Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Trump Minta Negosiator AS Tak Buru-buru Sepakati Perjanjian Baru dengan Iran, Mengapa?

Kompas.com, 25 Mei 2026, 11:30 WIB
Inten Esti Pratiwi

Penulis

Sumber BBC

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta para negosiator negaranya untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan baru dengan Iran.

Ketegangan geopolitik dan konflik Timur Tengah antara kedua negara saat ini masih menjadi perhatian global, terutama terkait program nuklir Teheran dan stabilitas pasokan minyak dunia.

Melalui sebuah unggahan di media sosial Truth Social pada hari Minggu, Donald Trump menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam proses diplomasi ini.

"Kedua belah pihak harus menggunakan waktu mereka," ujar Trump, menekankan bahwa AS tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan, dikutip dari BBC.

Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Singgung Pembukaan Selat Hormuz

Pro dan kontra di parlemen AS

Rencana negosiasi ini memicu gelombang reaksi keras serta perdebatan sengit di kalangan politisi dan anggota parlemen Amerika Serikat.

Sejumlah pihak menilai pelonggaran sanksi atau gencatan senjata justru akan merugikan posisi AS.

Senator Ted Cruz secara terbuka mengkritik langkah diplomasi ini. Menurut Cruz, langkah tersebut akan menjadi "sebuah kesalahan yang sangat fatal".

Senada dengan Cruz, Roger Wicker selaku Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, menyatakan keberatannya terhadap wacana gencatan senjata selama 60 hari.

Wicker menilai pelonggaran tersebut akan menghapus kerja keras militer AS sebelumnya.

"Segala sesuatu yang dicapai oleh Operasi Epic Fury akan menjadi sia-sia!" tegas Roger Wicker.

Namun, pandangan berbeda datang dari DPR AS. Perwakilan Mike Lawler yang duduk di Komite Urusan Luar Negeri DPR, justru melihat situasi ini sebagai sebuah pencapaian strategis bagi pemerintahan Donald Trump.

Menurutnya, tekanan militer dan ekonomi yang konsisten berhasil menekan posisi Iran.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok 6 Persen Usai Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masuk Tahap Akhir

Dari serangan militer hingga krisis Selat Hormuz

Eskalasi konflik Timur Tengah ini memuncak ketika AS dan Israel meluncurkan serangan udara berskala besar ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran, yang membidik Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.

Dampak paling signifikan dari konflik ini adalah keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz.

Penutupan jalur laut krusial ini berdampak langsung pada perekonomian global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati selat tersebut. Akibatnya, harga minyak mentah dunia sempat melonjak tajam.

Halaman:


Terkini Lainnya
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Tren
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Tren
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Tren
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Tren
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Tren
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
Tren
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau