Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dedi Mulyadi: Jangan Jadikan Anak Sekolah Objek Peningkatan Pariwisata

Kompas.com, 28 Juli 2025, 10:21 WIB
Alma Erin Mentari

Penulis

KOMPAS.com - Menjelang awal tahun ajaran baru, diskusi soal kegiatan study tour kembali mencuat.

Di tengah harapan para pelaku wisata agar roda ekonomi kembali bergulir, muncul kekhawatiran akan potensi eksploitasi terhadap siswa sekolah.

Aksi unjuk rasa digelar di depan Gedung Sate, Senin (21/7/2025). Beberapa sopir bus, pelaku UMKM, hingga pengelola destinasi wisata menyuarakan aspirasi.

Baca juga:

Mereka berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mencabut larangan study tour ke luar provinsi yang tercantum dalam poin ketiga Surat Edaran (SE) Gubernur Nomor 45/PK.03.03/KESRA.

Namun dalam unggahan videonya yang tayang di aplikasi sosial media yang tayang pada Sabtu (26/07/2025), Dedi menyampaikan pandangan yang menekankan sisi lain dari kebijakan tersebut.

Bukan tanpa empati terhadap pelaku wisata, tapi ia melihat urgensi menjaga ruang pendidikan tetap steril dari kepentingan ekonomi.

Playground di The Nice Funtastic Park Cianjur.Instagram @thenice_funtasticpark Playground di The Nice Funtastic Park Cianjur.

Menghindari Komersialisasi Dunia Sekolah

Menurut Dedi, menjadikan siswa sebagai bagian dari strategi peningkatan pariwisata bukanlah pendekatan yang sehat. Ia menyebut praktik seperti ini tidak memiliki dasar berpikir akademis maupun moral.

“Menjadikan anak sekolah sebagai objek peningkatan kunjungan pariwisata adalah perbuatan yang tidak memiliki landasan berpikir akademis dan moral,” ungkapnya.

Ia menegaskan, anak-anak sudah cukup terbebani dengan praktik komersial lain seperti kewajiban membeli buku LKS, seragam, atau perlengkapan sekolah yang tidak jarang dikemas secara transaksional.

Dalam konteks itu, kegiatan study tour bukan hanya soal liburan, tapi juga potensi ekonomi yang ditopang oleh siswa dan orang tua.

Satwa di Kebun Binatang Bandung.Dok. Shutterstock/Aldi Mulyadi Satwa di Kebun Binatang Bandung.

Cara Lain Meningkatkan Wisata Tanpa Libatkan Sekolah

Dedi tak menutup mata terhadap kebutuhan daerah untuk menghidupkan kembali sektor wisata. Ia justru menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan: benahi kualitas destinasi terlebih dahulu.

Destinasi wisata, menurutnya, akan lebih menarik jika menghadirkan lingkungan bersih, bangunan estetik, dan sistem yang jujur.

Ia juga menyoroti pentingnya menghilangkan pungli, calo tiket, hingga penataan pedagang agar tak membuat pengunjung merasa “digetok harga”.

“Kalau semuanya dilakukan daerah tertata, bersih, pedagang jujur, tidak ada pungli, jangan khawatir, wisatawan akan datang berbondong-bondong karena merasa nyaman,” tambah Dedi.

Ia bahkan menekankan pentingnya membangun rasa aman, pengembangan pemandu wisata, serta peningkatan infrastruktur agar pengalaman wisata tidak terganggu oleh kemacetan panjang.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas.com (@kompascom)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau