Editor
KOMPAS.com - Penamaan Bale Jaya Dewata sebagai nama baru eks Gedung Karesidenan Cirebon memantik polemik publik. Gedung yang kini difungsikan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat itu diberi nama oleh Dedi Mulyadi, dengan merujuk pada figur besar dalam sejarah Sunda: Prabu Siliwangi.
Namun, alih-alih diterima sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, keputusan ini justru memantik polemik. Sejumlah budayawan Cirebon menyuarakan keberatan, mempertanyakan relevansi sejarah hingga proses pengambilan keputusan yang dinilai tidak partisipatif.
"Jaya Dewata itu kan nama dari Prabu Siliwangi. Nah, Siliwangi itu kan nama leluhurnya Cirebon," kata Dedi Mulyadi saat diwawancarai di kantor Gubernur Bale Jaya Dewata, Rabu (7/5/2025).
"Sekarang gedungnya bersih, terawat. Tidak hanya gedungnya, jalannya juga sudah mulai bersih. Mari kita sama-sama kritis terhadap setiap hal, tapi kritiknya harus objektif. Jangan mengkritisi hal yang sebenarnya baik tapi diributin," sambungnya.
Baca juga: Dedi Mulyadi Ubah Nama Gedung Negara Jadi Jaya Dewata, Budayawan: Tak Sesuai Histori Lokal
Kantor Gubernur Jawa Barat Wilayah Karisidenan Kacirebonan, bernama Bale Jaya Dewata di jalan Siliwangi Kota Cirebon, dikritisi sejumlah pemerhati budaya, pada Kamis (24/4/2025) siang.Nama Jaya Dewata merupakan salah satu nama dari Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Sunda yang dikenal dalam banyak sumber lisan maupun tulisan sebagai pemimpin bijaksana dan kuat pada abad ke-15. Dalam tradisi Sunda, Prabu Siliwangi dihormati sebagai tokoh sentral dalam sejarah Tatar Pasundan.
Pemerhati sejarah Cirebon, Jajat Sudrajat, menyebut bahwa Jaya Dewata memang memiliki keterkaitan genealogis dengan para pendiri Cirebon, meskipun secara geografis dan historis tidak pernah tercatat hadir langsung di wilayah tersebut.
“Sejarahnya Jaya Dewata, memang betul setelah beliau menikah dengan Nyimas Ayu Subang Kranjang, kemudian punya putra tiga, yang pertama Walang Sungsang, Rara Santang dan Kian Santang,” ujar Jajat saat diwawancarai media, Kamis (24/4/2025).
Dijelaskannya, Walang Sungsang kelak dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana, sedangkan Ratu Rara Santang dikenal sebagai Syarifah Mudaim, ibunda dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.
Baca juga: PHRI Teriak Hotel Sepi, Dedi Mulyadi Bantah karena Larangan Study Tour
Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat memberikan keterangan usai membuka kegiatan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrembang) Provinsi Jawa Barat di halaman Gedung Bale Jaya Dewata Kota Cirebon pada Rabu (7/5/2025) petangMeski punya garis keturunan ke Cirebon, penamaan Bale Jaya Dewata dianggap tidak cukup merepresentasikan sejarah lokal secara langsung.
Jajat mengungkapkan kekhawatirannya bahwa penggunaan nama Jaya Dewata dapat menimbulkan kebingungan historis.
Ia menjelaskan bahwa Jaya Dewata adalah nama muda dari Raden Pamanah Rasa, yang kemudian dinobatkan menjadi Prabu Siliwangi, tokoh yang menurutnya belum pernah ke Cirebon.
"Prabu Siliwangi belum pernah menginjakkan kaki di Cirebon sehingga penamaan tersebut kurang tepat," ucap Jajat.
Baca juga: Respons Kebijakan Dedi Mulyadi, Kemenpar: Study Tour Terkesan Jalan-jalan
Sejumlah budayawan Cirebon juga menyatakan keberatannya karena tidak dilibatkan dalam proses penamaan gedung yang memiliki nilai historis tinggi tersebut.
Jajat mengaku terkejut saat mengetahui nama gedung diubah tanpa konsultasi dengan tokoh masyarakat setempat.
"Loh saya kaget, ini penamaan ini dasarnya apa? Kok tidak ada satu pun orang Cirebon yang diajak bicara?" kata Jajat pada Kamis (24/4/2025).
Menurutnya, nama tokoh lokal seperti Panembahan Losari atau Pangeran Sucimanah lebih relevan jika ingin menggambarkan identitas Cirebon. Ia menekankan bahwa yang dipersoalkan bukanlah perubahan fungsi gedung, melainkan keputusan sepihak atas penamaannya.
Tokoh budaya lainnya, Chaidir Susilaningrat, menilai bahwa penamaan gedung bersejarah semestinya melalui musyawarah dengan para pemangku kebudayaan.
Ia menambahkan bahwa gedung tersebut memiliki nilai sejarah penting, karena dibangun sejak tahun 1808 dan pernah menjadi markas pasukan Belanda.
Untuk merespons polemik ini, para budayawan berencana menggelar dialog terbuka. Mereka berharap ada ruang diskusi untuk menyamakan persepsi dan menemukan titik temu. (Penulis Kontributor Cirebon Kompas.com: Muhamad Syahri Romdhon)
Baca juga: Kenapa Dedi Mulyadi Bongkar Hibisc Fantasy Puncak?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang