Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Buku Sejarah Kini Tidak Lagi Menggunakan Label PKI untuk G30S?

Kompas.com, 30 September 2025, 16:16 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com - Selama lebih dari tiga dekade masa Orde Baru, sejarah resmi di sekolah mengaitkan peristiwa 30 September 1965 secara langsung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Istilah yang dikenal publik luas adalah “G30S/PKI”. Narasi ini menjadi bagian dari propaganda negara untuk menstigma PKI sebagai dalang tunggal kudeta berdarah yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat.

Namun, perkembangan kajian akademik dan historiografi kontemporer menunjukkan adanya deregulasi terhadap narasi tunggal itu. 

Kini, di sejumlah buku pelajaran sejarah dan literatur modern, istilah yang digunakan hanya “G30S” tanpa menambahkan label PKI. 

Perubahan istilah ini bukan sekadar soal bahasa, melainkan cermin dari perubahan cara pandang sejarah Indonesia.

Baca juga: Peristiwa G30S: Dari Isu Dewa Jenderal hingga Malam Penculikan 

Kritik terhadap narasi Orde Baru yang bias 

Penggunaan istilah G30S/PKI dipandang terlalu menyederhanakan peristiwa yang kompleks. Sejak lama, narasi itu dikritik sebagai alat politik Orde Baru untuk mediskreditkan PKI dan melegitimasi pembataian massal pasca-1965. 

Penelitian akademis menilai label tersebut lebuh merupakan konstruksi politik daripada fakta sejara yang obyektif. 

pengilangan istilah PKI dalam narasi resmi berupaya merekonstruksi propaganda lama, sekaligus membuka ruang rekonstruksi sejarah yang lebih ilmiah dan kritis. 

Dengan menyebut peristiwa ini sebagai G30S, diskusi sejarah tidak lagi terkungkung pada tudingan tunggal, tetapi memberi kesempatan melihat keterlibatan berbagai aktor, termasuk unsur militer, dinamika politik domestik, hingga kemungkinan intervensi asing.

Baca juga: Di Mana Soekarno ketika Tragedi G30S Terjadi? 

Alasan akademis 

Sejumlah argumen akademis menjadi dasar perubahan istilah ini. 

Pertama, penggunaan istilah “G30S” tanpa embel-embel PKI dianggap menghadirkan narasi yang lebih netral dan kompleks. Peristiwa 1965 dilihat sebagai hasil dari interaksi banyak faktor, bukan sekadar ulah satu pihak.

Kedua, pendekatan ini juga mencerminkan upaya menghadirkan pendidikan sejarah yang lebih obyektif. Buku teks terbaru mendorong siswa untuk berpikir kritis, menelaah berbagai sumber, dan memahami G30S sebagai peristiwa multifaktorial, bukan sekadar mengulang versi resmi masa lalu.

Ketiga, revisi ini membuka ruang inklusi bagi keturunan maupun simpatisan PKI yang selama puluhan tahun distigma. Narasi yang lebih netral memungkinkan lahirnya memori kolektif yang plural, bukan memori tunggal yang menyingkirkan kelompok tertentu.

Baca juga: MT Haryono, Tokoh KMB yang Menjadi Korban G30S

Implikasi bagi pendidikan

Perubahan istilah ini membawa dampak besar bagi dunia pendidikan. Generasi muda kini diajak mempelajari G30S dengan pendekatan dialektis dan reflektif. 

Buku teks terbaru tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga mengundang diskusi kritis tentang trauma sejarah bangsa.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Sejarah Hari Lahir Pancasila, Mengapa Diperingati Setiap 1 Juni?
Stori
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Sejarah Perubahan Nama Irian Jaya menjadi Papua
Stori
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Sejarah Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Mengapa Diperingati Setiap 22 Mei?
Stori
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Sejarah Hari Reformasi Nasional 21 Mei, Runtuhnya Kekuasaan Tiga Dekade dan Fajar Baru Demokrasi 
Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 20 Mei?
Stori
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Sejarah Hari Buku Nasional, Kenapa Diperingati Setiap 17 Mei?
Stori
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Sardjito, Ilmuwan Pejuang yang Selamatkan Vaksin Lewat Tubuh Kerbau
Stori
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Sejarah 15 Mei 1998: Puncak Kerusuhan Mei yang Mempercepat Reformasi
Stori
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Sejarah Tragedi Trisakti 1998: Empat Mahasiswa Gugur dan Jalan Panjang Menuju Reformasi
Stori
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Sejarah Hari Perawat Internasional 12 Mei, Warisan Florence Nightingale bagi Dunia Keperawatan 
Stori
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Sejarah Hari Pendidikan Nasional: Perjuangan Ki Hajar Dewantara Membangun Pendidikan Merdeka
Stori
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Pidato Bung Karno tentang Hari Buruh, Ini Pesan Keadilan Sosial di Baliknya
Stori
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan di Indonesia
Stori
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Sejarah Kecelakaan Kereta Api di Indonesia, dari Padang Panjang hingga Tragedi Bekasi 2026
Stori
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Sejarah Hari Puisi Nasional, Mengenang Chairil Anwar dan Angkatan 45
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau