Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Nyaris Rp 18.000, Ekonom Soroti Dampak Investasi dari Kunjungan Luar Negeri

Kompas.com, 28 Mei 2026, 17:06 WIB
Kiki Safitri,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya angka pengangguran memicu kritik terhadap intensitas kunjungan pemerintah ke luar negeri untuk menarik investasi.

Ekonom sekaligus Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, menilai berbagai lawatan internasional pemerintah belum memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja baru di dalam negeri.

Timboel menyoroti tingginya angka pengangguran terbuka yang mencapai sekitar 7,4 juta orang, ditambah 11,6 juta setengah penganggur yang masih mencari pekerjaan lebih layak.

Baca juga: Rupiah Juga Anjlok terhadap Dollar Singapura, Apa Dampaknya bagi RI?

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat.
ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat.

Kondisi tersebut juga diperberat oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus terjadi di berbagai sektor industri.

Menurut dia, masyarakat berharap kunjungan Presiden ke berbagai negara mampu menghasilkan realisasi investasi yang konkret dan berdampak langsung terhadap pembukaan lapangan kerja formal.

“Kunjungan demi kunjungan ke luar negeri memberikan janji masuknya investasi ke Indonesia, namun investasi yang dijanjikan belum signifikan masuk untuk membuka lapangan pekerjaan lebih banyak,” ujar Timboel Siregar kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

Ia menambahkan, setiap tahun jumlah angkatan kerja baru terus bertambah, mulai dari lulusan perguruan tinggi hingga SMA dan SMK.

Baca juga: Rupiah di Zona Waspada, Ekonom: Pasar Sedang Uji Kredibilitas Pemerintah

Di sisi lain, pekerja yang terkena PHK juga terus bertambah dan kembali masuk ke pasar tenaga kerja untuk mencari pekerjaan baru.

Timboel mencatat, jumlah pekerja yang terkena PHK pada 2024 mencapai sekitar 70.000 orang, meningkat menjadi sekitar 80.000 orang pada 2025.

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.

Sementara hingga April 2026, jumlah PHK telah mencapai sekitar 15.000 pekerja dan diperkirakan masih akan bertambah.

Menurut dia, pembukaan lapangan kerja formal menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Baca juga: PT DSI Dibentuk, Pemerintah Yakin Rupiah Bisa Rp 16.900 Per Dollar AS

“Kalau kunjungan ke luar negeri tidak memberikan manfaat untuk pembukaan lapangan kerja di Indonesia, patutlah rakyat mempertanyakan kunjungan Presiden dan rombongannya ke luar negeri,” katanya.

Selain menyoroti minimnya dampak investasi, Timboel juga mengkritik tingginya kebutuhan valuta asing untuk perjalanan luar negeri di tengah tekanan terhadap rupiah.

Ia menyebut nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 17.845 per dollar AS dan masih berpotensi melemah hingga kisaran Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per dollar AS.

Dalam kondisi tersebut, ia menilai perjalanan luar negeri sebaiknya dibatasi dan difokuskan pada agenda prioritas yang benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.

Baca juga: Ekonom Soroti Paket Stimulus Pemerintah di Tengah Pelemahan Rupiah

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau