Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran

Kompas.com, 28 Mei 2026, 17:22 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com - Gelar lukisan cadas non-figuratif tertua di dunia kini resmi disandang oleh Indonesia.

Sebuah cap tangan prasejarah berusia minimal 67.800 tahun yang ditemukan di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini dinobatkan sebagai pemecah rekor oleh Guinness World Records (GWR).

Namun, di balik kegemilangan rekor dunia tersebut, ada kisah perjuangan panjang, rasa penasaran yang kuat, hingga drama laboratorium yang sempat tertunda akibat perang di Ukraina.

Baca juga: Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia

Dr. Adhi Agus Oktaviana, peneliti dan pakar arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, membagikan cerita eksklusifnya tentang bagaimana ia "memburu" cap tangan legendaris ini sejak lebih dari satu dekade lalu.

Berawal dari Rasa Penasaran di Tahun 2015

Kisah penemuan ini bermula pada tahun 2015, ketika Dr. Adhi terlibat dalam proyek pembuatan buku gambar cadas prasejarah Indonesia.

Ia ditugaskan untuk meneliti wilayah Muna bersama tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta mendiang pakar ahli prasejarah, Pak Pindi Setiawan.

Saat mempelajari laporan-laporan penelitian terdahulu, Gua Liang Metanduno tercatat sebagai salah satu gua terbesar dengan koleksi lukisan prasejarah terbanyak.

Anehnya, tidak ada satu pun laporan yang menyebutkan adanya lukisan cap tangan di sana.

"Saya kok penasaran gitu. Kenapa di Gua Metanduno belum ada laporan (cap tangan)?" kenang Dr. Adhi kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Rasa penasaran itu membawanya masuk jauh ke dalam gua. Di sana, tim pertama kali menemukan tiga buah cap tangan di langit-langit bongkahan batu besar (boulder) runtuhan gua.

Lukisan yang berada di Goa Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, disebut sebagai lukisan yang tertua di dunia, dengan usia mencapai 67.800 tahun.DEFRIATNO NEKE Lukisan yang berada di Goa Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, disebut sebagai lukisan yang tertua di dunia, dengan usia mencapai 67.800 tahun.

Namun, kondisinya sudah sangat aus.

Sempat terjadi perdebatan kecil di dalam gua karena bentuknya yang samar, namun Dr. Adhi yakin itu adalah cap tangan manusia purba dan memutuskan mencari lebih dalam ke area belakang gua.

Pencarian itu membuahkan hasil manis. Di dinding sebelah kanan dan langit-langit gua, Dr. Adhi menemukan deretan cap tangan yang tertutup oleh coraloid speleothem—sejenis lapisan mineral gua yang tumbuh merata dan masif. Di sinilah kunci penanggalan itu berada.

Tak Menyangka Umurnya Tembus 67 Ribu Tahun

Menariknya, saat pertama kali ditemukan pada tahun 2015, Adhi sama sekali tidak menyangka bahwa cap tangan tersebut akan memecahkan rekor dunia. Berdasarkan data publikasi tahun 2014, lukisan serupa di kawasan lain rata-rata "hanya" berusia sekitar 17.000 hingga 20.000 tahun.

"Menurutku mungkin ya enggak setua 40.000 tahun lah," ujarnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau