Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investor Legendaris Michael Burry Sebut Pasar AI Terlalu Panas, Mirip Dot-com Bubble

Kompas.com, 10 Mei 2026, 06:52 WIB
Teuku Muhammad Valdy Arief

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com-Investor legendaris Michael Burry memperingatkan euforia pasar terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menyerupai fase akhir gelembung dot-com pada akhir 1990-an.

Burry dikenal luas setelah berhasil memprediksi krisis pasar perumahan Amerika Serikat pada 2008, yang kemudian diangkat dalam film The Big Short.

Dalam unggahan di platform Substack pada Jumat (8/5/2026), Burry mengatakan perhatian investor kini terlalu terpusat pada AI.

“AI benar-benar tanpa henti. Tidak ada yang membicarakan hal lain sepanjang hari,” tulis Burry, dilansir CNBC.

Baca juga: Manus AI, Meta dan Nasib Platform Digital Indonesia

Menurut dia, pasar saham AS saat ini tidak lagi bergerak berdasarkan data ekonomi secara rasional.

Burry menyoroti kondisi ketika indeks saham tetap naik meski indikator ekonomi menunjukkan pelemahan.

Pada Jumat lalu, indeks S&P 500 kembali mencetak rekor tertinggi setelah investor merespons positif data ketenagakerjaan AS April 2026 yang sedikit lebih baik dari perkiraan.

Pada saat bersamaan, data sentimen konsumen justru menunjukkan pelemahan tajam.

“Saham tidak naik atau turun karena pekerjaan atau sentimen konsumen,” tulis Burry.

“Saham terus naik karena memang sudah terus naik. Berdasarkan tesis dua huruf yang semua orang pikir mereka pahami. ... Terasa seperti bulan-bulan terakhir gelembung 1999-2000,” lanjut dia.

Baca juga: Cloudflare PHK 1.100 Karyawan, Imbas Adopsi AI

Bandingkan dengan Gelembung Dot-com

Burry juga membandingkan kenaikan indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index atau SOX dengan pola pasar sebelum pecahnya gelembung teknologi pada Maret 2000.

Indeks SOX naik lebih dari 10 persen pekan ini. Sepanjang 2026, indeks tersebut sudah melonjak sekitar 65 persen.

Kenaikan saham semikonduktor terjadi karena investor memburu perusahaan yang dianggap diuntungkan oleh perkembangan AI generatif.

Selama dua tahun terakhir, saham perusahaan chip dan raksasa teknologi menjadi motor utama reli pasar saham AS.

Antusiasme terhadap AI membuat valuasi banyak perusahaan teknologi melonjak tajam.

Peringatan serupa juga datang dari investor miliarder Paul Tudor Jones.

Dalam wawancara dengan CNBC, Jones mengatakan kondisi pasar saat ini mengingatkannya pada tahun 1999, sekitar satu tahun sebelum gelembung dot-com pecah.

Meski begitu, ia menilai reli saham berbasis AI masih berpotensi berlanjut dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Namun, Jones mengingatkan risiko koreksi besar akan meningkat jika valuasi saham terus melambung.

“Bayangkan saja pasar saham naik lagi 40 persen,” kata Jones.

“Rasio kapitalisasi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) mungkin akan mencapai 300 persen hingga 350 persen. Anda tahu akan ada beberapa koreksi yang sangat mengejutkan,” lanjut dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau