Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenalkan Plumadraco, Burung Purba Centil yang Punya Ekor Mirip Naga

Kompas.com, 28 Mei 2026, 10:21 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com - Bagaimana cara Anda memikat hati orang yang disukai? Memberikan kejutan romantis yang besar? Atau mengirimkan buket bunga mawar merah yang indah?

Di dunia burung, jawabannya biasanya jauh lebih sederhana namun butuh modal fisik: pamer keindahan bulu ekor.

Menariknya, sebuah penelitian terbaru terhadap fosil burung purba membuktikan bahwa cara PDKT (pendekatan) kuno ini ternyata sudah dilakukan sejak zaman purba—tepatnya 121 juta tahun yang lalu.

Baca juga: Seukuran Bola Golf dan Berwarna Biru, Gurita Misterius di Galapagos Resmi Jadi Spesies Baru

Para ilmuwan baru saja mengidentifikasi spesies burung purba baru yang diberi nama Plumadraco bankoorum (artinya Naga Bulu Banko).

Burung ini termasuk dalam kelompok enantiornithines, kelompok burung purba berukuran besar yang hidup di zaman Kapur (Cretaceous) dan punah bersama dinosaurus akibat hantaman asteroid 66 juta tahun silam.

Tubuh Mini, Ekor "Lebay"

Hal yang paling membuat para peneliti melongo dari Plumadraco adalah proporsi tubuhnya.

Bayangkan saja, panjang tubuh burung ini dari ujung paruh hingga pantat hanya berkisar 15 sentimeter—kira-kira seukuran burung robin atau burung gereja.

Ilmuwan menemukan spesies burung purba baru bernama Plumadraco bankoorum. Uniknya, burung ini punya bulu ekor super panjang dengan kilau biru yang memesona untuk memikat pasangan.Ville Sinkkonen/IFLScience Ilmuwan menemukan spesies burung purba baru bernama Plumadraco bankoorum. Uniknya, burung ini punya bulu ekor super panjang dengan kilau biru yang memesona untuk memikat pasangan.

Namun, burung jantan ini menyeret sepasang bulu ekor hias yang panjangnya mencapai hampir 30 sentimeter. Artinya, panjang ekor tersebut mencapai dua kali lipat dari panjang tubuhnya sendiri.

“Plumadraco itu seukuran burung robin Amerika, tapi bulu ekornya panjangnya sekitar satu kaki (30 cm), dua kali lipat panjang tubuhnya,” kata Alex Clark, ketua penelitian sekaligus kandidat PhD di Field Museum dan University of Chicago, dalam sebuah pernyataan resmi dikutip IFLScience.

Clark menambahkan bahwa ini adalah salah satu bulu ekor paling panjang secara proporsional yang pernah ditemukan pada fosil burung.

“Dengan spesimen ini, kami memiliki argumen yang kuat bahwa tidak hanya pejantan purba yang mencoba menarik perhatian betina dengan hiasan bulu, tetapi mereka juga melakukannya dengan panjang yang luar biasa, dan kemungkinan besar lewat tarian pertunjukan,” lanjut Clark.

Berkilau Biru dan Bisa "Bergoyang"

Fosil yang tersimpan di Museum Tianyu Shandong, China ini memiliki tingkat pengawetan yang luar biasa.

Berkat kecanggihan teknologi mass spectrometer, tim peneliti bahkan berhasil merekonstruksi warna asli dari bulu ekor tersebut berdasarkan kandungan kimiawi yang tersisa pada fosil.

Hasil analisis menunjukkan bahwa bulu tubuh Plumadraco kemungkinan besar berwarna cokelat tua atau hitam.

Namun, bagian ujung bulu ekornya yang panjang memiliki efek iridescence— alias kilauan warna biru yang berkilap saat terkena cahaya, mirip seperti struktur bulu burung merak modern.

Uniknya, struktur tulang dan otot pada fosil menunjukkan bahwa bulu ekor raksasa ini sama sekali tidak digunakan untuk membantu burung terbang.

Alih-alih untuk navigasi di udara, ekor ini dirancang untuk dikibas-kibaskan atau digoyangkan di belakang tubuh mereka demi memikat burung betina.

Baca juga: Niat Berburu Semut, Ilmuwan Malah Temukan Spesies Baru Laba-Laba Tersenyum di Himalaya

"Menjembatani Jabat Tangan dengan Dinosaurus"

Penelitian menarik yang telah resmi diterbitkan dalam jurnal PLOS One ini membawa pesan hangat dari sang peneliti. Alex Clark berharap penemuan ini bisa sedikit mengalihkan perhatian manusia dari ego diri sendiri keindahan dunia alam yang sangat kaya.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya dalam penelitian paleontologi ini untuk dapat memperkenalkan organisme baru, individu baru, kepada spesies kita (manusia). Makhluk ini belum pernah melihat matahari lagi selama lebih dari 121 juta tahun—dan sekarang Anda di sini sedang membaca kisahnya. Itu membuat saya sangat bahagia. Ini seperti menjembatani jabat tangan antara masyarakat umum dengan dinosaurus," pungkas Clark dengan hangat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau