KOMPAS.com - Efek kafein terhadap tubuh manusia ternyata menyimpan fakta medis yang jarang disadari. Sebuah studi global mengungkapkan bahwa kadar kafein dalam darah seseorang berpotensi memengaruhi jumlah lemak tubuh yang mereka miliki.
Secara tidak langsung, kadar zat tersebut juga dapat menentukan seberapa besar risiko seseorang untuk mengembangkan penyakit diabetes melitus tipe 2 serta gangguan kardiovaskular.
Temuan tersebut didasarkan pada studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Medicine.
Tim peneliti menggunakan penanda genetik untuk menetapkan hubungan yang lebih pasti antara kadar kafein, indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI), dan risiko penyakit diabetes tipe 2.
Riset kolaboratif ini digawangi oleh para ilmuwan dari institut ternama dunia, yaitu Karolinska Institute di Swedia, University of Bristol di Inggris, dan Imperial College London di Inggris.
Berdasarkan temuan tersebut, mereka menyarankan agar minuman berkafein bebas kalori dieksplorasi lebih lanjut sebagai sarana potensial untuk membantu menurunkan kadar lemak tubuh.
"Secara prediksi genetik, konsentrasi kafein plasma yang lebih tinggi dikaitkan dengan BMI dan massa lemak tubuh total yang lebih rendah," tulis para peneliti dalam makalah ilmiah mereka, dilansir dari Science Alert, Kamis (28/5/2026).
"Lebih lanjut, secara prediksi genetik, konsentrasi kafein plasma yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Sekitar setengah dari efek kafein terhadap risiko diabetes tipe 2 diperkirakan dimediasi melalui penurunan BMI," lanjut tim peneliti dalam laporannya.
Baca juga: Jangan Langsung Minum Kopi Saat Bangun Tidur, Ketahui Dampaknya
Analisis genetik terhadap 10.000 orang
Dalam menyusun penelitian ini, tim ahli melibatkan data dari hampir 10.000 orang yang dihimpun dari basis data genetik yang sudah ada.
Riset difokuskan pada variasi di dalam atau di dekat gen spesifik yang dikenal mengatur kecepatan tubuh dalam memecah kafein.
Secara umum, orang yang memiliki variasi genetik yang memengaruhi gen CYP1A2 dan gen pengaturnya yang disebut AHR, cenderung memecah kafein dengan lambat.
Kondisi ini membuat zat kafein bertahan di dalam darah untuk waktu yang lebih lama. Uniknya, orang dengan kondisi genetik ini justru cenderung mengonsumsi lebih sedikit kafein secara keseluruhan dalam keseharian mereka.
Untuk menentukan hubungan sebab-akibat yang akurat, para peneliti menggunakan metode analisis yang disebut Mendelian randomization.
Pendekatan ini mengaitkan keberadaan variasi genetik tersebut dengan risiko penyakit seperti diabetes, massa tubuh, serta faktor gaya hidup.
Baca juga: Studi Baru: Rutin Minum Kopi dan Makan Buah Bantu Tubuh Menua Lebih Sehat
Lemak tubuh turun, bagaimana dengan kesehatan jantung?
Meskipun hasil studi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kadar kafein, penurunan BMI, dan penurunan risiko diabetes tipe 2, para peneliti menemukan hal lain terkait kesehatan jantung.
Data menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara jumlah kafein dalam darah dengan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk fibrilasi atrium (gangguan irama jantung), gagal jantung, dan stroke.
Sebelumnya, beberapa studi terdahulu memang sempat mengaitkan peningkatan konsumsi kafein dalam jumlah sedang dengan kesehatan jantung yang lebih baik serta angka BMI yang lebih rendah.
Riset terbaru ini pun hadir untuk memperkaya detail medis yang telah diketahui mengenai efek kopi dan kafein bagi metabolisme tubuh.
Namun, masyarakat juga diimbau untuk tetap bijak karena efek kafein pada tubuh tidak selalu berdampak positif.
Pertimbangan matang mengenai manfaat dan risikonya tetap diperlukan sebelum seseorang meningkatkan konsumsi kafein harian mereka.
"Uji coba jangka pendek dalam skala kecil telah menunjukkan bahwa asupan kafein menghasilkan penurunan berat badan dan massa lemak, namun efek jangka panjang dari asupan kafein masih belum diketahui," jelas tim peneliti.
"Mengingat konsumsi kafein yang sangat luas di seluruh dunia, bahkan efek metabolik kecil sekalipun dari kafein dapat memiliki implikasi kesehatan yang penting," tambah mereka.
Baca juga: Ternyata Kopi Tak Sekadar Mengusir Kantuk, Kafein Aktifkan “Sakelar” Panjang Umur
Mekanisme kafein membakar lemak
Para ilmuwan menduga bahwa hubungan erat ini berkaitan dengan cara kerja kafein dalam memicu proses thermogenesis (produksi panas tubuh) dan fat oxidation (oksidasi lemak atau proses mengubah lemak menjadi energi).
Kedua proses biologis ini memegang peranan krusial dalam metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Walaupun studi ini melibatkan sampel yang besar, metode Mendelian randomization diakui belum sepenuhnya sempurna.
Masih ada kemungkinan adanya faktor-faktor eksternal lain yang belum diperhitungkan dalam penelitian. Oleh sebab itu, uji klinis lanjutan masih sangat dibutuhkan untuk mengonfirmasi hubungan sebab-akibat ini secara absolut.
Epidemiolog genetik dari University of Bristol, Benjamin Woolf, menekankan pentingnya langkah pengujian lanjutan di masa depan.
"Uji acak terkontrol (Randomized controlled trials) sangat diperlukan untuk menilai apakah minuman mengandung kafein non-kalori dapat berperan dalam mengurangi risiko obesitas dan diabetes tipe 2," ujar Benjamin Woolf.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang