Memuat...

Eskalasi Yaman Memanas, Korban Sipil Berjatuhan dan Sel Houtsi Dibongkar

Zarah Amala
Kamis, 1 Oktober 2026 / 20 Rabiulakhir 1448 13:05
Eskalasi Yaman Memanas, Korban Sipil Berjatuhan dan Sel Houtsi Dibongkar
Anggota pasukan keamanan pemerintah Yaman berjaga di sebuah pos pemeriksaan di salah satu jalan di Taiz pada 27 September 2026. (AFP)

SANA'A (Arrahmah.id) - Eskalasi konflik di Yaman terus meningkat memasuki bulan keempat. Pertempuran darat, serangan udara, dan saling tembak terjadi di sejumlah front, dengan laporan korban dari kalangan militer maupun warga sipil.

Pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Ansarallah (Houtsi) saling melancarkan serangan di sejumlah wilayah.

Kantor berita resmi Yaman, Saba, melaporkan seorang anak berusia 15 tahun, Yusuf Abdul Warits Karami, tewas dan seorang perempuan berusia 29 tahun, Awatif Abdullah, terluka akibat tembakan mortir yang disebut berasal dari Houtsi dan menghantam sebuah rumah di kawasan Shalah, sebelah timur Taiz.

Menteri Urusan Hukum Yaman Ishraq al-Maqtari mengatakan empat orang tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan rudal balistik yang disebut dilakukan Houtsi dan menghantam Kota Al-Turbah pada Rabu (30/9/2026) dini hari.

Sehari sebelumnya, serangan yang juga dituduhkan kepada Houtsi di kawasan Al-Ahyuq, Distrik Al-Wazi'iyah, Taiz, menewaskan seorang perempuan dan melukai anaknya.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Kolonel Majid al-Nazili, mengatakan pasukan pemerintah telah melakukan 468 operasi penargetan terhadap personel dan peralatan Houtsi di sejumlah front, termasuk wilayah timur, Al-Bayda, serta Al-Mansoura di Al-Wazi'iyah, Taiz.

Menurut al-Nazili, operasi tersebut menyebabkan ratusan anggota Houtsi tewas atau terluka serta menghancurkan sejumlah kendaraan dan peralatan militer. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Ia kemudian mengatakan pasukan pemerintah kembali melancarkan delapan operasi yang menargetkan bala bantuan, senjata, peralatan militer, baterai artileri, dan sebuah sistem pertahanan udara yang disebut dikembangkan oleh para ahli Korps Garda Revolusi Iran di Al-Mukha.

Sementara itu, juru bicara militer Houtsi Yahya Saree menuduh Arab Saudi melancarkan 51 serangan udara dalam 24 jam ke sejumlah wilayah, termasuk Ma'rib, Saada, Hudaydah, Taiz, dan Amran.

Pasukan Pertahanan Shabwa juga mengatakan telah menggagalkan sejumlah serangan dan upaya infiltrasi Houtsi di empat front di Ma'rib dan Shabwa.

Saudi Tegaskan Dukungan kepada Pemerintah Yaman

Arab Saudi kembali menegaskan dukungannya kepada pemerintah Yaman melalui koalisi yang dipimpinnya. Riyadh menyatakan dukungan tersebut ditujukan untuk membantu pemerintah memperluas kontrolnya atas wilayah Yaman dan menghadapi serangan Houtsi.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dalam pidato tahunan atas nama Raja Salman, mengatakan Arab Saudi tidak akan ragu merespons secara tegas setiap ancaman terhadap keamanannya.

Eskalasi terbaru terjadi setelah periode relatif tenang yang berlangsung sejak gencatan senjata 2022. Reuters melaporkan pertempuran kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama di sekitar Taiz dan sepanjang pesisir Laut Merah.

Kementerian Dalam Negeri Yaman mengatakan aparat keamanan telah menangkap sejumlah sel dan anggota yang dikaitkan dengan Houtsi di beberapa wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah.

Kementerian tersebut menyebut kelompok Houtsi juga menggunakan jaringan komunikasi untuk mengumpulkan informasi. Menurut pemerintah Yaman, sejumlah warga di wilayah yang dikuasai Houtsi diduga dipaksa menghubungi kerabat atau kenalan mereka di wilayah pemerintah untuk memperoleh informasi atau menyampaikan pesan.

Klaim mengenai aktivitas sel tersebut berasal dari Kementerian Dalam Negeri Yaman dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Pemerintah Klaim 100 Anak yang Direkrut Houtsi Tewas

Kementerian Hak Asasi Manusia Yaman mengatakan telah mendokumentasikan sedikitnya 100 anak yang direkrut Houtsi dan tewas dalam pertempuran sepanjang September.

Kementerian menyatakan angka tersebut hanya mencakup kasus yang berhasil didokumentasikan dan jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar. Pemerintah Yaman juga menuduh Houtsi terus merekrut anak-anak dan mengirim mereka ke medan perang.

Laporan mengenai perekrutan anak ini muncul di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan akibat eskalasi konflik. Pada 19–26 September saja, WHO mencatat 809 korban baru, 164 tewas dan 645 terluka, dalam eskalasi yang berlangsung sejak 6 Agustus. Secara keseluruhan, WHO mencatat 4.481 korban, termasuk 838 tewas, hingga 26 September.

Reuters juga melaporkan bahwa lebih dari 130.000 orang telah mengungsi akibat gelombang kekerasan terbaru, sementara PBB menyebut warga sipil semakin menanggung dampak pertempuran. (zarahamala/arrahmah.id)