JAKARTA (Arrahmah.id) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengkritik penyelenggaraan konser penyanyi tenor dunia Andrea Bocelli di Jakarta.
Menurutnya, keputusan pemerintah mengizinkan konser tersebut telah melukai prinsip dasar diplomasi Indonesia yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan keadaban.
"Hemat saya diplomasi budaya konser Bocelli justru telah melukai prinsip dasar diplomasi kita yaitu kemanusiaan, keadilan dan keadaban," kata Sudarnoto dalam pernyataan tertulis, Ahad (1/11/2026).
Sudarnoto menyayangkan pemerintah tetap memberikan izin penyelenggaraan konser tersebut meskipun MUI sebelumnya telah menyampaikan masukan dan meminta agar keputusan itu ditinjau ulang.
Ia menilai pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap aspirasi MUI yang disebut mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
Sorotan Sudarnoto terhadap konser tersebut berkaitan dengan informasi yang dirujuknya dari pemberitaan Jews Journal mengenai keterlibatan Andrea Bocelli dalam acara penggalangan dana untuk tentara Israel Defense Forces (IDF) pada 2010.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Friends of IDF, kelompok pendukung militer Israel yang berbasis di Amerika Serikat.
"Jadi Bocelli adalah pendukung kelompok zionis, meskipun dia bukan zionis," tegas Sudarnoto.
Ia menilai informasi mengenai keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah sebelum memberikan izin penyelenggaraan konser di Indonesia.
Minta Pemerintah Berikan Penjelasan
Sudarnoto juga menyayangkan belum adanya penjelasan dari pemerintah, pihak promotor, maupun Andrea Bocelli sendiri mengenai keterlibatan penyanyi tersebut dalam acara penggalangan dana untuk IDF pada 2010.
Menurutnya, pemberitaan mengenai konser Bocelli di Indonesia justru lebih banyak menonjolkan citranya sebagai penyanyi yang menjunjung perdamaian, diplomasi budaya di Borobudur, potensi keuntungan ekonomi, hingga bantuan 100 ribu pasang sepatu.
Namun, informasi mengenai keterlibatannya dalam acara penggalangan dana untuk IDF dinilai belum mendapatkan penjelasan yang memadai.
"Sayang tidak pernah ada penjelasan tentang konsernya untuk IDF. Kenapa? Seharusnya pemerintah mudah untuk menelusuri Bocelli dan penampilannya di tahun 2010," ujarnya.
Ia mempertanyakan mengapa informasi tersebut tidak dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terkait penyelenggaraan konser.
Pembelaan terhadap Palestina Harus Diwujudkan
Lebih jauh, Sudarnoto mengingatkan bahwa komitmen Indonesia dalam membela Palestina dan menolak penjajahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan diplomatik.
Menurutnya, sikap politik luar negeri Indonesia yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan perlu tercermin dalam berbagai kebijakan, termasuk keputusan yang berkaitan dengan diplomasi budaya.
"Membela Palestina, menghapuskan penjajah bukanlah sekadar pernyataan diplomatik, tapi langkah nyata dan konkret," tegas Sudarnoto.
Ia menilai penyelenggaraan konser Andrea Bocelli di Jakarta menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pemerintah agar konsisten menjalankan prinsip kemanusiaan, keadilan, dan penolakan terhadap penjajahan sebagaimana menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
(ameera/arrahmah.id)
