KOMPAS.com - Wali Kota Yawata, Prefektur Kyoto, Jepang, Shoko Kawata bakal menjadi wali kota perempuan pertama di Jepang yang mengambil cuti melahirkan pada saat menjabat.
Dia berencana mengambil cuti sebelum dan sesudah melahirkan mulai 20 Juli sampai dengan awal November 2026, sesuai dengan tanggal perkiraan kelahirannya pada September 2026.
Perempuan berusia 35 tahun itu menambahkan bahwa dirinya juga sedang mempertimbangkan untuk mengambil cuti perawatan anak.
“Saya berharap keputusan untuk mengambil cuti melahirkan ini akan menjadi kesempatan untuk mempercepat diskusi tentang pengembangan desain kelembagaan yang lebih baik,” kata dia, dilansir dari Asahi.
Selama ini, Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan Jepang telah mengatur cuti melahirkan bagi pekerja, tetapi tidak berlaku untuk wali kota.
Peraturan kota yang mengatur cuti melahirkan juga hanya diperuntukkan bagi pegawai kota, bukan untuk wali kota.
Oleh karena itu, Kawata akan mengambil cuti sesuai dengan ketentuan peraturan kota Yawata tentang cuti pegawai kota dan peraturan tata cara dewan kota.
Berdasarkan aturan tersebut, cuti melahirkan diberikan selama 8 minggu sebelum dan 8 minggu setelah melahirkan.
Baca juga: Mengenal Tokuryu, Kelompok Kriminal Jepang Saingan Yakuza
Kawata berencana untuk menunjuk seorang wakil wali kota, Shigeto Nose untuk menggantikan posisinya selama ia absen.
Nose akan menjalankan seluruh wewenang wali kota sambal melaporkan hal-hal penting kepada Kawata secara daring setidaknya sekali dalam seminggu.
Namun, untuk acara-acara penting, seperti tanggap bencana dan insiden lainnya, Kawata berencana untuk menghadiri rapat secara daring dan berkomunikasi dengan pejabat kota melalui telepon dan email sebisa mungkin.
"Saya ingin memastikan bahwa, dalam hal total jumlah pekerjaan selama empat tahun [masa jabatan saya], tidak ada kekurangan," katanya, dilansir dari ABC News.
Kawata juga menambahkan bahwa dirinya ingin mengambil cuti perawatan anak setelah cuti melahirkan. Akan tetapi, rincian akhir tentang hal itu dan gajinya selama ketidakhadirannya masih dalam tahap finalisasi.
Sebagai informasi, Kawata memenangkan pemilihan walikota pada November 2023 di usia 33 tahun. Dia menjadi walikota perempuan termuda dalam sejarah Jepang.
Dia mengaku akan berusaha keras untuk mendapatkan pengertian dari warga dengan memberi tahu mereka bahwa dirinya sedang melakukan persiapan matang agar cutinya tidak memengaruhi tata kelola.
Baca juga: Kisah Naoko Watanabe, Perawat Jepang yang Tiga Kali Taklukkan Gunung K2 di Pakistan