Penulis
KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta para negosiator negaranya untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan baru dengan Iran.
Ketegangan geopolitik dan konflik Timur Tengah antara kedua negara saat ini masih menjadi perhatian global, terutama terkait program nuklir Teheran dan stabilitas pasokan minyak dunia.
Melalui sebuah unggahan di media sosial Truth Social pada hari Minggu, Donald Trump menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam proses diplomasi ini.
"Kedua belah pihak harus menggunakan waktu mereka," ujar Trump, menekankan bahwa AS tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan, dikutip dari BBC.
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Singgung Pembukaan Selat Hormuz
Rencana negosiasi ini memicu gelombang reaksi keras serta perdebatan sengit di kalangan politisi dan anggota parlemen Amerika Serikat.
Sejumlah pihak menilai pelonggaran sanksi atau gencatan senjata justru akan merugikan posisi AS.
Senator Ted Cruz secara terbuka mengkritik langkah diplomasi ini. Menurut Cruz, langkah tersebut akan menjadi "sebuah kesalahan yang sangat fatal".
Senada dengan Cruz, Roger Wicker selaku Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, menyatakan keberatannya terhadap wacana gencatan senjata selama 60 hari.
Wicker menilai pelonggaran tersebut akan menghapus kerja keras militer AS sebelumnya.
"Segala sesuatu yang dicapai oleh Operasi Epic Fury akan menjadi sia-sia!" tegas Roger Wicker.
Namun, pandangan berbeda datang dari DPR AS. Perwakilan Mike Lawler yang duduk di Komite Urusan Luar Negeri DPR, justru melihat situasi ini sebagai sebuah pencapaian strategis bagi pemerintahan Donald Trump.
Menurutnya, tekanan militer dan ekonomi yang konsisten berhasil menekan posisi Iran.
Baca juga: Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok 6 Persen Usai Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masuk Tahap Akhir
Eskalasi konflik Timur Tengah ini memuncak ketika AS dan Israel meluncurkan serangan udara berskala besar ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran, yang membidik Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.
Dampak paling signifikan dari konflik ini adalah keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz.
Penutupan jalur laut krusial ini berdampak langsung pada perekonomian global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati selat tersebut. Akibatnya, harga minyak mentah dunia sempat melonjak tajam.