Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hoaks Penculikan Anak Bermunculan di Media Sosial, Jangan Sampai Terprovokasi!

Kompas.com, 17 Februari 2025, 11:11 WIB
Tim Cek Fakta

Penulis

KOMPAS.com - Unggahan yang berisi informasi simpang siur mengenai adanya penculikan anak bermunculan di media sosial pada Februari 2025.

Hal ini tentunya membuat masyarakat semakin waspada. Apalagi, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 59 kasus penculikan dan perdagangan anak pada tahun 2023.

Namun, tidak semua informasi yang beredar di media sosial itu benar. Beberapa unggahan justru menyebarkan informasi keliru.

Jika tidak jeli, masyarakat bisa menjadi korban hoaks yang justru semakin memperkeruh keadaan. Hoaks penculikan anak bisa menjadi sumber provokasi yang berpotensi menimbulkan kerusuhan.

Misalnya, seperti yang terjadi di Wamena pada Februari 2023. Kerusuhan terjadi setelah massa yang terprovokasi isu penculikan anak ingin melakukan tindak main hakim sendiri terhadap orang yang dianggap mencurigakan.

Kerusuhan itu setidaknya menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Tiga di antaranya merupakan pendatang yang dianggap mencurigakan dan menjadi korban penyerangan.

Supaya tidak menjadi korban hoaks dan provokasi, berikut Tim Cek Fakta Kompas.com merangkum hoaks soal penculikan yang beredar di media sosial:

Poster Polresta Sidoarjo

Polresta Sidoarjo, Jawa Timur diklaim mengeluarkan poster peringatan soal penculikan anak pada bulan Januari 2025. 

Namun, unggahan itu tidak benar. Kasi Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono menyebut, pihaknya tidak pernah mengeluarkan poster tersebut.

Menurut Novi, poster palsu itu sebelumnya telah beredar sejak 2019 dan telah dibantah oleh Polresta Sidoarjo. 

Saat dicek, tidak ada pengaduan dari masyarakat soal kasus penculikan anak di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur pada Januari 2025. 

Selengkapnya baca di sini. 

Di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah

Seorang anak di Desa Buga, Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah diklaim nyaris menjadi korban penculikan pada akhir Januari 2025. 

Namun setelah polisi mengecek ke lokasi, tidak ditemukan informasi dugaan penculikan anak di Desa Buga. Kapolres Tolitoli, AKBP Wayan Wayracana Aryawan memastikan informasi tersebut adalah hoaks.

Menurut Wayan, ibu dari anak yang disebut menjadi korban penculikan juga membantah narasi yang beredar di media sosial.

Selengkapnya baca di sini

Di Desa Sukaraja, Sumatera Selatan

Sebuah video diklaim menampilkan momen ketika warga di Desa Sukaraja, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan menangkap pelaku penculikan anak. 

Namun, narasi tersebut keliru. Video itu telah beredar sejak 2023.

Saat itu, warga Desa Sukaraja tersulut emosi usai menerima kabar soal penculikan anak di Desa Terusan, Kecamatan Karang Jaya, Muratara.

Setelah diperiksa oleh polisi, orang yang diamuk oleh warga ternyata bukan penculik, melainkan pedagang jaket asal Garut, Jawa Barat. 

Selengkapnya baca di sini. 

Poster Polda Sumbar

Pada Februari 2025 di media sosial muncul poster soal peringatan penculikan anak yang diklaim berasal dari Polda Sumatera Barat. 

Masyarakat diminta berhati-hati terhadap penculik yang berpura-pura menjadi seorang penjual, pengemis, ibu hamil, serta orang gila.

Namun, unggahan itu tidak benar. Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Dwi Sulistyawan menyebut, pihaknya tidak pernah mengeluarkan poster soal peringatan penculikan anak seperti dalam unggahan yang beredar.

Poster serupa sebelumnya juga pernah beredar pada tahun 2020 dengan mencatut logo Polda Jawa Barat

Selengkapnya baca di sini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
[KLARIFIKASI] Video Lautan Manusia di Mekkah Ini Dibuat dengan AI
[KLARIFIKASI] Video Lautan Manusia di Mekkah Ini Dibuat dengan AI
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pemprov NTB Rilis Imbauan Waspada Penculikan Anak di Lombok
[HOAKS] Pemprov NTB Rilis Imbauan Waspada Penculikan Anak di Lombok
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Indonesia Stop Pakai Dollar AS dan Pindah ke Yuan
[HOAKS] Indonesia Stop Pakai Dollar AS dan Pindah ke Yuan
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Adam Suseno Dirawat di RS pada Mei 2026, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Adam Suseno Dirawat di RS pada Mei 2026, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Video Jet Tempur AS yang Rusak Ini adalah Konten AI
INFOGRAFIK: Video Jet Tempur AS yang Rusak Ini adalah Konten AI
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Menhan Sjafrie Umumkan Program Bantuan untuk Para Pensiunan
[HOAKS] Menhan Sjafrie Umumkan Program Bantuan untuk Para Pensiunan
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Tidak Benar Visa Lima Pemain Timnas Irak Ditolak AS
[KLARIFIKASI] Tidak Benar Visa Lima Pemain Timnas Irak Ditolak AS
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pigai Sebut Putusnya Kabel SUTET sebagai Pelanggaran HAM
[HOAKS] Pigai Sebut Putusnya Kabel SUTET sebagai Pelanggaran HAM
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Seleksi CPNS 2026 Sudah Dibuka, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Seleksi CPNS 2026 Sudah Dibuka, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Iran Serang Kilang Minyak Israel pada Maret 2026, Bukan saat Idul Adha
[KLARIFIKASI] Iran Serang Kilang Minyak Israel pada Maret 2026, Bukan saat Idul Adha
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Prabowo Bolehkan Israel Uji Coba Rudal ke Wilayah Indonesia
[HOAKS] Prabowo Bolehkan Israel Uji Coba Rudal ke Wilayah Indonesia
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Yusril Sebut Ijazah Jokowi Sah di Mata Hukum, Cek Faktanya
INFOGRAFIK: Hoaks Yusril Sebut Ijazah Jokowi Sah di Mata Hukum, Cek Faktanya
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pigai Sebut Penculikan WNI oleh Militer Israel adalah Risiko
[HOAKS] Pigai Sebut Penculikan WNI oleh Militer Israel adalah Risiko
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Surat Pemberitahuan Polres Kupang soal Adanya Penculikan Anak
[HOAKS] Surat Pemberitahuan Polres Kupang soal Adanya Penculikan Anak
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Pocong Maling Kambing Ini Dibuat dengan AI
[KLARIFIKASI] Foto Pocong Maling Kambing Ini Dibuat dengan AI
Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau