Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tangkapan Tuna RI Menyusut hingga 30 Persen, Dampak Overfishing dan Perubahan Iklim

Kompas.com, 3 Mei 2026, 11:11 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Tuna Consortium menyebut bahwa terjadi penurunan volume tangkapan tuna hingga 20–30 persen dalam beberapa tahun terakhir.

“Perusahaan perikanan melaporkan penurunan volume tangkapan hingga 20-30 persen dalam beberapa tahun terakhir di beberapa wilayah operasi,” kata Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling, di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Dia bilang, kombinasi eksploitasi berlebih (fully exploited) dan perubahan iklim menjadi dua faktor utama yang mendorong penurunan tersebut, sekaligus menjadi peringatan serius bagi keberlanjutan industri perikanan nasional.

“Saat ini saja, beberapa stok tuna di kawasan samudra India dan Pasifik sudah berada pada status fully exploited, bahkan mungkin melampaui of the fish untuk spesies tertentu,” ujar Thilma.

Baca juga: Ekspor Tuna Indonesia ke Jepang Bebas Tarif, Ini Syaratnya

Dia menegaskan bahwa sektor perikanan tuna memiliki kompleksitas tinggi, baik dari sisi teknik penangkapan maupun tata kelola.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu produsen tuna terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 700.000 ton per tahun dari berbagai spesies seperti skipjack (cakalang), yellowfin (tuna sirip kuning), dan bigeye (tuna mata besar). Nilai ekspor tuna Indonesia bahkan telah menembus 1 miliar dollar AS per tahun, menjadikannya komoditas strategis nasional.

Lebih dari 2,7 juta nelayan, sebagian besar berskala kecil, menggantungkan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung pada sektor ini.

Namun di balik capaian tersebut, tekanan terhadap stok tuna semakin terlihat.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa tanpa intervensi signifikan, stok tuna di perairan Indonesia berpotensi menurun hingga minimal 36 persen pada tahun 2050 akibat kombinasi overfishing, perubahan iklim, dan degradasi ekosistem.

Penurunan tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional. Nelayan harus mengeluarkan lebih banyak bahan bakar dan menghabiskan waktu lebih lama di laut karena ikan semakin sulit ditemukan.

“Nelayan kecil pun mengatakan hal yang sama, ikan semakin jauh, semakin kecil, dan semakin tidak pasti. Di saat yang sama, perubahan iklim memperparah situasi,” ujar dia.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan suhu laut sebesar 1–2 derajat Celsius dapat menggeser distribusi tuna hingga ratusan kilometer dari wilayah tangkap tradisional.

Kondisi ini membuat nelayan kecil yang memiliki keterbatasan teknologi dan jangkauan menjadi pihak yang paling terdampak. “Kenaikan suhu laut sebesar 1-2 derajat Celsius dapat menggeser distribusi tuna ratusan kilometer dari nelayan tertangkap tradisional,” lanjutnya.

Dalam situasi tersebut, model ekonomi berbasis volume tangkapan dinilai tidak lagi relevan. Thilma menekankan pentingnya transformasi menuju model bisnis berbasis nilai tambah.

“Kita harus beralih ke model bisnis berbasis nilai maksimal perikanan. Di sinilah pentingnya pendekatan 100 persen pemanfaatan atau 100 percent utilization,” katanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau