Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan

Kompas.com, 25 Mei 2026, 05:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Maka setiap musim hujan dan angin kencang, selalu ada saja pohon yang jatuh ke jaringan transmisi. Karena sistemnya tidak punya redundansi yang memadai, satu pohon tumbang di titik yang tepat sudah cukup untuk memadamkan aliran listrik satu provinsi sekaligus.

Baca juga: Blackout Sumatera dan Rapuhnya Infrastruktur Publik

Persoalan ini sudah berhenti menjadi soal teknis kelistrikan dan menjelma menjadi kegagalan koordinasi lintas kementerian yang berlarut-larut.

Dimensi yang jarang dibahas dalam diskursus publik adalah implikasinya bagi transisi energi nasional ke depan.

Pemerintah sedang mendorong porsi energi terbarukan dalam bauran nasional dengan sangat agresif sesuai komitmen iklim internasional yang sudah dipatok.

Komitmen iklim internasional terkait energi berpusat pada tiga pilar utama: transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, dan percepatan pendanaan bagi negara berkembang.

Surya, angin, panas bumi semua sedang dipersiapkan untuk masuk ke sistem secara bertahap dalam dekade ini.

Karakter sumber energi terbarukan sangat berbeda dengan PLTU Batu bara konvensional yang sudah lama kita kenal.

Sifatnya tersebar di banyak titik, intermiten, dan variabel mengikuti kondisi alam yang tidak bisa diatur oleh manusia.

Jaringan transmisi yang melayaninya harus jauh lebih fleksibel dan punya redundansi yang tinggi untuk menjaga stabilitas sistem secara keseluruhan.

Pertanyaannya pun menjadi sangat tajam di titik ini. Kalau transmisi yang ada saja sudah serapuh ini untuk menangani pembangkitan konvensional yang relatif stabil, bagaimana nanti ketika porsi EBT (Energi Baru Terbarukan, yaitu sumber energi ramah lingkungan yang berasal dari proses alam berkelanjutan) semakin besar di sistem?

Blackout Sumatera ini sejatinya peringatan keras soal fondasi yang sesungguhnya belum siap untuk menyangga ambisi transisi energi yang sudah kita janjikan ke dunia.

Wajar bila publik bertanya apakah persoalan ini hanya milik Indonesia atau juga dialami negara lain di muka bumi ini.

Jawabannya tidak, karena banyak negara sebenarnya pernah mengalami blackout besar dengan mekanisme teknis yang serupa.

Yang membedakan justru ada di cara mereka dalam meresponsnya setelah kejadian besar tersebut terjadi.

Amerika Serikat mengalami blackout besar pada 14 Agustus 2003, yang memadamkan 50 juta pelanggan di kawasan timur laut hingga Kanada.

Pemicunya juga sederhana, kabel transmisi menyentuh ranting pohon di Ohio, lalu cascade failure menjalar cepat ke wilayah yang sangat luas. Polanya, sekali lagi, mirip dengan apa yang baru kita alami di Sumatera.

Baca juga: Setelah Komisi Platform Ojol Tinggal 8 Persen

Yang membedakan justru pada respons kebijakannya pasca-kejadian besar tersebut. Kongres Amerika Serikat meloloskan Energy Policy Act 2005 yang memperluas kewenangan FERC (Federal Energy Regulatory Commission) sebagai regulator energi independen di tingkat federal.

Standar keandalan baru yang wajib dan bisa dikenakan sanksi pun mulai berlaku, mencakup pengaturan ketat soal pemangkasan pohon, pelatihan operator, dan kelengkapan instrumen pemantauan.

Di kawasan Asia, di India juga mengalami blackout pada 2012 yang memadamkan 670 juta penduduk sekaligus, terbesar dalam sejarah peradaban manusia sampai hari ini.

Mekanisme kegagalannya hampir identik dengan Sumatera, jalur transmisi kelebihan beban dan cascade failure tidak terhindarkan.

Sanksi terhadap operator baru dijatuhkan tiga tahun kemudian yang oleh banyak pihak di sana dianggap terlalu ringan dibanding skala kerugian yang ditanggung oleh warga.

Akibatnya India terjebak dalam pola serupa selama bertahun-tahun setelah blackout 2012 itu. Investigasi, rekomendasi teknis, sanksi simbolik, lalu tutup buku begitu saja tanpa reformasi mendasar di tata kelola sektornya.

Kerentanan yang sama tetap bertahan di sebagian besar grid mereka tanpa perubahan berarti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Australia menempuh jalur ketiga yang patut diperhatikan dengan teliti oleh pembuat kebijakan kita di sini.

Operator pasar dan sistem mereka, AEMO (Australian Energy Market Operator),
beroperasi sebagai lembaga independen dengan mandat publik yang jelas dan kewenangan riil.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau