Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Puncak Cuaca Panas 2026 Menurut Perkiraan BMKG?

Kompas.com, 30 April 2026, 10:00 WIB
Alinda Hardiantoro,
Albertus Adit

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, cuaca panas di Indonesia masih berlangsung selama beberapa pekan ke depan.

Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, mengatakan, kondisi ini terjadi sampai dengan awal Mei 2026.

"Kondisi cuaca dengan suhu panas dan terik diprediksi masih dapat terjadi hingga awal Mei mendatang," kata dia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (28/4/2026).

Meski demikian, potensi suhu maksimum ini masih berpotensi terjadi sepanjang musim kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus-September 2026.

Lantas, kapan puncak cuaca panas di Indonesia?

Baca juga: BMKG Beberkan Penyebab Cuaca Panas di Indonesia Akhir-akhir Ini, Sampai Kapan Terjadi?

Puncak cuaca panas 2026

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa puncak suhu panas terjadi pada Mei 2026.

"Puncak suhu secara klimatologis untuk wilayah Indonesia, secara umum terjadi pada bulan Mei, ada jeda sekitar 1,5 bulan dari solar equinox (ketika Matahari berada di khatulistiwa)," kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Selasa.

Lalu, pada Juni 2026, suhu panas akan turun secara gradual.

Kondisi ini bakal dialami oleh sejumlah wilayah di beberapa wilayah utara maupun selatan Indonesia.

Meskipun demikian, akibat pengaruh fenomena atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator, sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi memiliki potensi berawan tebal dan hujan signifikan dalam beberapa pekan ke depan.

Cuaca panas diperkirakan akan kembali melanda beberapa wilayah di Indonesia pada Agustus-September 2026, yakni saat musim kemarau mencapai puncaknya dan suhu lebih merata tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.

Baca juga: Benarkah Foil pada Rumah Bisa Redam Panas? Ini Penjelasan Dosen UGM

Penyebab cuaca panas 2026

Menurut analisis BMKG, suhu panas dan cuaca terik di Indonesia khususnya pada siang hari disebabkan karena minimnya tutupan awan di sejumlah wilayah.

Kondisi ini dipicu karena dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering.

"Selain itu, posisi semu Matahari di periode April ini masih berada dekat dengan Indonesia bagian utara, sehingga penyinaran permukaan bumi masih cukup intensif," kata Agita.

Dia menambahkan, cuaca panas di sejumlah wilayah menandakan bahwa Indonesia sudah memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

Hal ini karena panas yang terjadi di Indonesia pada Mei 2026 merupakan bagian dari fase awal musim kemarau.

Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas di Indonesia, Sampai Kapan Terjadi?

Suhu maksimum harian di Indonesia

Data BMKG pada Rabu (29/4/2026) menunjukkan bahwa suhu udara paling panas di Indonesia mencapai 36,7 derajat Celsius, yakni di Medan, Sumatera Utara.

Berikut ini wilayah dengan catatan suhu harian terpanas pada 28-29 April 2026 di wilayah Indonesia:

  • Balai Besar MKG Wilayah I, Medan, Sumatera Utara: 36,7 derajat Celsius
  • Stageof Deli Serdang, Deli Serdang, Sumatera Utara: 36 derajat Celsius
  • Stamet Rendani, Manokwari, Papua Barat: 35,4 derajat Celsius
  • Stamet Tanjung Harapan, Bulungan, Kalimantan Utara: 35 derajat Celsius
  • Stamet Mutiara Sis-Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah: 35 derajat Celsius
  • Halim Perdana Kusuma TNI AU, Jakarta Timur, DKI Jakarta: 35 derajat Celsius
  • Stamet Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan: 34,9 derajat Celsius
  • Staklim Sumatera Utara, Deli Serdang, Sumatera Utara: 34,8 derajat Celsius
  • Stamet Iskandar, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah: 34,8 derajat Celsius
  • Taman Alat Digital Staklim Sumsel, Palembang, Sumatera Selatan: 34,8 derajat Celsius
  • Stamet Gamar Malamo, Halmahera Utara, Maluku Utara: 34,8 derajat Celsius
  • Soewondo TNI AU, Medan, Sumatera Utara: 34,8 derajat Celsius
  • Stageof Malang, Malang, Jawa Timur: 34,8 derajat Celsius
  • Stamet Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur: 34,6 derajat Celsius
  • Stamet Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah: 34,5 derajat Celsius
  • Adi Soemarmo TNIAU, Karanganyar, Jawa Tengah: 34,4 derajat Celsius
  • Stamet I Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara: 34,3 derajat Celsius
  • Stamet H. Asan, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah: 34,2 derajat Celsius
  • Staklim Bengkulu, Bengkulu, Bengkulu: 34,2 derajat Celsius
  • Stamet Japura, Indragiri Hulu, Riau: 34,2 derajat Celsius.

Baca juga: BMKG Jelaskan Mengapa Cuaca di Indonesia Belakangan Ini Cukup Panas

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Tren
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Tren
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Tren
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Tren
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Tren
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
Tren
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau