Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan

Kompas.com, 25 Mei 2026, 05:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SUMATERA bukan pulau yang kekurangan listrik, ia justru surplus dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Namun pada 22 Mei 2026 malam, dari Aceh sampai Lampung, terjadi gelap total selama berjam-jam tanpa ada yang siap. Ini bukan kesialan — ini kegagalan yang sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak lama.

Pukul 18.44 WIB, satu jalur transmisi 275 kV ruas Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi lepas dari sistem. Dalam hitungan menit, enam provinsi padam serentak akibat efek domino di seluruh jaringan Sumatera.

PLN menyebut pemicunya cuaca buruk dan sambaran petir yang menghantam tower transmisi.

Skemanya klasik dalam dunia kelistrikan modern. Begitu jalur transmisi utama lepas, ketidakseimbangan beban langsung menjalar ke seluruh jaringan dalam hitungan detik.

Frekuensi dan voltase anjlok cepat, sistem proteksi otomatis bekerja, dan pembangkit-pembangkit lain ikut keluar dari sistem satu per satu untuk menyelamatkan dirinya.

Yang membuat kejadian ini lebih dari sekadar musibah teknis adalah polanya yang berulang. Pada 4 Juni 2024, blackout massal dengan pola identik juga menimpa Sumatera lewat gangguan di SUTET 275 kV ruas Linggau–Lahat.

Tenggat waktunya hanya dua tahun di dua titik berbeda di pulau yang sama, satu modus yang persis dari ujung ke ujung.

Baca juga: Jangan Jadikan Cuaca Kambing Hitam Blackout Sumatera

Setiap kali blackout terjadi, narasi PLN ternyata selalu mengikuti pola yang sama. Cuaca ekstrem, sambaran petir, pohon menyentuh jaringan, lalu permintaan maaf resmi kepada publik yang terdampak.

Tidak pernah ada pengakuan atas kelemahan desain sistem yang membuat satu titik kegagalan bisa memadamkan satu pulau besar sekaligus.

Ironinya begini. Pulau yang surplus daya berdasarkan catatan PLN sendiri tetap gelap selama berjam-jam karena listriknya tidak bisa sampai ke konsumen akhir.

Pembangkit cukup, cadangan tersedia, tapi jembatan transmisinya patah di tengah pulau begitu saja tanpa ada peringatan.

Analoginya seperti lumbung padi yang penuh, tapi jalan menuju desa rusak parah di banyak titik. Beras melimpah di gudang, rakyat tetap lapar karena distribusinya gagal sampai ke meja makan.

Persoalan ada pada arsitektur jaringan yang sejak awal memang dirancang terlalu linear dan terlalu rapuh untuk pulau sepanjang Sumatera.

Akar masalahnya ada di pola investasi sektor kelistrikan kita selama dua dekade terakhir ini. Narasi keberhasilan PLN selama ini dibangun di atas angka kapasitas pembangkit yang ditambahkan ke sistem nasional.

Berapa gigawatt yang sudah masuk, berapa rasio elektrifikasi yang naik, berapa proyek IPP atau Independent Power Producer yang diresmikan Presiden— semua diukur dari sisi pembangkitan saja.

Pembangkit listrik punya nilai politis yang sangat tinggi bagi pemerintah maupun PLN. Buktinya berapa banyak photo-photo tentang itu, pembangkit listrik merupakan salah satu topik khas yang bisa jadi headline koran nasional, bisa diresmikan dengan upacara meriah yang dihadiri jajaran menteri dan gubernur serta bupati setempat.

Namun, aktifitas penguatan transmisi di tengah hutan Jambi atau lereng Bukit Barisan tidak menarik kamera untuk mendokumentasikan dan menyiarkannya serta tidak menghasilkan momen politis apa pun dan bagi siapa pun. Akibatnya terbaca secara telanjang dari kejadian Mei 2026 ini.

Dokumen RUPTL secara teknis selalu memuat rencana penguatan transmisi yang ambisius di atas kertas, tapi realisasinya tertinggal jauh dari ambisi pembangkitan.

Jalur yang sama bisa putus dua kali dalam tenggat waktu dua tahun tanpa perbaikan mendasar, dan hal itu sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Persoalan berikutnya menyangkut hak lintas atau right of way pada koridor transmisi tegangan tinggi di sepanjang pulau.

PLN menyebut sambaran petir sebagai pemicu utama, lalu gangguan tambahan dari pohon yang menyentuh jaringan 150 kV di Jambi.

Penjelasan yang sama persis pun sudah pernah dipakai sejak blackout 2024 lalu di ruas Linggau–Lahat.

Ini gejala persoalan kronik yang tidak pernah diselesaikan dengan tuntas hingga hari ini. Jalur SUTET melintas di atas lahan-lahan dengan status hukum dan kepemilikan yang sebagian justru belum tuntas di banyak titik.

Sosialisasi soal radius aman jaringan minim, dan kompensasi bagi pemilik lahan yang harus menjaga vegetasi nyaris tidak pernah ada dalam skema yang serius dan berkelanjutan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau