Nilai “A” Mahasiswa Tak Berarti Lagi Gara-gara AI, Masa Depan Dipertaruhkan

Kompas.com, Diperbarui 28/05/2026, 13:01 WIB
Marsha Bremanda,
Zulfikar Hardiansyah

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Artificial Intelligence (AI) benar-benar berdampak di berbagai bidang, termasuk proses pembelajaran di kampus. Dulu, nilai A sangat sulit didapat, mahasiswa perlu belajar dan berupaya lebih. Namun, kondisi ini berubah gara-gara AI.

Seiring dengan pengadopsian AI yang meningkat di kalangan mahasiswa, nilai A menjadi tidak ada artinya lagi karena mudah diperoleh. Sayangnya, dengan dapat nilai tinggi karena AI, masa depan mahasiswa dalam dunia kerja justru dipertaruhkan.

Baca juga: Atas Nama AI, Puluhan Ribu Karyawan Dipecat Perusahaan-perusahaan Ini

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan University of California, Berkeley (UC Berkeley), maraknya penggunaan AI oleh mahasiswa telah memicu peningkatan nilai di sejumlah universitas.

Nilai A melonjak di kampus

Dalam laporan tersebut, peneliti senior UC Berkeley, Igor Chirikov, menganalisis lebih dari 500.000 data pendaftaran mata kuliah di 84 departemen pada sebuah universitas besar di Texas dari tahun 2018 hingga 2025.

Hasilnya cukup mengejutkan. Chirikov menemukan bahwa lonjakan nilai paling tajam terpusat pada mata kuliah yang memiliki "porsi tugas menulis dan coding yang tinggi", terutama yang mengandalkan sistem tugas bawa pulang.

Ia menyimpulkan bahwa banyak mahasiswa secara aktif menggunakan AI untuk berbuat curang demi mendapatkan nilai yang lebih baik.

Secara keseluruhan, studi ini menemukan bahwa mata kuliah yang "rentan terpapar AI" mengalami lonjakan pemberian nilai "A" sebesar 30 persen sejak ChatGPT pertama kali meledak di pasaran.

Nilai tinggi, tapi kemampuan merosot

Lewat penelitian tersebut, terungkap mahasiswa kini mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi, tapi esensi pembelajaran dan kemampuan yang mereka serap justru semakin merosot.

Dalam penelitian ini, Chirikov membedah tiga cara utama bagaimana mahasiswa menggunakan AI generatif dalam pengerjaan tugas mereka:

  • Augmentasi: AI bertindak sebagai asisten pendukung, misalnya untuk membantu riset, sementara sebagian besar pekerjaan tetap diselesaikan oleh mahasiswa.
  • Reinstatement: Penggunaan AI untuk tugas-tugas baru yang memang berbasis teknologi tersebut.
  • Displacement: AI sepenuhnya mengambil alih dan mengotomatisasi pekerjaan yang seharusnya dilakukan sendiri oleh mahasiswa, seperti menulis esai atau coding.

Baca juga: Seorang Ibu Tak Tahu Putranya Sudah Meninggal, Selama Ini Ngobrol dengan Kloning AI

Ketiga cara di atas terbukti ampuh meningkatkan nilai. Akan tetapi, hanya metode augmentasi dan reinstatement yang memiliki korelasi positif dengan pembelajaran dan pembangunan skill yang sesungguhnya.

Sayangnya, banyak tugas akademik, seperti tugas bawa pulang dan penulisan esai yang tidak diawasi justru menjadi celah bagi mahasiswa untuk melakukan displacement alias menyerahkan seluruh tugasnya kepada AI.

Masa depan mahasiswa dalam dunia kerja dipertaruhkan

Tingginya nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang sangat penting bagi mahasiswa untuk menentukan nasib mereka, baik untuk mendaftar program pascasarjana maupun bersaing di pasar kerja.

Oleh karena itu, rasional jika banyak mahasiswa mencari "jalan pintas" di tengah ketatnya persaingan industri. Namun di sisi lain, sebuah studi terbaru justru memberikan peringatan bagi masa depan dunia kerja.

Empat tahun setelah AI generatif hadir di tengah-tengah kehidupan kita, studi tersebut menunjukkan bahwa universitas-universitas di Amerika Serikat masih gagap dalam menangani konsekuensinya.

Inflasi nilai yang didorong oleh AI ini dikhawatirkan akan membuat para perekrut tenaga kerja semakin kesulitan dalam menyaring kandidat lulusan muda yang benar-benar berkompeten.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau