Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Utang Global Tembus Rp 6.133 Kuadriliun, Investor Mulai Diversifikasi dari AS

Kompas.com, 9 Mei 2026, 20:50 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

KOMPAS.com – Total utang global mencapai rekor baru pada kuartal I-2026. Institute of International Finance (IIF) mencatat nilai utang dunia mendekati 353 triliun dollar AS atau sekitar Rp 6.133 kuadriliun (asumsi kurs Rp 17.377 per dollar AS).

Dalam laporan Global Debt Monitor yang dirilis Rabu (6/5/2026), IIF menyebut kenaikan utang global mencapai lebih dari 4,4 triliun dollar AS sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Kenaikan tersebut menjadi yang tercepat sejak pertengahan 2025 dan menandai kenaikan selama lima kuartal berturut-turut.

Baca juga: Utang Pemerintah Hampir Rp 10.000 Triliun, Beban APBN Jadi Sorotan

Lonjakan utang terutama dipicu oleh peningkatan pinjaman pemerintah Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, investor global mulai menunjukkan tanda-tanda mengurangi ketergantungan terhadap obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Dikutip dari Reuters, Direktur Global Markets and Policy IIF Emre Tiftik mengatakan, permintaan internasional terhadap obligasi pemerintah Jepang dan Eropa menguat sejak awal tahun. Sebaliknya, permintaan terhadap obligasi pemerintah AS cenderung stagnan.

“Hal ini menunjukkan adanya upaya investor internasional untuk melakukan diversifikasi dari US Treasury,” ujar Tiftik dalam webinar peluncuran laporan tersebut.

Meski demikian, Tiftik menilai belum ada risiko langsung terhadap pasar obligasi pemerintah AS yang nilainya mencapai sekitar 30 triliun dollar AS. Namun, proyeksi jangka panjang menunjukkan utang pemerintah AS semakin bergerak ke arah yang tidak berkelanjutan.

Baca juga: Cadangan Devisa RI Turun pada April 2026: Bayar Utang dan Stabilkan Rupiah

IIF menyebut rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) AS diperkirakan terus meningkat apabila kebijakan fiskal saat ini dipertahankan. Sementara itu, rasio utang di kawasan euro dan Jepang justru mulai menurun.

Di sisi lain, pasar obligasi korporasi AS masih terus berkembang. Kondisi itu ditopang oleh penerbitan surat utang terkait pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta derasnya aliran dana dari investor asing.

Selain AS, kenaikan utang juga terjadi di China. IIF mencatat percepatan tajam pinjaman perusahaan non-keuangan di negara tersebut, terutama perusahaan milik negara. Kenaikan pinjaman korporasi itu bahkan melampaui pertumbuhan utang pemerintah China.

Di luar AS dan China, tingkat utang negara maju tercatat menurun tipis. Sebaliknya, negara berkembang di luar China mengalami kenaikan moderat hingga mencapai rekor 36,8 triliun dollar AS, terutama didorong oleh peningkatan pinjaman pemerintah.

Baca juga: Fitch Prediksi Pasar Modal Utang RI Sentuh 800 Miliar Dollar AS pada 2026

Secara keseluruhan, rasio utang global terhadap output ekonomi dunia berada di level sekitar 305 persen dan relatif stabil sejak 2023. Meski begitu, tren rasio utang menunjukkan pola berbeda antara negara maju dan negara berkembang.

Rasio utang di negara maju cenderung menurun, sedangkan di negara berkembang terus meningkat.

IIF mencatat kenaikan rasio utang terbesar terjadi di Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi. Kelima negara tersebut mengalami kenaikan lebih dari 30 poin persentase terhadap PDB.

Ke depan, IIF memperkirakan tekanan struktural akan terus mendorong kenaikan utang pemerintah maupun korporasi dalam jangka menengah hingga panjang.

Faktor pendorongnya antara lain penuaan populasi, peningkatan belanja pertahanan, kebutuhan keamanan energi dan diversifikasi pasokan, penguatan keamanan siber, hingga belanja modal terkait AI.

Menurut Tiftik, konflik terbaru di Timur Tengah juga berpotensi memperbesar tekanan tersebut dalam beberapa waktu mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau