Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan

Kompas.com, 25 Mei 2026, 05:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Mereka rutin mempublikasikan proyeksi keandalan sepuluh tahun ke depan dan memicu respons regulator sebelum gap pasokan menjadi blackout terjadi di lapangan.

Indonesia hari ini masih berjalan di jalur India, bukan jalur Amerika Serikat apalagi Australia. Permintaan maaf ke publik, kompensasi tagihan 10 persen, lalu kembali ke rutinitas operasional seolah tidak pernah terjadi apa-apa yang serius.

Tidak ada audit independen yang punya kewenangan nyata untuk memaksa perubahan investasi pada PLN sebagai institusi monopoli kelistrikan nasional.

Persoalan tata kelola PLN juga perlu disorot dengan jujur tanpa basa-basi diplomatik. PLN adalah monopoli vertikal yang menggenggam pembangkitan, transmisi, dan distribusi sekaligus dalam satu entitas besar.

Tarifnya ditetapkan pemerintah, direksinya ditunjuk pemerintah, dan tidak ada watchdog eksternal yang memiliki taring nyata untuk menekan perbaikan operasional.

Insentif untuk berinvestasi pada transmisi yang andal menjadi sangat lemah dalam skema seperti ini.

Kerugian dari blackout ditanggung publik dalam bentuk produktivitas yang hilang, kerusakan peralatan rumah tangga warga, matinya ikan kesayangan warga di kolam hingga gangguan layanan publik dasar.

PLN dalam neraca jangka pendek hanya menanggung potongan tagihan 10 persen, yang tentu jauh lebih murah dari biaya investasi redundansi transmisi.

Beberapa hal perlu menjadi kebutuhan mendesak untuk diubah dalam waktu dekat ini.

Pertama, ring-fencing anggaran transmisi yang tidak bisa dialihkan ke pos pembangkitan dengan target keandalan yang terukur dan diaudit independen.

Kedua, percepatan upgrading SUTET dari 275 kV ke 500 kV di koridor timur Sumatera dengan skema pendanaan yang tidak hanya bertumpu pada neraca PLN sendiri.

Ketiga, penyelesaian masalah right of way secara lintas kementerian dengan kompensasi nyata bagi pemilik lahan di sekitar koridor transmisi.

Keempat, pembentukan mekanisme oversight independen atas keputusan investasi PLN dengan kewenangan riil.

Lainnya, audit yang hasilnya benar-benar memengaruhi tarif, anggaran, dan akuntabilitas direksi secara terukur dan transparan.

Baca juga: BUMN Ekspor: Ketika Negara Jadi Pedagang

Kelima, dan ini yang paling sulit secara politis di tubuh negara, perlu pertimbangan serius soal pemisahan fungsi transmisi dari pembangkitan dalam tubuh PLN. Model unbundling transmisi sudah dipraktikkan di banyak negara maju dengan hasil yang umumnya positif bagi konsumen akhir.

Namun, langkah ini menuntut keberanian politik yang besar di tengah resistensi yang pasti muncul dari dalam birokrasi itu sendiri.

Blackout Sumatera Mei 2026 sukar disebut bencana alam murni yang menimpa sistem yang baik-baik saja sebelumnya. Petir bisa menyambar kapan saja dan di mana saja, itu hukum alam yang tidak bisa kita hindarkan.

Pada sistem yang dirancang dengan redundansi yang benar, satu sambaran tidak akan memadamkan setengah pulau dalam hitungan menit saja.

Yang terjadi di Sumatera adalah akumulasi keputusan investasi yang salah prioritas selama bertahun-tahun di sektor kelistrikan.

Resolusi masalah right of way yang setengah hati di berbagai lapis pemerintahan dari pusat hingga daerah. Mekanisme akuntabilitas yang terlalu lunak untuk memicu perubahan nyata di tubuh PLN dan ekosistem regulasi sekitarnya.

Cermin ini sudah memantulkan gambar yang sama sejak 2024 lalu, dan kita tetap saja memilih untuk tidak menatapnya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu masalahnya, karena bukankah kita semua sudah tahu sejak dulu kala.

Pertanyaannya justru adalah apakah ada kemauan politik yang cukup untuk mengubah cara kita dalam memperlakukan tulang punggung kelistrikan nasional sebelum blackout berikutnya datang lagi menghantam.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau