Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Sering Dengar Lagu Dewasa? Ini 6 Cara Mengenalkan Lagu Anak

Kompas.com, 19 Mei 2025, 04:30 WIB
Ida Setyaningsih

Penulis

KOMPAS.com – Tak sedikit anak-anak masa kini yang lebih hafal lagu-lagu bertema dewasa ketimbang lagu anak-anak. Fenomena ini kian marak di era digital, di mana akses terhadap berbagai jenis musik menjadi semakin mudah.

Psikolog anak mengingatkan, kebiasaan ini perlu diwaspadai karena bisa memengaruhi perkembangan emosi dan cara berpikir anak yang belum siap memahami makna di balik lirik lagu tersebut.

“Otak anak seperti spons, sangat cepat menyerap apa pun yang didengarnya. Jika yang didengar belum sesuai usianya, ini bisa berdampak pada pembentukan nilai dan perilaku,” ujar psikolog anak Rahmani Widyaningrum, M.Psi, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Lagu Dewasa Bisa Ganggu Perkembangan Psikis Anak, Ini Kata Psikolog

Lalu, bagaimana cara orang tua menyikapi hal ini? Berikut enam langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak lebih dekat dengan lagu-lagu yang sesuai usianya:

1. Pilih lagu anak yang relatable

Salah satu alasan anak kurang tertarik pada lagu anak adalah karena irama atau liriknya dianggap membosankan. Coba kenalkan lagu anak yang lebih segar dan relevan dengan kehidupan anak masa kini, seperti lagu bertema keluarga, pertemanan, atau kegiatan sehari-hari.

2. Libatkan anak saat bernyanyi dan menari

Mengajak anak bernyanyi dan bergerak mengikuti irama bisa membangun pengalaman yang menyenangkan bersama musik anak. Aktivitas ini juga mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua.

“Lewat lagu anak, kita bisa lebih memahami dunia mereka,” kata Rahmani.

Baca juga: 5 Lagu Manjur Atasi Susah Tidur, dari Mozart sampai Chopin

3. Buat playlist lagu ramah anak di rumah

Gunakan layanan streaming musik untuk menyusun daftar lagu anak yang bisa diputar saat anak bermain, belajar, atau di dalam mobil. Paparan konsisten akan membantu anak terbiasa dengan irama dan lirik yang sesuai dengan tahap usianya.

4. Batasi paparan lagu dewasa

Bukan berarti orang tua harus berhenti mendengarkan musik favoritnya. Namun, penting untuk menyesuaikan waktu dan tempat saat memutar lagu bertema dewasa, terutama jika mengandung unsur patah hati, hingga kekerasan. Pastikan anak-anak tidak ada di sekelilling orang tua.

“Kondisi lingkungan sangat menentukan apa yang diserap anak dari sekitarnya,” tegas Rahmani.

5. Berikan contoh lewat kebiasaan orang tua

Anak meniru dari apa yang ia lihat dan dengar. Jika orang tua membiasakan mendengarkan lagu anak bersama dan menunjukkan antusiasme, maka anak cenderung mengikuti kebiasaan tersebut.

Baca juga: Mozart sampai Adele, 10 Lagu Ini Terbukti Ampuh Redakan Gangguan Cemas

6. Kenalkan tokoh idola anak yang positif

Psikolog Christine Wibowo dalam peluncuran album Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU), mengatakan minimnya tokoh idola anak yang tampil dengan lagu-lagu usia dini turut menjadi faktor menurunnya minat anak terhadap lagu anak.

Karena itu, penting mengenalkan figur publik atau tokoh imajinatif yang membawakan pesan positif dan bisa dijadikan panutan sesuai usia.

Baca juga: Kenapa Data Anak Berkebutuhan Khusus Perlu Dipercepat? Ini Kata Menkes

Musik bisa jadi sarana pembentukan karakter

Lagu bukan hanya hiburan, tetapi juga media belajar. Anak usia dini tengah berada dalam masa emas perkembangan, dan apa yang mereka dengar bisa memengaruhi cara berpikir serta bersikap.

“Peran kita sebagai orang dewasa adalah membantu anak kembali dekat dengan lagu anak dan dunianya sendiri,” tutur Rahmani.

Dengan pendekatan yang menyenangkan dan konsisten, anak tetap bisa tumbuh akrab dengan musik yang mendukung proses tumbuh kembangnya secara sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Puasa Intermiten Ternyata Mengubah Otak, Ini yang Ditemukan Peneliti
Tren
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Respons Kritik Dino Patti Djalal, Teddy Sebut Biaya Kunjungan Prabowo Ditanggung Pribadi
Tren
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Gaji Ke-13 Cair Mulai Hari Ini, Cek Daftar Penerima dan Besaran untuk PNS, PPPK, dan Pensiunan
Tren
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Prakiraan Cuaca BMKG: Cek Wilayah yang Akan Hujan Lebat Hari Ini dan Besok
Tren
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Iran Murka, Anggap Serangan Israel di Lebanon Langgar Gencatan Senjata dengan AS dan Ancam Tak Akan Toleransi
Tren
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
[POPULER TREN] Cara Judol Jebak Anak lewat Game | Gaji Ke-13 ASN Cair Hari Ini
Tren
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
BRIN Usul Sanksi Tukin ASN Dipotong dan Tunda BPJS, Kalau Abai Urusan Sampah
Tren
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
3 Bansos Cair Juni 2026, Masyarakat Bisa Cek Status Penerima secara Online
Tren
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Jumlah Pohon di Bumi Lebih Banyak daripada Bintang di Bima Sakti, Berapa Banyak?
Tren
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Cara Mengusir Lembing Hitam, Hama Padi yang Kerap Masuk ke Rumah
Tren
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Prajogo Pangestu Kembali ke Puncak, Siapa Saja 10 Orang Terkaya RI Awal Juni 2026?
Tren
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Link Live Streaming Indonesia Vs Myanmar di Piala AFF U19 2026, Kick-off Pukul 20.00 WIB
Tren
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Kisah Haru Anak WNI di Malaysia, Jual Kue di Usia 10 Tahun demi Bertahan Hidup dan Ingin Sekolah
Tren
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Karier Hanya Seumur Jagung, Mengapa Gen Z Banyak yang Dipecat Padahal Baru Mulai Bekerja?
Tren
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Mewarnai dan Menggambar Ternyata Sangat Berguna bagi Anak 1-5 Tahun, Ini Penjelasan Dokter
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau