Seorang Ibu Tak Tahu Putranya Sudah Meninggal, Selama Ini Ngobrol dengan "Kloning" AI

Kompas.com, Diperbarui 25/05/2026, 08:42 WIB
Lely Maulida,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

Sumber Futurism

KOMPAS.com - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mampu membuat avatar atau kloning seseorang. Kemampuan ini turut dimanfaatkan untuk "menghidupkan" kembali orang yang sudah tiada.

Membuat kloning seseorang tak melulu untuk keperluan profesional atau penelitian canggih. Kemampuan ini bahkan bisa digunakan untuk hal yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga.

Salah satunya terjadi di China. Seorang Ibu tidak sadar bahwa selama ini, ia mengobrol dengan kloning putranya yang sudah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Keluarganya menutupi kejadian ini lantaran sang Ibu memiliki penyakit jantung. Sebagai gantinya, keluarga diam-diam membuat avatar AI yang mirip dengan sang putra yang telah meninggal.

Baca juga: China Lawan Blokir AS, Rilis Superkomputer Monster Tanpa GPU Nvidia

Avatar AI inilah yang selalu berkomunikasi dengan Ibu lewat video call. Sang ibu pun disebut tidak mengetahui bahwa sosok yang rutin berbicara dengannya sebenarnya hanyalah kloning berbasis AI, bukan putranya sungguhan.

Laporan ini pertama kali diungkap media lokal Litchi News. Untuk membuat kloning AI, anak dari pria yang terlibat kecelakaan memberikan foto, video, serta rekaman suara almarhum kepada perusahaan teknologi AI untuk membuat tiruan digital yang dapat berbicara layaknya manusia asli.

Dalam salah satu percakapan, sang ibu mengaku sangat merindukan anaknya dan berharap bisa bertemu langsung.

"Kamu harus lebih sering menelepon, agar Ibu tahu apakah kamu baik-baik saja atau tidak di sana," kata wanita berusia 80-an tahun itu.

Avatar AI tersebut kemudian merespons seolah dirinya benar-benar sang anak.

"Iya, bu. Akan tetapi aku terlalu sibuk, jadi tidak bisa berlama-lama mengobrol. Jaga diri baik-baik ya. Setelah saya punya cukup uang, saya akan pulang," demikian respons AI.

Adapun perusahaan AI yang menyediakan layanan pembuatan avatar dalam kasus ini berkelakar bahwa bisnisnya memang "menipu emosi manusia".

Namun pihaknya juga memastikan bahwa tujuannya adalah untuk menghibur mereka yang masih hidup dalam mengenang orang yang telah pergi untuk selamanya.

Di China, cerita ibu dengan kloningan AI anaknya ini memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menilai bahwa pihak keluarga bertindak terlalu jauh hingga menilai penggunaan AI pada kasus ini tidak layak.

Warganet lainnya menilai bahwa tindakan keluarga yang diam-diam membuat kloningan AI justru lebih merugikan sang ibu, ketimbang membeberkan kebenaran, dihimpun KompasTekno dari Futurism.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau