Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siapa Jaya Dewata yang Namanya Dipilih Dedi Mulyadi dan Tuai Polemik Gedung di Cirebon?

Kompas.com, 9 Mei 2025, 10:17 WIB
Yoga Sukmana

Editor

KOMPAS.com - Penamaan Bale Jaya Dewata sebagai nama baru eks Gedung Karesidenan Cirebon memantik polemik publik. Gedung yang kini difungsikan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat itu diberi nama oleh Dedi Mulyadi, dengan merujuk pada figur besar dalam sejarah Sunda: Prabu Siliwangi.

Namun, alih-alih diterima sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, keputusan ini justru memantik polemik. Sejumlah budayawan Cirebon menyuarakan keberatan, mempertanyakan relevansi sejarah hingga proses pengambilan keputusan yang dinilai tidak partisipatif.

"Jaya Dewata itu kan nama dari Prabu Siliwangi. Nah, Siliwangi itu kan nama leluhurnya Cirebon," kata Dedi Mulyadi saat diwawancarai di kantor Gubernur Bale Jaya Dewata, Rabu (7/5/2025).

"Sekarang gedungnya bersih, terawat. Tidak hanya gedungnya, jalannya juga sudah mulai bersih. Mari kita sama-sama kritis terhadap setiap hal, tapi kritiknya harus objektif. Jangan mengkritisi hal yang sebenarnya baik tapi diributin," sambungnya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ubah Nama Gedung Negara Jadi Jaya Dewata, Budayawan: Tak Sesuai Histori Lokal

Kantor Gubernur Jawa Barat Wilayah Karisidenan Kacirebonan, bernama Bale Jaya Dewata di jalan Siliwangi Kota Cirebon, dikritisi sejumlah pemerhati budaya, pada Kamis (24/4/2025) siang.KOMPASA.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Kantor Gubernur Jawa Barat Wilayah Karisidenan Kacirebonan, bernama Bale Jaya Dewata di jalan Siliwangi Kota Cirebon, dikritisi sejumlah pemerhati budaya, pada Kamis (24/4/2025) siang.

Siapa Jaya Dewata?

Nama Jaya Dewata merupakan salah satu nama dari Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Sunda yang dikenal dalam banyak sumber lisan maupun tulisan sebagai pemimpin bijaksana dan kuat pada abad ke-15. Dalam tradisi Sunda, Prabu Siliwangi dihormati sebagai tokoh sentral dalam sejarah Tatar Pasundan.

Pemerhati sejarah Cirebon, Jajat Sudrajat, menyebut bahwa Jaya Dewata memang memiliki keterkaitan genealogis dengan para pendiri Cirebon, meskipun secara geografis dan historis tidak pernah tercatat hadir langsung di wilayah tersebut.

“Sejarahnya Jaya Dewata, memang betul setelah beliau menikah dengan Nyimas Ayu Subang Kranjang, kemudian punya putra tiga, yang pertama Walang Sungsang, Rara Santang dan Kian Santang,” ujar Jajat saat diwawancarai media, Kamis (24/4/2025).

Dijelaskannya, Walang Sungsang kelak dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana, sedangkan Ratu Rara Santang dikenal sebagai Syarifah Mudaim, ibunda dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Baca juga: PHRI Teriak Hotel Sepi, Dedi Mulyadi Bantah karena Larangan Study Tour

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat memberikan keterangan usai membuka kegiatan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrembang) Provinsi Jawa Barat di halaman Gedung Bale Jaya Dewata Kota Cirebon pada Rabu (7/5/2025) petangKOMPAS.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat memberikan keterangan usai membuka kegiatan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrembang) Provinsi Jawa Barat di halaman Gedung Bale Jaya Dewata Kota Cirebon pada Rabu (7/5/2025) petang

Kenapa Jadi Polemik?

Meski punya garis keturunan ke Cirebon, penamaan Bale Jaya Dewata dianggap tidak cukup merepresentasikan sejarah lokal secara langsung.

Jajat mengungkapkan kekhawatirannya bahwa penggunaan nama Jaya Dewata dapat menimbulkan kebingungan historis.

Ia menjelaskan bahwa Jaya Dewata adalah nama muda dari Raden Pamanah Rasa, yang kemudian dinobatkan menjadi Prabu Siliwangi, tokoh yang menurutnya belum pernah ke Cirebon.

"Prabu Siliwangi belum pernah menginjakkan kaki di Cirebon sehingga penamaan tersebut kurang tepat," ucap Jajat.

Baca juga: Respons Kebijakan Dedi Mulyadi, Kemenpar: Study Tour Terkesan Jalan-jalan

Sejumlah budayawan Cirebon juga menyatakan keberatannya karena tidak dilibatkan dalam proses penamaan gedung yang memiliki nilai historis tinggi tersebut.

Jajat mengaku terkejut saat mengetahui nama gedung diubah tanpa konsultasi dengan tokoh masyarakat setempat.

"Loh saya kaget, ini penamaan ini dasarnya apa? Kok tidak ada satu pun orang Cirebon yang diajak bicara?" kata Jajat pada Kamis (24/4/2025).

Menurutnya, nama tokoh lokal seperti Panembahan Losari atau Pangeran Sucimanah lebih relevan jika ingin menggambarkan identitas Cirebon. Ia menekankan bahwa yang dipersoalkan bukanlah perubahan fungsi gedung, melainkan keputusan sepihak atas penamaannya.

Tokoh budaya lainnya, Chaidir Susilaningrat, menilai bahwa penamaan gedung bersejarah semestinya melalui musyawarah dengan para pemangku kebudayaan.

Ia menambahkan bahwa gedung tersebut memiliki nilai sejarah penting, karena dibangun sejak tahun 1808 dan pernah menjadi markas pasukan Belanda.

Untuk merespons polemik ini, para budayawan berencana menggelar dialog terbuka. Mereka berharap ada ruang diskusi untuk menyamakan persepsi dan menemukan titik temu. (Penulis Kontributor Cirebon Kompas.com: Muhamad Syahri Romdhon)

Baca juga: Kenapa Dedi Mulyadi Bongkar Hibisc Fantasy Puncak?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau