Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gas Air Mata hingga Gedung Rusak, Ini Pesan Dedi Mulyadi ke Massa

Kompas.com, 30 Agustus 2025, 09:18 WIB
Faqih Rohman Syafei,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menanggapi aksi unjuk rasa yang berlangsung di Kota Bandung pada Jumat (29/8/2025) malam.

Dedi meminta massa aksi menyampaikan pendapat tanpa merusak fasilitas umum maupun bertindak anarkis.

"Saya berharap seluruh kekecewaan itu jangan dilampiaskan dengan melakukan perusakan fasilitas umum, menjarah, membakar gedung-gedung bersejarah yang pada akhirnya tindakan itu akan berubah menjadi tindakan yang merugikan kita semua," ujarnya dalam rekaman video yang diterima Kompas.com, Sabtu (30/8/2025).

Mantan Bupati Purwakarta itu menyadari Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan seluruh warganya.

Baca juga: Dedi Mulyadi Imbau Warga Jabar Kendalikan Emosi: Jangan Rusak Fasilitas Umum

"Saya juga memahami bahwa kami belum bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat di seluruh Jawa Barat," ucapnya.

Ia meminta masyarakat tidak mengorganisir kelompok yang hanya ingin berbuat rusuh dan onar. Apalagi sampai melibatkan anak-anak pelajar di bawah umur untuk bertindak kriminal.

"Untuk itu mohon kiranya mari kita bersama-sama untuk menjaga lingkungan kita masing-masing, menjaga seluruh kota di seluruh Provinsi Jawa Barat dan menjaga kebersamaan yang ingin kita ciptakan bersama," tutur Dedi.

Dedi juga mengapresiasi masyarakat yang menahan diri dengan tidak bertindak di luar batas.

"Saya mohon maaf atas berbagai kekurangan yang terjadi di Jawa Barat dan kekeliruan kami. Mari kita jaga keharmonian wilayah Provinsi Jawa Barat," ucapnya.

Baca juga: Alasan Keamanan Sikapi Demo Bandung, Persib Vs Borneo Terancam Ditunda

Sebelumnya diberitakan, aksi unjuk rasa ratusan orang gabungan mahasiswa, pengemudi ojek online, dan warga Kota Bandung di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, berujung ricuh.

Aksi yang berlangsung sejak sore hingga malam itu menyebabkan satu unit rumah aset milik MPR RI dan mobil hangus terbakar. Sejumlah fasilitas umum juga rusak setelah diamuk massa.

Bentrokan sempat terjadi antara massa aksi dan aparat keamanan. Suara petasan, mercon, hingga tembakan gas air mata terdengar saling bersahutan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Pakai Mercy dan Fortuner Pinjaman, Remaja 17 Tahun Tipu Puluhan SPBU di Bogor dan Depok
Pakai Mercy dan Fortuner Pinjaman, Remaja 17 Tahun Tipu Puluhan SPBU di Bogor dan Depok
Bandung
Update Pohon Tumbang di Depan Unpad Jatinangor: 1 Kritis, 2 Luka Berat, 2 Luka Ringan
Update Pohon Tumbang di Depan Unpad Jatinangor: 1 Kritis, 2 Luka Berat, 2 Luka Ringan
Bandung
Kronologi Terbongkarnya Kasus ART yang Tewas Dianiaya dan Disiram Air Panas di Bogor, Awalnya Dilaporkan Terpeleset
Kronologi Terbongkarnya Kasus ART yang Tewas Dianiaya dan Disiram Air Panas di Bogor, Awalnya Dilaporkan Terpeleset
Bandung
Kisah Bahar, Penjual Barang Antik Jepang di Bandung yang Sukses Biayai Anaknya Kuliah Kedokteran
Kisah Bahar, Penjual Barang Antik Jepang di Bandung yang Sukses Biayai Anaknya Kuliah Kedokteran
Bandung
7 Motor Raib di Area Parkir Resmi Saat Konser Musik di Bandung
7 Motor Raib di Area Parkir Resmi Saat Konser Musik di Bandung
Bandung
Danlanud Sebut Bandara Husein Sastranegara Bandung Siap Diaktifkan Lagi, Fasilitas Masih Memadai
Danlanud Sebut Bandara Husein Sastranegara Bandung Siap Diaktifkan Lagi, Fasilitas Masih Memadai
Bandung
Kronologi Truk Pecah Ban di Tol Jagorawi hingga Terbalik dan Timpa Honda CR-V
Kronologi Truk Pecah Ban di Tol Jagorawi hingga Terbalik dan Timpa Honda CR-V
Bandung
Pecah Ban, Truk Terguling dan Timpa Honda CR-V di Tol Jagorawi
Pecah Ban, Truk Terguling dan Timpa Honda CR-V di Tol Jagorawi
Bandung
Pohon Tumbang Timpa Gapura di Depan Unpad Jatinangor, Korban Berjatuhan
Pohon Tumbang Timpa Gapura di Depan Unpad Jatinangor, Korban Berjatuhan
Bandung
ART di Bogor Tewas Usai Diduga Dianiaya Rekan Kerja karena Charger Majikan Hilang
ART di Bogor Tewas Usai Diduga Dianiaya Rekan Kerja karena Charger Majikan Hilang
Bandung
Pria di Bandung Dianiaya Orang Tak Dikenal Saat Cek Ponsel Sambil Tunggu Orangtua Dirawat di RS
Pria di Bandung Dianiaya Orang Tak Dikenal Saat Cek Ponsel Sambil Tunggu Orangtua Dirawat di RS
Bandung
Lautan Manusia Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin ke Peristirahatan Terakhir
Lautan Manusia Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin ke Peristirahatan Terakhir
Bandung
Pulang Kerja Bandung ke Cicalengka Naik Commuter Line, Chela Sorot Gerbong Padat hingga Keamanan
Pulang Kerja Bandung ke Cicalengka Naik Commuter Line, Chela Sorot Gerbong Padat hingga Keamanan
Bandung
Penumpang Commuter Line Bandung Raya Terus Naik, Stasiun Bandung Jadi yang Tersibuk
Penumpang Commuter Line Bandung Raya Terus Naik, Stasiun Bandung Jadi yang Tersibuk
Bandung
Yudi Latif Sebut Indonesia Alami Kolonialisme oleh Bangsa Sendiri
Yudi Latif Sebut Indonesia Alami Kolonialisme oleh Bangsa Sendiri
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau