Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Museum Karst Indonesia di Wonogiri

Kompas.com, 12 Februari 2026, 08:08 WIB
Anggara Wikan Prasetya

Penulis

KOMPAS.com - Keajaiban alam bukan hanya dapat dilihat di tebing-tebing menjulang atau pantai yang memesona.

Di Wonogiri, Jawa Tengah, ada sebuah tempat yang menawarkan pengalaman berbeda: Museum Karst Indonesia.

Museum ini menjadi pintu gerbang untuk memahami bagaimana daratan luas di kawasan selatan Jawa (Geopark Gunung Sewu), termasuk Wonogiri, Gunungkidul, hingga Pacitan, ternyata dulunya merupakan dasar laut purba.

Baca juga: Melihat Keajaiban Dasar Laut Menjadi Daratan di Museum Karst Indonesia

Temuan ini disaksikan langsung ketika Kompas.com mengikuti acara Wonogiri Historical Trip pada Minggu (1/2/2026).

Para peserta diajak menelusuri proses pembentukan wilayah Geopark Gunung Sewu, hamparan karst raksasa yang kini menjadi salah satu keajaiban geologi Indonesia.

Keajaiban dasar laut yang tersingkap menjadi daratan

Museum Karst Indonesia yang berada di Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, memuat berbagai informasi mengenai bagaimana kawasan bebatuan gamping atau karst terbentuk.

Salah satu hal yang paling menarik adalah fakta bahwa seluruh wilayah Gunung Sewu dulunya berada di dasar laut.

Menurut penjelasan pemandu museum, Prasetyaningsih (Nining), batu gamping yang mendominasi kawasan itu berasal dari endapan kerangka biota laut. Lalu, bagaimana bisa endapan itu menjadi daratan?

Nining menjelaskan bahwa prosesnya terjadi akibat tabrakan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

Baca juga: Keajaiban Alam Wonogiri, Serunya Jelajah Bentang Karst hingga Lembah Bengawan Solo Purba

Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah membuat dasar laut terangkat hingga membentuk daratan yang kini kita kenal sebagai wilayah karst selatan Jawa.

Penjelasan yang disampaikan dengan simulasi tangan itu membuat pengunjung seolah menyaksikan sendiri bagaimana bumi berubah selama jutaan tahun.

Harga tiket dan jam buka Museum Karst Indonesia

Bagi wisatawan yang ingin belajar lebih dalam tentang geologi Indonesia, Museum Karst Indonesia bisa menjadi destinasi edukasi yang menarik sekaligus terjangkau.

Peserta Wonogiri Historical Trip 2026 saat belajar seputar karst di Museum Karst Indonesia (1/2/2026)KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Peserta Wonogiri Historical Trip 2026 saat belajar seputar karst di Museum Karst Indonesia (1/2/2026)

Berikut informasi terbaru mengenai jam buka dan harga tiketnya:

  • Jam buka: 08.30 – 15.30 WIB
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000 per orang
  • Pemandu: Tidak dipatok tarif khusus, cukup memberikan tipping sebagai bentuk apresiasi.

Informasi ini disampaikan oleh pemandu museum lainnya, Ari Winanto.

Baca juga: Sejarah Kereta Api Wonogiri-Baturetno, Kini Tinggal Kenangan

Museum terbuka untuk siapa saja yang ingin memahami kisah panjang bumi, terutama proses terbentuknya karst Gunung Sewu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau