Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, terdapat koper Pangeran Diponegoro yang menjadi saksi bisu perjuangannya melawan Belanda. Koper tahun 1834 itu berwarna coklat gelap, dan diletakkan di dalam lemari kaca.
"Koper terbuat dari akar pohon yang digunakan pada saat Pangeran Diponegoro dibuang ke Makassar," kata Regional Sales & Marketing Manager, Tugu Hotels & Restaurants, Rosiany "Sian" T. Chandra, Rabu (15/4/2026).
Tak sembarang orang bisa melihat koper tersebut. Letak koper cukup tersembunyi di balik patung Pangeran Diponegoro berukuran besar, dan hanya tamu hotel yang ikut tur yang bisa melihatnya.
Baca juga:
Kapal Macan (Tigersgrach Kah Matjan) di salah satu sudut Hotel House of Tugu, Old Town Jakarta, Rabu (15/4/2026).Koper Pangeran Diponegoro hanya satu dari banyak benda-benda kuno nan bersejarah yang ada di hotel tersebut.
Beberapa contohnya, surat dengan tulisan tangan Soekarno kepada Fatmawati, trem yang bisa difungsikan sebagai area makan khusus, dan pintu di klub sosial elit Batavia, Societeit de Harmonie.
Ada pula perahu macan (Tigersgracht) berukuran raksasa yang tersimpan baik di balik kaca.
"(Kapal macan) digunakan dulu buat upacara sakral, untuk menyelamati pelayaran sekitar di Kali Besar. Kita dapatkan catatan sejarahnya dari literatur bahasa Belanda," ucap Sian, yang memandu Kompas.com siang itu.
Baca juga:
Tiap sudut hotel punya cerita tersendiri tentang sejarah, warisan, dan seni Indonesia yang seakan tidak ada habisnya.
Bangunan hotel, yang lokasinya di depan Kali Krukut, dulunya bagian dari kompleks rumah milik pedagang China yang agak nyentrik.
Kapiten Hall atau front office House of Tugu, Old Town Jakarta pada Rabu (15/4/2026). Terdapat papan nama Kong Kuan di salah satu dinding."Dia tidak ingin rumahnya dimasuki oleh orang, jadi dia seperti introvert, dia membangun tembok sekeliling rumahnya. Oleh sebab itu, dikenal waktu itu sebagai The Forbidden House of Batavia (Rumah Terlarang Batavia)," jelas Sian.
Denah rumah tersebut masih terpajang rapi di salah satu ruangan hotel. Papan nama "The Forbidden House of Batavia" bisa dilihat ketika tamu memasuki front office hotel atau Kapiten Hall.
Seiring berjalannya waktu, kompleks rumah tersebut terbagi menjadi beberapa blok. Salah satunya menjadi kantor Kong Koan, organisasi perkumpulan pedagang-pedagang China waktu itu. Pemimpinnya dipilih oleh VOC dan disebut sebagai "kapiten".
"House of Tugu Jakarta menjadi bagian dari Kota Tua karena tamu-tamu yang datang menginap di sini, selain merasakan vibes zaman dulu, juga blend in dengan sejarah Kota Tua," kata Sian.
Para tamu yang menginap tidak hanya memperoleh pelajaran tentang Kota Tua secara tidak langsung, tapi juga menjadi bagian dari Kota Tua ketika mereka melangkah ke luar hotel.