Penulis
KOMPAS.com - Unggahan yang berisi informasi simpang siur mengenai adanya penculikan anak bermunculan di media sosial pada Februari 2025.
Hal ini tentunya membuat masyarakat semakin waspada. Apalagi, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 59 kasus penculikan dan perdagangan anak pada tahun 2023.
Namun, tidak semua informasi yang beredar di media sosial itu benar. Beberapa unggahan justru menyebarkan informasi keliru.
Jika tidak jeli, masyarakat bisa menjadi korban hoaks yang justru semakin memperkeruh keadaan. Hoaks penculikan anak bisa menjadi sumber provokasi yang berpotensi menimbulkan kerusuhan.
Misalnya, seperti yang terjadi di Wamena pada Februari 2023. Kerusuhan terjadi setelah massa yang terprovokasi isu penculikan anak ingin melakukan tindak main hakim sendiri terhadap orang yang dianggap mencurigakan.
Kerusuhan itu setidaknya menyebabkan 10 orang meninggal dunia. Tiga di antaranya merupakan pendatang yang dianggap mencurigakan dan menjadi korban penyerangan.
Supaya tidak menjadi korban hoaks dan provokasi, berikut Tim Cek Fakta Kompas.com merangkum hoaks soal penculikan yang beredar di media sosial:
Polresta Sidoarjo, Jawa Timur diklaim mengeluarkan poster peringatan soal penculikan anak pada bulan Januari 2025.
Namun, unggahan itu tidak benar. Kasi Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono menyebut, pihaknya tidak pernah mengeluarkan poster tersebut.
Menurut Novi, poster palsu itu sebelumnya telah beredar sejak 2019 dan telah dibantah oleh Polresta Sidoarjo.
Saat dicek, tidak ada pengaduan dari masyarakat soal kasus penculikan anak di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur pada Januari 2025.
Selengkapnya baca di sini.
Seorang anak di Desa Buga, Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah diklaim nyaris menjadi korban penculikan pada akhir Januari 2025.
Namun setelah polisi mengecek ke lokasi, tidak ditemukan informasi dugaan penculikan anak di Desa Buga. Kapolres Tolitoli, AKBP Wayan Wayracana Aryawan memastikan informasi tersebut adalah hoaks.
Menurut Wayan, ibu dari anak yang disebut menjadi korban penculikan juga membantah narasi yang beredar di media sosial.
Selengkapnya baca di sini
Sebuah video diklaim menampilkan momen ketika warga di Desa Sukaraja, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan menangkap pelaku penculikan anak.
Namun, narasi tersebut keliru. Video itu telah beredar sejak 2023.
Saat itu, warga Desa Sukaraja tersulut emosi usai menerima kabar soal penculikan anak di Desa Terusan, Kecamatan Karang Jaya, Muratara.
Setelah diperiksa oleh polisi, orang yang diamuk oleh warga ternyata bukan penculik, melainkan pedagang jaket asal Garut, Jawa Barat.
Selengkapnya baca di sini.
Pada Februari 2025 di media sosial muncul poster soal peringatan penculikan anak yang diklaim berasal dari Polda Sumatera Barat.
Masyarakat diminta berhati-hati terhadap penculik yang berpura-pura menjadi seorang penjual, pengemis, ibu hamil, serta orang gila.
Namun, unggahan itu tidak benar. Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Dwi Sulistyawan menyebut, pihaknya tidak pernah mengeluarkan poster soal peringatan penculikan anak seperti dalam unggahan yang beredar.
Poster serupa sebelumnya juga pernah beredar pada tahun 2020 dengan mencatut logo Polda Jawa Barat
Selengkapnya baca di sini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang