Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Iran Dinilai Ubah Sistem Energi Dunia, Industri Migas Bersiap Hadapi Era Baru

Kompas.com, 10 Mei 2026, 06:20 WIB
Teuku Muhammad Valdy Arief

Editor

KOMPAS.com-Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz dinilai akan mengubah sistem energi dunia secara besar-besaran.

Pandangan tersebut disampaikan sejumlah kepala perusahaan minyak dan gas global dalam laporan keuangan mereka selama dua pekan terakhir.

Penutupan Selat Hormuz membuat distribusi energi global terganggu parah. Jalur laut strategis itu selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Akibat blokade tersebut, pasokan minyak global disebut kehilangan hampir satu miliar barel. Kekurangan pasokan diperkirakan terus membesar selama jalur itu belum kembali dibuka penuh.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik ke 101 Dollar AS per Barrel, Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Dilaporkan CNBC, kondisi ini membuat banyak negara dan perusahaan mulai mempertanyakan ketahanan sistem energi global saat ini.

Kepala Eksekutif SLB, perusahaan jasa ladang minyak terbesar dunia, Olivier Le Peuch, mengatakan krisis tersebut memperlihatkan rapuhnya rantai pasok energi global.

“Ini akan mendorong perubahan struktural mendasar di seluruh lanskap energi,” ujar CEO Baker Hughes Lorenzo Simonelli, pesaing utama SLB.

Menurut para eksekutif industri energi, pemerintah kini akan makin fokus pada isu keamanan energi.

“Bukan lagi sekadar bahan pembicaraan,” kata CEO Halliburton Jeffrey Miller.

Perusahaan jasa energi memperkirakan investasi eksplorasi dan produksi minyak akan meningkat setelah perang.

Investasi energi rendah karbon seperti panas bumi, energi nuklir, dan modernisasi jaringan listrik juga diprediksi terus bertambah.

“Ini bukan hanya tentang meningkatkan pasokan energi,” kata Simonelli.

“Ini tentang infrastruktur energi yang kuat dan tangguh serta redundansi yang lebih besar, diversifikasi infrastruktur, dan mengurangi ketergantungan pada satu aset skala besar,” lanjut dia.

Baca juga: Gabungkan Taktik Perang Era 1980-an dan Drone, Iran Cekik Jalur Minyak Dunia

Asia Dinilai Paling Rentan

Penutupan Selat Hormuz juga memperlihatkan besarnya ketergantungan negara-negara Asia terhadap minyak mentah dan gas alam cair dari Timur Tengah.

CEO Exxon Mobil Darren Woods mengatakan banyak negara kini mulai mengevaluasi ulang strategi keamanan energi mereka.

“Jelas, orang-orang akan menilai kembali keamanan energi mereka dan bagaimana mereka memastikan bahwa, ke depannya, mereka tidak memiliki paparan yang sama,” ujar Woods.

Pemerintah diperkirakan akan mempercepat diversifikasi sumber energi sekaligus memperbesar cadangan minyak nasional.

Cadangan energi strategis di banyak negara diketahui terkuras selama perang berlangsung.

“Akan ada peningkatan persediaan global di atas tingkat historis untuk memastikan keamanan energi menjadi prioritas utama,” kata Simonelli.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau