Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bandung Kini Punya Klinik Nyeri Kepala, Dokter Soroti Kebiasaan Masyarakat

Kompas.com, 1 Juni 2026, 06:53 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Kota Bandung kini memiliki Klinik Nyeri Kepala yang berlokasi di Rumah Sakit Murni Teguh Naripan. Klinik ini menjadi yang pertama di Bandung dan hadir untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai nyeri kepala.

Dokter neurologi RS Murni Teguh Naripan Bandung, dr Siuliyanti, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap nyeri kepala selalu berkaitan dengan penyakit serius seperti tumor otak.

"Bayak pasien datang ingin MRI atau pemeriksaan lain karena khawatir ada penyakit serius. Setelah diperiksa hasilnya normal, tetapi nyeri kepalanya tetap ada. Di situlah pentingnya memahami nyeri kepala primer," ujar Siuliyanti di Bandung, Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Sebelum Meninggal, Ustaz Yahya Waloni Sempat Keluhkan Sakit Kepala Pusing

Nyeri Kepala Primer dan Sekunder

Siuliyanti menjelaskan, nyeri kepala secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yakni nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder.

Menurut dia, nyeri kepala primer sering kali disebabkan berbagai faktor, seperti kurang tidur, stres, konsumsi makanan tertentu, kurang minum, hingga ketegangan otot.

Sementara itu, nyeri kepala sekunder terjadi akibat penyakit atau kondisi medis yang mendasarinya, seperti infeksi maupun gangguan pembuluh darah otak.

Baca juga: Kejanggalan Tewasnya Calon Pramugari di Medan, Disebut Sering Konsumsi Obat Sakit Kepala

Migrain Perlu Penanganan Khusus

RS Murni Naripan Bandung memiliki Klinik Nyeri Kepala.Dok TRIBUN JABAR RS Murni Naripan Bandung memiliki Klinik Nyeri Kepala.
Siuliyanti mengatakan, migrain merupakan salah satu bentuk nyeri kepala primer yang perlu mendapat perhatian karena dapat berdampak langsung terhadap produktivitas penderitanya.

"Migrain merupakan salah satu penyebab disabilitas tertinggi di dunia. Saat serangan muncul, pasien bisa tidak mampu bekerja dan harus beristirahat," kata Siuliyanti.

Ia mengimbau masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsi obat sakit kepala yang dijual bebas tanpa konsultasi medis.

"Kalau sekali minum obat lalu membaik, tidak masalah. Kalau nyeri kepala berulang dalam satu bulan, sebaiknya segera diperiksakan. Penggunaan obat yang berlebihan justru bisa membuat nyeri kepala memburuk," ujarnya.

Di Headache Clinic dan Migraine Center atau Klinik Nyeri Kepala tersebut, pasien dapat memperoleh penanganan komprehensif, mulai dari pencarian faktor pemicu, edukasi, terapi perilaku, hingga tindakan seperti relaksasi dan dry needling untuk mengatasi ketegangan otot.

Sementara itu, Direktur RS Murni Teguh Naripan Bandung, dr Ruly Sjambali, mengatakan pembentukan klinik tersebut didukung ketersediaan dokter yang mendalami bidang nyeri kepala dan fasilitas penunjang yang memadai.

“Karena itu, manajemen berinisiatif menjadikan Rumah Sakit Murni Teguh Naripan Bandung sebagai pusat rujukan untuk nyeri kepala," ujar Ruly Sjambal.

Ia menyebut RS Murni Teguh Naripan Bandung itu telah memiliki fasilitas CT Scan, MRI, dan laboratorium yang mendukung penanganan pasien nyeri kepala. Fasilitas tersebut akan terus dilengkapi untuk meningkatkan kualitas layanan.

Ruly mengatakan pasien dengan keluhan sakit kepala sudah lama menjadi kelompok yang paling banyak datang ke rumah sakit.

"Bedanya, sekarang penanganannya lebih profesional karena ada dokter yang khusus mendalami bidang nyeri kepala," pungkasnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT, Pedagang Minta Kompensasi ke Pemkot Bandung
Terminal Cicaheum Jadi Depo BRT, Pedagang Minta Kompensasi ke Pemkot Bandung
Bandung
Pakai Mercy dan Fortuner Pinjaman, Remaja 17 Tahun Tipu Puluhan SPBU di Bogor dan Depok
Pakai Mercy dan Fortuner Pinjaman, Remaja 17 Tahun Tipu Puluhan SPBU di Bogor dan Depok
Bandung
Update Pohon Tumbang di Depan Unpad Jatinangor: 1 Kritis, 2 Luka Berat, 2 Luka Ringan
Update Pohon Tumbang di Depan Unpad Jatinangor: 1 Kritis, 2 Luka Berat, 2 Luka Ringan
Bandung
Kronologi Terbongkarnya Kasus ART yang Tewas Dianiaya dan Disiram Air Panas di Bogor, Awalnya Dilaporkan Terpeleset
Kronologi Terbongkarnya Kasus ART yang Tewas Dianiaya dan Disiram Air Panas di Bogor, Awalnya Dilaporkan Terpeleset
Bandung
Kisah Bahar, Penjual Barang Antik Jepang di Bandung yang Sukses Biayai Anaknya Kuliah Kedokteran
Kisah Bahar, Penjual Barang Antik Jepang di Bandung yang Sukses Biayai Anaknya Kuliah Kedokteran
Bandung
7 Motor Raib di Area Parkir Resmi Saat Konser Musik di Bandung
7 Motor Raib di Area Parkir Resmi Saat Konser Musik di Bandung
Bandung
Danlanud Sebut Bandara Husein Sastranegara Bandung Siap Diaktifkan Lagi, Fasilitas Masih Memadai
Danlanud Sebut Bandara Husein Sastranegara Bandung Siap Diaktifkan Lagi, Fasilitas Masih Memadai
Bandung
Kronologi Truk Pecah Ban di Tol Jagorawi hingga Terbalik dan Timpa Honda CR-V
Kronologi Truk Pecah Ban di Tol Jagorawi hingga Terbalik dan Timpa Honda CR-V
Bandung
Pecah Ban, Truk Terguling dan Timpa Honda CR-V di Tol Jagorawi
Pecah Ban, Truk Terguling dan Timpa Honda CR-V di Tol Jagorawi
Bandung
Pohon Tumbang Timpa Gapura di Depan Unpad Jatinangor, Korban Berjatuhan
Pohon Tumbang Timpa Gapura di Depan Unpad Jatinangor, Korban Berjatuhan
Bandung
ART di Bogor Tewas Usai Diduga Dianiaya Rekan Kerja karena Charger Majikan Hilang
ART di Bogor Tewas Usai Diduga Dianiaya Rekan Kerja karena Charger Majikan Hilang
Bandung
Pria di Bandung Dianiaya Orang Tak Dikenal Saat Cek Ponsel Sambil Tunggu Orangtua Dirawat di RS
Pria di Bandung Dianiaya Orang Tak Dikenal Saat Cek Ponsel Sambil Tunggu Orangtua Dirawat di RS
Bandung
Lautan Manusia Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin ke Peristirahatan Terakhir
Lautan Manusia Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin ke Peristirahatan Terakhir
Bandung
Pulang Kerja Bandung ke Cicalengka Naik Commuter Line, Chela Sorot Gerbong Padat hingga Keamanan
Pulang Kerja Bandung ke Cicalengka Naik Commuter Line, Chela Sorot Gerbong Padat hingga Keamanan
Bandung
Penumpang Commuter Line Bandung Raya Terus Naik, Stasiun Bandung Jadi yang Tersibuk
Penumpang Commuter Line Bandung Raya Terus Naik, Stasiun Bandung Jadi yang Tersibuk
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau