Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Semangat Kartini kini tak lagi sekadar diperingati, tetapi mulai terasa dalam perubahan nyata di dunia kerja. Di industri energi, perempuan kian banyak menempati posisi kepemimpinan, membuka ruang yang lebih setara di sektor yang selama ini didominasi laki-laki.
Di Jakarta, Jumat (24/4/2026), MedcoEnergi memperingati Hari Kartini 2026 melalui Konser Keabadian Kartini bertajuk “Cita-cita, Harapan, Aspirasi” di Soehanna Hall, The Energy Jakarta.
Malam itu bukan sekadar seremoni. Para tamu memilih hadir di penghujung pekan, dalam sebuah ruang yang menghadirkan ulang gagasan Kartini lewat pengalaman perempuan-perempuan yang bekerja langsung di industri energi.
Komisaris Utama MedcoEnergi, Yani Panigoro, dalam sambutan pembukaan acara, menilai peringatan Kartini selama ini kerap berhenti pada simbol.
"Kartini tidak minta izin untuk jadi pintar. Ia minta hak untuk menjadi manusia seutuhnya," ujar Yani, yang juga alumni Teknik Elektro ITB ini.
Baca juga: Yani Panigoro Ungkap Peran Kader Perempuan dalam Tekan Kasus TBC
Ia menegaskan, perjuangan Kartini bukan soal atribut seperti kebaya, melainkan hak dasar untuk berpikir, belajar, dan berpendapat, yang pada zamannya bukan hal sederhana.
Berangkat dari pengalamannya lebih dari tiga dekade di industri energi, Yani melihat ruang bagi perempuan tidak hadir dengan sendirinya.
"Yang membuka ruang itu bukan belas kasihan. Yang membuka ruang itu adalah kompetensi, keberanian, dan tidak mau diam. Itu Kartini," tegasnya.
"Dan itu yang saya lihat setiap hari di MedcoEnergi."
Baca juga: Yani Panigoro Ungkap Kesetaraan Pendidikan Buka Jalan Perempuan Berkarya
Saat ini, lebih dari 20 persen posisi pemimpin di MedcoEnergi diisi oleh perempuan. Angka ini menjadi salah satu indikator perubahan di industri energi global yang masih didominasi laki-laki.
Menurut Yani, capaian tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang dibangun secara sadar oleh perusahaan.
"Di MedcoEnergi, kami tidak hanya percaya, kami membangun sistemnya."
Perusahaan menjalankan berbagai inisiatif, seperti program Women at Work untuk pengembangan karier perempuan di jalur teknis maupun non-teknis, fasilitas daycare dan nursery room di kantor serta wilayah operasi, serta Program Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak di area operasional.
Seluruh program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa perempuan tidak harus dihadapkan pada pilihan antara karier dan kehidupan pribadi.
Baca juga: Dari Laut Sumatera hingga Riau, Perempuan Ikut Menjaga Pasokan Energi Nasional