Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Kota dengan Kualitas Hidup Tertinggi di Pulau Jawa, Yogyakarta Teratas

Kompas.com, 23 April 2026, 18:00 WIB
Mannisa Elfira Putri Aji Suharno,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

Sumber BPS

KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pembaruan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2024 pada 15 Mei 2025.

Hasilnya, Kota Yogyakarta mencatatkan IPM tertinggi di Pulau Jawa dengan nilai 88,77.

IPM merupakan indeks komposit yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup manusia.

Indeks ini disusun dari beberapa indikator utama, yaitu umur harapan hidup saat lahir, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, serta pengeluaran riil per kapita per tahun yang telah disesuaikan.

Baca juga: BPS: Mayoritas Pekerja Indonesia adalah Lulusan SD, Ini Rinciannya

10 kota dengan IPM terbaik 

Dalam rilis terbaru BPS, sejumlah kota di Pulau Jawa mencatatkan nilai IPM tinggi.

Kota Yogyakarta berada di peringkat pertama, diikuti beberapa kota besar lain serta satu wilayah kabupaten.

Berikut daftar 10 daerah dengan IPM tertinggi di Pulau Jawa:

  1. Kota Yogyakarta: 88,77
  2. Kota Jakarta Selatan: 86,94
  3. Kota Salatiga: 85,72
  4. Kabupaten Sleman: 85,61
  5. Kota Semarang: 85,25
  6. Kota Surakarta: 84,40
  7. Kota Surabaya: 84,14
  8. Kota Malang: 84,06
  9. Kota Jakarta Timur: 84,65
  10. Kota Bandung: 83,52

Sementara itu, wilayah dengan capaian terendah di Pulau Jawa ditempati oleh Kabupaten Lebak dengan nilai IPM 65,86.

Baca juga: 10 Provinsi dengan Penggunaan Genteng Terbanyak di Indonesia, Ini Sebarannya Menurut Data BPS

Tren IPM Indonesia meningkat

Berdasarkan berita resmi statistik yang dirilis pada 5 November 2025, IPM Indonesia menunjukkan peningkatan dalam periode 2020 hingga 2025.

Pada 2025, IPM Indonesia tercatat sebesar 75,90, naik 0,88 poin dibandingkan 2024 yang sebesar 75,02.

Nilai tersebut menempatkan Indonesia dalam kategori IPM tinggi menurut klasifikasi United Nations Development Programme (UNDP).

Kategori IPM menurut UNDP terdiri dari:

  • Sangat tinggi: ≥ 80
  • Tinggi: 70–79,99
  • Sedang: 60–69,99
  • Rendah: < 60

Peningkatan IPM dipengaruhi oleh kenaikan indikator penyusunnya, yaitu:

  • Umur harapan hidup saat lahir: 74,47 tahun
  • Rata-rata lama sekolah: 9,07 tahun
  • Harapan lama sekolah: 13,30 tahun
  • Pengeluaran riil per kapita per tahun: Rp12.802.000

Tangkapan layar capaian pembangunan manusia Indonesia dari data BPS 2025.BPS Tangkapan layar capaian pembangunan manusia Indonesia dari data BPS 2025.

Baca juga: Data BPS: 57,93 Persen Rumah Tangga di Indonesia Sudah Gunakan Atap Genteng

10 provinsi dengan IPM tertinggi di Indonesia

Mengacu pada data BPS, indeks pembangunan manusia tertinggi pada 2025 masih dipegang oleh DKI Jakarta dengan angka 85,05.

Di bawahnya ada Daerah Istimewa Yogyakarta dengan angka 82,48. Lalu disusul Kepulauan Riau dengan peningkatan status IPM dari tinggi menjadi sangat tinggi dengan angka 80,53.

Berikut daftar 10 provinsi dengan IPM tertinggi di Indonesia:

  1. DKI Jakarta: 85,05
  2. Daerah Istimewa Yogyakarta: 82,48
  3. Kepulauan Riau: 80,53
  4. Kalimantan Timur: 79,39
  5. Bali: 79,37
  6. Sumatera Barat: 77,27
  7. Banten: 77,25
  8. Sumatera Utara: 76,47
  9. Sulawesi Utara: 76,32
  10. Riau: 76,31

Sementara itu, kenaikan IPM tertinggi didapatkan oleh provinsi Jawa Barat sebesar 0,98 poin. Jawa Barat sendiri berada di posisi ke-15 dengan IPM 75,90.

Sementara itu, kenaikan terendah didapatkan oleh provinsi Papua Tengah sebesar 0,39 poin. Papua Tengah mengantongi IPM sebesar 60,64.

Baca juga: BPS: Jumlah Pengangguran Capai 7,46 Juta Orang pada Agustus 2025, Lulusan SMK Mendominasi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Tren
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Tren
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Tren
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Tren
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Tren
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
Tren
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau