktivitas warga, rehat di dangaunya, atau menyicipi jajanan yang dijual di depan rumah penduduk.

Di salah satu sudut perjalanan itu, Sri Budi Utami, seorang warga Kulon Progo, ikut merasakan langsung suasana kawasan dan menikmati bagaimana sebuah kampung dikelola tanpa kehilangan karakter aslinya.

“Di mana sebuah tempat sederhana, tapi dikelola baik sehingga jadi obyek wisata yang bisa menjaga kearifan lokal," kata Sri Budi, Minggu (24/5/2026).

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kulon Progo ini terkesan akan kekuatan utama Lembur Pakuan, yang tidak hanya pada estetika, tapi juga pada cara ruang desa dipertahankan sebagai ruang hidup masyarakat. 

Wisata hadir bukan sebagai tujuan utama, melainkan dampak dari penataan berbasis budaya.

Plt Camat Dawuan, Hasan Sahroni menuturkan, kawasan ini merupakan perwujudan filosofi tata ruang “lembur (desa) diurus, kota ditata”.

“Konsepnya kembali ke budaya kita. Jawa Barat itu istimewa karena kampungnya diurus dan kotanya ditata,” kata Hasan.

Jejak budaya ditemui tidak cuma pada bangunan fisik dan ornamen, tapi aktivitas kesenian tradisional seperti Tutunggulan dan Silat Panglipur yang rutin ditampilkan dalam kegiatan warga.

Warga jadi pemandu wisata di Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.KOMPAS.COM/DANI JULIUS Warga jadi pemandu wisata di Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Di kawasan ini juga terdapat kelompok Badega, warga yang melayani yang menjadi simbol kebersamaan warga dalam menjaga lingkungan dan harmoni kampung. Termasuk di dalam badega itu adalah pesona pramuwisata perempuan berkebaya dan laki-laki dengan busana pangsi setelan hitam polos baju dan celana longgar.  

Dari titik budaya, perjalanan berlanjut ke jejak sejarah. Eksplor Lembur Pakuan bisa menemukan Taman Bunisora, yang merujuk pada Raja Bunisora, tokoh penting dalam masa transisi Kerajaan Sunda Pajajaran setelah tragedi Perang Bubat pada abad ke-14.

Setelah wafat Prabu Linggabuana, pewaris takhta Wastu Kancana masih kecil. Dalam situasi itu, Bunisora mengambil peran pemangku kekuasaan sementara untuk menjaga stabilitas kerajaan hingga tongkat kepemimpinan kembali siap dilanjutkan.

Kisah tersebut saat ini dihadirkan kembali sebagai bagian dari ruang edukasi sejarah dan penguatan identitas budaya Sunda di Lembur Pakuan. Yang paling penting adalah budaya, sejarah, dan kearifan lokal tetap hidup di tengah masyarakat.

"Kita mengembangkan budaya kita, dibumikan oleh teman-teman dari media, saya yakin pasti efeknya juga berdampak tadi pada kunjungan, wisata, dan sebagainya,” kata Hasan.

Baca juga: Bandung Jadi Kota Termacet, Dedi Mulyadi Beberkan Upaya Mengatasinya

Halaman:


Terkini Lainnya
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Keluhan Wisatawan Ada dugaan Pungli di Pantai Watulawang, Gunungkidul langsung ditindaklanjuti
Keluhan Wisatawan Ada dugaan Pungli di Pantai Watulawang, Gunungkidul langsung ditindaklanjuti
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau