DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Pemerintah Suriah membantah laporan bahwa pejabatnya menggelar pembicaraan rahasia dengan milisi Syiah Hizbullah di Turki pada September 2026. Bantahan itu muncul setelah Reuters melaporkan, berdasarkan keterangan enam sumber, bahwa pejabat pemerintah Suriah dan perwakilan Hizbullah bertemu di Turki untuk meredakan ketegangan antara kedua pihak. Ankara juga menolak laporan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Dilansir Reuters (1/10/2026), pertemuan tersebut disebut berlangsung setidaknya satu kali pada September dan menjadi pertemuan langsung pertama yang diketahui antara pemerintah Suriah pasca-Bashar al-Assad dan Hizbullah. Enam sumber yang dikutip Reuters terdiri atas dua pejabat Suriah, seorang pejabat Amerika Serikat, serta seorang sumber keamanan senior Lebanon yang dekat dengan Hizbullah. Menurut sumber-sumber itu, pertemuan difasilitasi oleh badan keamanan dan intelijen Turki.
Namun, Kementerian Informasi Suriah dengan cepat membantah laporan tersebut. Direktorat Media Asing Kementerian Informasi Suriah menyatakan bahwa “tidak ada pertemuan seperti itu” dan menyebut klaim mengenai pertemuan tersebut sebagai tidak benar.
Pemerintah Turki melalui Pusat Pemberantasan Disinformasi di bawah Direktorat Komunikasi Kepresidenan juga mengatakan tuduhan mengenai waktu, tempat, peserta, dan isi pertemuan tersebut sepenuhnya dibuat-buat dan spekulatif.
Versi Reuters menyebut pertemuan itu membahas sejumlah persoalan keamanan yang menjadi sumber ketegangan antara Damaskus dan Hizbullah. Salah satu sumber Suriah mengatakan Damaskus meminta Hizbullah membantu menghentikan penyelundupan lintas perbatasan dan membongkar sel-sel yang masih tersisa di Suriah, khususnya di wilayah selatan. Sebagai imbalannya, menurut sumber tersebut, Suriah memberikan jaminan tidak akan melakukan intervensi militer di Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah.
Menurut laporan yang sama, belum ada kesepakatan final yang dihasilkan dari pertemuan tersebut dan tidak ada rencana untuk mengumumkannya kepada publik. Sumber Lebanon yang dikutip Reuters mengatakan komunikasi antara kedua pihak melalui Turki telah dimulai sekitar dua bulan sebelumnya. Reuters juga menyatakan belum dapat memastikan lokasi persis pertemuan di Turki, berapa lama pertemuan berlangsung, atau apakah terdapat pertemuan lain sebelum maupun sesudahnya.
Hubungan Suriah dan Hizbullah memang berada dalam kondisi tegang sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024. Hizbullah selama bertahun-tahun mengirimkan pejuangnya ke Suriah untuk mendukung pemerintahan Assad dalam perang saudara. Setelah pemerintahan baru mengambil alih Damaskus, pemerintah Suriah menuduh Hizbullah melakukan aktivitas penyelundupan senjata melalui wilayah Suriah, sementara Hizbullah membantah memiliki keberadaan atau aktivitas keamanan dan militer di Suriah.
Ketegangan kembali mencuat pada akhir September ketika pemerintah Suriah mengumumkan telah menangkap sel yang disebut terkait Hizbullah di wilayah Daraa, Suriah selatan. Pemerintah Suriah menuduh sel tersebut sedang mempersiapkan peluncuran roket, tetapi Hizbullah membantah keterlibatannya dan mengatakan kelompok tersebut tidak memiliki keberadaan di wilayah Suriah.
Turki menjadi bagian penting dalam laporan tersebut karena Ankara memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa dan dalam beberapa tahun terakhir berupaya memainkan peran dalam stabilisasi serta penyelesaian persoalan keamanan di kawasan.
Reuters menyebut sejumlah sumber mengatakan badan keamanan dan intelijen Turki mendorong pertemuan tersebut sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan antara Damaskus dan Hizbullah. Namun, pemerintah Turki secara resmi membantah bahwa pertemuan semacam itu pernah terjadi.
Laporan media Arab juga menunjukkan adanya perbedaan informasi mengenai bentuk kontak antara kedua pihak. Al Araby Al Jadeed mengutip peneliti Wael Alwan yang mengatakan informasi yang diterimanya menunjukkan Turki memang melakukan pembicaraan dengan masing-masing pihak secara terpisah, tetapi tidak terjadi pertemuan langsung antara pemerintah Suriah dan Hizbullah. Menurutnya, ketegangan antara Damaskus dan kelompok Lebanon tersebut masih berlangsung.
Hizbullah sendiri belum memberikan konfirmasi bahwa pertemuan langsung dengan pejabat Suriah terjadi. Menurut Al Araby Al Jadeed, sumber dari kantor media Hizbullah mengatakan pihaknya belum dapat memberikan komentar dan membutuhkan informasi yang akurat mengenai laporan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
