Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Temukan Spesies Baru Ubur-ubur Kotak di Singapura, Awas Mematikan

Kompas.com, 21 Mei 2026, 09:57 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com – Tim peneliti internasional berhasil mengidentifikasi spesies baru ubur-ubur kotak (box jellyfish) yang sangat beracun dan mematikan di perairan Singapura.

Spesies baru ini dideskripsikan berdasarkan beberapa spesimen yang ditemukan berkeliaran di dekat sebuah pulau yang dulunya dikenal sebagai Pulau Blakang Mati (sekarang menjadi Pulau Sentosa) pada tahun 2020 dan 2021.

Baca juga: Jangan Disentuh! Ubur-ubur Mulai Muncul di Pantai Gunungkidul, 3 Wisatawan Jadi Korban

Ubur-ubur baru ini secara resmi diberi nama ilmiah Chironex blakangmati.

Nama tersebut sengaja diambil dari nama kuno pulau tersebut dalam bahasa Melayu yang berarti "Pulau Kematian di Belakang", alih-alih menggunakan nama "Sentosa" yang berarti kedamaian dan ketentraman.

Pemberian nama bernuansa seram ini dirasa sangat cocok, mengingat tingkat bahaya yang dibawa oleh hewan mikroskopis tersebut bagi manusia.

Chironex blakangmati merupakan satu dari empat spesies ubur-ubur kotak dari genus Chironex yang telah diketahui di dunia, di mana seluruh anggotanya dikenal sangat berbisa.

Sengatan mereka, yang dilepaskan melalui sel khusus pada tentakelnya (nematocysts), sangat kuat hingga mampu menyebabkan kematian pada manusia.

Berbeda dengan sebagian besar ubur-ubur lain yang hanya bergerak pasif mengikuti arus laut, ubur-ubur kotak dari genus Chironex memiliki otot yang kuat dan mata yang kompleks.

Kemampuan ini membuat mereka dapat mendeteksi keberadaan mangsa secara aktif dan berenang langsung menuju sasaran.

Sempat Salah Identifikasi

Sebelumnya, para ilmuwan sempat salah mengira C. blakangmati sebagai spesies ubur-ubur kotak lain bernama Chironex yamaguchii.

Namun, laporan terbaru yang terbit di jurnal Raffles Bulletin of Zoology mematahkan anggapan tersebut setelah membuktikan adanya perbedaan genetika dan morfologi yang signifikan.

"C. blakangmati terlihat sangat mirip dengan Chironex yamaguchii—spesies ubur-ubur yang pertama kali saya temukan di Okinawa saat menempuh studi magister di sana," kata salah satu penulis studi, Cheryl Ames, Profesor Biologi Kelautan Terapan di Tohoku University, Jepang, sekaligus peneliti asosiasi di Smithsonian National Museum of Natural History, Washington, D.C, dikutip Live Science.

"Namun, kami menyadari bahwa keduanya benar-benar berbeda. Saya bahkan memeriksa kembali sampel lama C. yamaguchii yang masih saya simpan di Okinawa untuk membantu proses perbandingan!" lanjut Ames dalam sebuah pernyataan resmi.

Dari hasil pembedahan anatomi, peneliti menemukan bahwa spesies baru ini tidak memiliki struktur saluran bercabang di bagian bawah tubuhnya yang berbentuk seperti lonceng. Saluran tersebut biasanya ditemukan pada C. yamaguchii serta dua spesies Chironex lainnya, yaitu C. fleckeri dan C. indrasaksajiae.

Secara spesifik, saluran ini berada di dalam perradial lappets, yaitu lipatan yang memperkuat otot pendorong ubur-ubur kotak saat berenang.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau