Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Melemah, Industri Impor hingga Perbankan Siap-siap Tertekan pada Semester II-2026

Kompas.com, 29 Mei 2026, 06:21 WIB
Debrinata Rizky,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan rupiah diperkirakan akan memberi tekanan besar terhadap sejumlah sektor ekonomi pada semester II-2026, terutama industri yang bergantung pada impor, memiliki utang valas, dan menggunakan energi dalam porsi besar pada biaya produksinya.

Guru Besar Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan sektor manufaktur berbahan baku impor menjadi salah satu yang paling rentan terdampak jika tekanan nilai tukar terus berlanjut.

“Sektor paling rentan pada semester II-2026 adalah sektor yang bergantung pada impor, memiliki utang valas, atau memakai energi dalam biaya produksi besar,” ujar Syafruddin kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?

Menurut Syafruddin, tekanan rupiah akan langsung memukul margin usaha karena biaya impor bahan baku dan komponen produksi ikut meningkat. Kondisi itu diperkirakan akan dirasakan oleh industri farmasi, kimia, elektronik, hingga otomotif.

Selain sektor manufaktur, industri transportasi juga dinilai menghadapi tekanan cukup berat akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar dan komponen berbasis dollar AS.

“Maskapai, logistik, dan ritel barang impor akan menghadapi tekanan margin,” katanya.

Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Stimulus Ekonomi Dinilai Tak Cukup

Perbankan terkena efek pelemahan rupiah

Syafruddin menambahkan, sektor konstruksi juga menjadi salah satu sektor yang rawan terdampak pelemahan rupiah. Sebab, banyak kebutuhan bahan baku dan barang modal di industri tersebut masih mengikuti pergerakan kurs dolar AS.

Menurut dia, perusahaan yang memiliki pendapatan dalam rupiah tetapi kewajiban utang dalam dolar AS akan menghadapi tekanan arus kas paling besar apabila pelemahan rupiah terus terjadi.

“Perusahaan dengan pendapatan rupiah dan kewajiban dolar akan menghadapi tekanan arus kas paling berat,” ujarnya.

Dampak lanjutan juga berpotensi menjalar ke sektor perbankan. Syafruddin menilai risiko dapat meningkat apabila debitur dengan pinjaman valuta asing mulai kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran kredit.

“Perbankan ikut terdampak jika debitur valas mulai kesulitan membayar kredit,” katanya.

Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini

Eksportir komoditas untung? 

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai masih dapat memberi keuntungan bagi sebagian eksportir komoditas karena penerimaan ekspor menjadi lebih besar dalam rupiah.

Namun, manfaat tersebut tetap sangat bergantung pada kondisi permintaan global dan harga komoditas internasional.

“Sektor eksportir komoditas dapat memperoleh manfaat dari rupiah lemah, tetapi manfaat itu bergantung pada harga global dan permintaan luar negeri,” kata Syafruddin.

Karena itu, ia meminta pemerintah segera memetakan sektor-sektor yang paling rentan terhadap tekanan kurs agar kebijakan mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

“Pemerintah perlu memetakan kerentanan sektoral secara cepat,” ujarnya.

Baca juga: Guru Besar IPB: BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Under Invoicing

Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900 Dipicu Geopolitik dan Lonjakan Minyak

Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 17.900 per dollar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026) sebelum akhirnya ditutup di Rp 17.845 per dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 44,5 poin atau 0,25 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global yang membuat pelaku pasar cenderung memburu aset aman berbasis dollar AS.

Menurut dia, konflik Iran dan AS yang semakin memanas serta perang Rusia-Ukraina menjadi faktor utama yang menekan pasar keuangan global.

“Ini yang sebenarnya membuat ketegangan strategi politik meningkat tajam baik di Timur Tengah maupun di Eropa Timur,” ujar Ibrahim, Kamis.

Ia menambahkan, eskalasi geopolitik turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan bergerak di kisaran 96 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi memicu inflasi global dan memperbesar peluang bank sentral AS (The Federal Reserve) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut ikut memperkuat tekanan terhadap rupiah.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau