Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misteri Genetik Terpecahkan, Penguin Gentoo Kini Resmi Terbagi Menjadi 4 Spesies Berbeda

Kompas.com, 12 Mei 2026, 16:47 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com – Selama lebih dari satu abad, dunia sains meyakini hanya ada satu spesies penguin Gentoo di dunia.

Namun, penelitian terbaru mematahkan anggapan tersebut.

Para ilmuwan kini mengusulkan agar penguin Gentoo dibagi menjadi empat spesies yang berbeda, termasuk penemuan satu spesies yang benar-benar baru.

Temuan ini menjadi momen bersejarah karena menandai penemuan spesies penguin baru pertama yang diidentifikasi secara resmi dalam 100 tahun terakhir.

Baca juga: Di Balik Tubuh Gempal, Penguin Makaroni Ternyata Punya Otot Bahu Sekuat Pesawat

Akhiri Perdebatan Taksonomi Selama Seabad

Dikutip IFLScience, penguin Gentoo dikenal sebagai penghuni setia wilayah Antartika dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Georgia Selatan dan Kepulauan Shetland Selatan.

Sifat mereka yang sangat loyal pada lokasi sarang membuat aliran gen antar-populasi menjadi terbatas, sehingga memicu isolasi genetik.

“Mungkin tidak ada spesies penguin yang taksonominya lebih banyak diperdebatkan daripada penguin Gentoo,” ujar Bowie, kurator di Museum Zoologi Vertebrata UC Berkeley.

Dengan menggunakan pendekatan integratif mutakhir, tim peneliti menganalisis data genetik dari 64 penguin di 10 koloni pembiakan yang berbeda di seluruh Samudra Selatan.

Hasilnya, tiga subspesies yang telah lama dikenal diusulkan untuk naik status menjadi spesies penuh, ditambah satu spesies baru dari Kepulauan Kerguelen.

Empat Spesies Penguin Gentoo

Berdasarkan perbedaan genetik dan morfologi (bentuk fisik), berikut adalah pembagian empat spesies tersebut:

  • Penguin Gentoo Utara (Pygoscelis papua): Terbatas di Kepulauan Falkland/Malvinas dan Martillo di Amerika Selatan.
  • Penguin Gentoo Selatan (P. ellsworthi): Satu-satunya spesies kutub yang tersebar di Semenanjung Antartika dan kepulauan sekitarnya.
  • Penguin Gentoo Timur (P. taeniata): Mencakup koloni di Kepulauan Crozet, Marion, dan Macquarie.
  • Penguin Gentoo Tenggara (Pygoscelis kerguelensis): Ini adalah spesies yang sepenuhnya baru, ditemukan di Kepulauan Kerguelen (Kepulauan Desolasi).

Spesies-spesies ini memiliki adaptasi unik terhadap habitatnya.

Misalnya, Gentoo Timur beradaptasi dengan curah hujan tinggi, sementara Gentoo Selatan lebih tahan terhadap kadar garam tinggi dan tutupan es.

Baca juga: Penguin Kaisar Antartika Kini Berstatus Terancam Punah karena Perubahan Iklim, 9 Tahun Populasinya Turun 10 Persen

Ancaman Nyata Perubahan Iklim

Meski penemuan ini menjadi kabar gembira bagi ilmu pengetahuan, terdapat peringatan serius di baliknya. Model iklim yang memproyeksikan kondisi tahun 2050 menunjukkan bahwa tiga dari empat spesies ini terancam kehilangan habitatnya akibat pemanasan global.

Hanya spesies yang berada di daratan utama Antartika yang memiliki potensi untuk memperluas jangkauan wilayahnya. Sebaliknya, spesies yang mendiami pulau-pulau terpencil berada dalam bahaya besar.

“Spesies penguin di pulau-pulau ini, karena mereka endemik, tidak akan memiliki tempat tujuan setelah terjadi perubahan pada lingkungan mereka. Pulau-pulau tersebut sangat terisolasi, dan penguin ini tidak mudah beradaptasi untuk menjajah wilayah lain,” kata Juliana Vianna, profesor di Universitas Nasional Andrés Bello, Chile.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology ini menekankan pentingnya perlindungan khusus bagi tiap-tiap spesies yang kini memiliki identitas genetik unik dan rentan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau