Penulis
KOMPAS.com - Gelar lukisan cadas non-figuratif tertua di dunia kini resmi disandang oleh Indonesia.
Sebuah cap tangan prasejarah berusia minimal 67.800 tahun yang ditemukan di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini dinobatkan sebagai pemecah rekor oleh Guinness World Records (GWR).
Namun, di balik kegemilangan rekor dunia tersebut, ada kisah perjuangan panjang, rasa penasaran yang kuat, hingga drama laboratorium yang sempat tertunda akibat perang di Ukraina.
Baca juga: Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Dr. Adhi Agus Oktaviana, peneliti dan pakar arkeometri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, membagikan cerita eksklusifnya tentang bagaimana ia "memburu" cap tangan legendaris ini sejak lebih dari satu dekade lalu.
Kisah penemuan ini bermula pada tahun 2015, ketika Dr. Adhi terlibat dalam proyek pembuatan buku gambar cadas prasejarah Indonesia.
Ia ditugaskan untuk meneliti wilayah Muna bersama tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta mendiang pakar ahli prasejarah, Pak Pindi Setiawan.
Saat mempelajari laporan-laporan penelitian terdahulu, Gua Liang Metanduno tercatat sebagai salah satu gua terbesar dengan koleksi lukisan prasejarah terbanyak.
Anehnya, tidak ada satu pun laporan yang menyebutkan adanya lukisan cap tangan di sana.
"Saya kok penasaran gitu. Kenapa di Gua Metanduno belum ada laporan (cap tangan)?" kenang Dr. Adhi kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Rasa penasaran itu membawanya masuk jauh ke dalam gua. Di sana, tim pertama kali menemukan tiga buah cap tangan di langit-langit bongkahan batu besar (boulder) runtuhan gua.
Lukisan yang berada di Goa Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, disebut sebagai lukisan yang tertua di dunia, dengan usia mencapai 67.800 tahun.Namun, kondisinya sudah sangat aus.
Sempat terjadi perdebatan kecil di dalam gua karena bentuknya yang samar, namun Dr. Adhi yakin itu adalah cap tangan manusia purba dan memutuskan mencari lebih dalam ke area belakang gua.
Pencarian itu membuahkan hasil manis. Di dinding sebelah kanan dan langit-langit gua, Dr. Adhi menemukan deretan cap tangan yang tertutup oleh coraloid speleothem—sejenis lapisan mineral gua yang tumbuh merata dan masif. Di sinilah kunci penanggalan itu berada.
Menariknya, saat pertama kali ditemukan pada tahun 2015, Adhi sama sekali tidak menyangka bahwa cap tangan tersebut akan memecahkan rekor dunia. Berdasarkan data publikasi tahun 2014, lukisan serupa di kawasan lain rata-rata "hanya" berusia sekitar 17.000 hingga 20.000 tahun.
"Menurutku mungkin ya enggak setua 40.000 tahun lah," ujarnya.