Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hotel di Kota Tua Jakarta Ini Simpan Koper Pangeran Diponegoro

Kompas.com, 30 April 2026, 15:49 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, terdapat koper Pangeran Diponegoro yang menjadi saksi bisu perjuangannya melawan Belanda. Koper tahun 1834 itu berwarna coklat gelap, dan diletakkan di dalam lemari kaca.

"Koper terbuat dari akar pohon yang digunakan pada saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar," kata Regional Sales & Marketing Manager, Tugu Hotels & Restaurants, Rosiany "Sian" T. Chandra, Rabu (15/4/2026).

Tak sembarang orang bisa melihat koper tersebut. Letak koper cukup tersembunyi di balik patung Pangeran Diponegoro berukuran besar, dan hanya tamu hotel yang ikut tur yang bisa melihatnya.

Baca juga:

Kapal Macan (Tigersgrach Kah Matjan) di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, Rabu (15/4/2026).KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Kapal Macan (Tigersgrach Kah Matjan) di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Koper Pangeran Diponegoro hanya satu dari banyak benda-benda kuno nan bersejarah yang ada di hotel tersebut. 

Beberapa contohnya, surat dengan tulisan tangan Soekarno kepada Fatmawati, trem yang bisa difungsikan sebagai area makan khusus, dan pintu di klub sosial elit Batavia, Societeit de Harmonie.

Ada pula perahu macan (Tigersgracht) berukuran raksasa yang tersimpan baik di balik kaca. 

"(Kapal macan) digunakan dulu buat upacara sakral, untuk menyelamati pelayaran sekitar di Kali Besar. Kita dapatkan catatan sejarahnya dari literatur bahasa Belanda," ucap Sian, yang memandu Kompas.com siang itu.

Baca juga:

House of Tugu, Old Town Jakarta

Para tamu jadi bagian dari Kota Tua Jakarta

Tiap sudut hotel punya cerita tersendiri tentang sejarah, warisan, dan seni Indonesia yang seakan tidak ada habisnya. 

Bangunan hotel, yang lokasinya di depan Kali Krukut, dulunya bagian dari kompleks rumah milik pedagang China yang agak nyentrik.

Kapiten Hall atau front office House of Tugu, Old Town Jakarta pada Rabu (15/4/2026). Terdapat papan nama Kong Kuan di salah satu dinding.KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira Kapiten Hall atau front office House of Tugu, Old Town Jakarta pada Rabu (15/4/2026). Terdapat papan nama Kong Kuan di salah satu dinding.

"Dia tidak ingin rumahnya dimasuki oleh orang, jadi dia seperti introvert, dia membangun tembok sekeliling rumahnya. Oleh sebab itu, dikenal waktu itu sebagai The Forbidden House of Batavia (Rumah Terlarang Batavia)," jelas Sian.

Denah rumah tersebut masih terpajang rapi di salah satu ruangan hotel. Papan nama "The Forbidden House of Batavia" bisa dilihat ketika tamu memasuki front office hotel atau Kapiten Hall. 

Seiring berjalannya waktu, kompleks rumah tersebut terbagi menjadi beberapa blok. Salah satunya menjadi kantor Kong Koan, organisasi perkumpulan pedagang-pedagang China waktu itu. Pemimpinnya dipilih oleh VOC dan disebut sebagai "kapiten".

"House of Tugu Jakarta menjadi bagian dari Kota Tua karena tamu-tamu yang datang menginap di sini, selain merasakan vibes zaman dulu, juga blend in dengan sejarah Kota Tua," kata Sian. 

Para tamu yang menginap tidak hanya memperoleh pelajaran tentang Kota Tua secara tidak langsung, tapi juga menjadi bagian dari Kota Tua ketika mereka melangkah ke luar hotel. 

Halaman:


Terkini Lainnya
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Keluhan Wisatawan Ada dugaan Pungli di Pantai Watulawang, Gunungkidul langsung ditindaklanjuti
Keluhan Wisatawan Ada dugaan Pungli di Pantai Watulawang, Gunungkidul langsung ditindaklanjuti
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau