Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Kereta Api Wonogiri-Baturetno, Kini Tinggal Kenangan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 15:03 WIB
Anggara Wikan Prasetya

Penulis

KOMPAS.com – Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, hingga kini memang masih dilintasi kereta api.

Namun, perjalanan kereta api di Wonogiri kini hanya terbatas di rute atau jurusan Purwosari (Solo) – Wonogiri pulang-pergi dengan Kereta Api Batara Kresna.

Padahal pada zaman dulu, kereta api di Wonogiri menjangkau hingga Kecamatan Baturetno yang berada di selatan pusat Wonogiri.

Baca juga: Walking Tour Sejarah di Wonogiri, Menyusuri Peninggalan Jalur Kereta ke Baturetno

Kini jalur kereta api Wonogiri-Baturetno sudah tidak aktif. Bahkan sebagian besar sudah tidak ada. Namun, masih ada sisa patok lahan PT Kereta Api Indonesia (KAI) di sepanjang bekas rel.

Sejarah jalur kereta Wonogiri-Baturetno

Kompas.com sempat mengikuti acara Wonogiri Walking Tour pada Minggu (25/1/2026). Meski area jelajah hanya sekitar Stasiun Wonogiri, pemandu juga menjelaskan seputar sejarah jalur Wonogiri-Baturetno.

“Jalur Wonogiri-Baturetno selesai dibangun pada 1 Oktober 1923,” kata pemandu pada acara Wonogiri Walking Tour bernama Yusuf Salsa kepada peserta.

Jalur Kereta Api Wonogiri ke Baturetno.Dok. WONOGIRI WALKING TOUR Jalur Kereta Api Wonogiri ke Baturetno.

Ia melanjutkan, pembangunan jalur kereta sampai Wonogiri dan Baturetno adalah untuk mengangkut hasil bumi, seperti kayu jati, juga hasil pertanian.

“Di sini kayu jati yang terkenal itu dari Hutan Donoloyo yang juga dipakai untuk membangun Keraton Surakarta,” ujar Yusuf.

Perjalanan kereta uap yang pelan

Yusuf menjelaskan jika kecepatan kereta api pada saat itu tidak sekencang sekarang. Bahkan Baturetno-Wonogiri memakan waktu sekitar 6 jam.

“Jadi dulu distributor yang membawa barang dagangan ke Solo, biasanya menginap. Karena sistemnya beda dari sekarang. Dulu pedagang yang beli dari distributor enggak langsung bayar. Mereka habiskan dulu dagangannya, lalu uangnya baru diserahkan ke distributor,” tutur Yusuf.

Baca juga: Jadwal dan Harga Tiket KA Batara Kresna Solo–Wonogiri Terkini

Selain itu, jalur kereta ke Wonogiri dan Baturetno juga melalui perbukitan, sehingga cukup menanjak dan berkelok.

“Selain butuh bahan bakar yang banyak, terutama air, kondisi jalurnya juga bikin kereta uap rawan mengalami gangguan teknis di tengah jalan,” kata Yusuf.

Berakhirnya jalur kereta api Wonogiri-Baturetno

Sayangnya perjalanan sang ular besi rute Wonogiri-Baturetno harus berakhir pada tahun 1970-an karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Sejak 1978, deru kereta uap pun tidak lagi memecah ketenanga din wilayah Wonogiri-Baturetno. 

Bekas jembatan kereta api Wonogiri-Baturetno di Kecamatan Nguntoronadi yang hanya bisa dilihat saat Waduk Gajah Mungkur surut ketika kemarau.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Bekas jembatan kereta api Wonogiri-Baturetno di Kecamatan Nguntoronadi yang hanya bisa dilihat saat Waduk Gajah Mungkur surut ketika kemarau.

Kini sebagian jalur kereta api Wonogiri-Baturetno sudah menjadi bagian Waduk Gajah Mungkur.

Namun, masih ada beberapa peninggalan yang masih bisa ditemukan. Kompas.com sempat melakukan penelusuran secara mandiri dan menemukan bekas jalur ini.

Baca juga: Wisata Solo-Wonogiri Naik Kereta Batara Kresna, Harga Tiket Rp 4.000

Pertama adalah bekas jembatan kereta api di Kecamatan Nguntoronadi (dekat Halte Gudangdongdong zaman dahulu). Namun, bekas jembatan ini hanya terlihat saat musim kemarau karena air waduk yang surut.

Kedua adalah bekas jembatan kereta api di utara Pasar Baturetno. Jembatan ini masih bisa dilihat dari jalan utama Wogiri-Baturetno.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Bandara Husein Sastranegara Siap Diaktivasi Kembali untuk Penerbangan Komersial
Travel News
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau