DUBAI (Arrahmah.id) -- Benarkah co-pilot asal Oman dalam insiden penerbangan Flydubai FZ1073 terkait kelompok Islam radikal? Hingga Jumat (2/10/2026), belum ada bukti publik yang menunjukkan bahwa dia merupakan anggota atau memiliki hubungan operasional dengan organisasi radikal tertentu. Namun, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menyatakan co-pilot tersebut telah mengalami “indoktrinasi Islam radikal”, sementara penyelidikan di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan 'Israel' masih berlangsung untuk menentukan motif dan kemungkinan adanya keterlibatan terorisme.
Insiden terjadi pada Rabu (30/9) ketika penerbangan Flydubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv membawa lebih dari 170 penumpang. Di tengah penerbangan, co-pilot berkewarganegaraan Oman diduga menyerang kapten asal India, Smit Machchhar, di kokpit. Pesawat kemudian mengalami penurunan ketinggian secara drastis sebelum awak dan sejumlah penumpang berhasil mengambil alih situasi. Pesawat akhirnya melakukan pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi.
Menurut laporan Reuters (30/9), Netanyahu pada Kamis mengatakan co-pilot tersebut telah menjalani apa yang ia sebut sebagai “radical Islamist indoctrination” dan tampak memiliki kecenderungan bunuh diri. Namun, Reuters juga mencatat bahwa penyelidikan mengenai motif serangan masih berjalan dan pernyataan Netanyahu belum merupakan kesimpulan final mengenai latar belakang maupun hubungan pelaku dengan kelompok tertentu.
Klaim serupa mengenai dugaan radikalisasi juga muncul dari seorang pejabat 'Israel' yang mengatakan kepada The Times of Israel bahwa akun media sosial co-pilot tersebut memuat pembicaraan mengenai pembunuhan orang Yahudi dan menunjukkan indikasi ideologi jihad. Akan tetapi, informasi mengenai akun tersebut berasal dari pejabat 'Israel' dan belum disertai pengungkapan bukti lengkap kepada publik.
Laporan The Washington Post menyebut penyelidik juga belum dapat memastikan apakah co-pilot bertindak sendirian atau merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas. Aparat di Arab Saudi, UEA, dan 'Israel' sedang berupaya menentukan bagaimana serangan itu dapat terjadi, termasuk bagaimana co-pilot tersebut dapat menjalankan penerbangan menuju 'Israel' serta bagaimana senjata yang digunakan dalam serangan bisa berada di kokpit.
Sementara itu, UEA secara resmi belum menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan serangan teroris. Jaksa Agung UEA Hamad Saif al-Shamsi membentuk tim penyidik untuk mengungkap penyebab dan motif insiden, termasuk memeriksa apakah terdapat keterkaitan dengan aktivitas atau tujuan teroris serta apakah serangan tersebut telah direncanakan atau diarahkan sebelumnya. Pemerintah UEA juga meminta masyarakat menghindari spekulasi sampai penyelidikan selesai.
Al Jazeera juga melaporkan bahwa penyebab dan motif insiden masih dalam penyelidikan. Pada tahap awal, pihak Flydubai menyebut kejadian tersebut sebagai perselisihan di dalam kokpit, sementara perkembangan berikutnya memunculkan dugaan bahwa co-pilot berupaya mengambil alih pesawat dan menyebabkan pesawat jatuh. Perubahan gambaran tersebut menjadi salah satu alasan penyelidikan melibatkan beberapa negara. (hanoum/arrahmah.id)
