Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Stok Ikan Diprediksi Capai 7,3 Juta Ton, KKP Pastikan Aman Selama Ramadhan dan Idul Fitri

Kompas.com, 19 Februari 2026, 15:00 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memastikan ketersediaan ikan secara nasional dalam kondisi aman sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri 2026.

Meski produksi sempat tertekan cuaca ekstrem pada awal tahun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan stok perikanan tangkap tetap mencukupi kebutuhan masyarakat.

Direktur Kepelabuhanan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Ady Candra, menyebut secara prognosis produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 mencapai 7,3 juta ton. Angka ini sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya akibat faktor musim.

Menurutnya, periode Januari-Maret 2026 bertepatan dengan musim barat yang ditandai curah hujan tinggi, angin kencang, serta gelombang besar. Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas penangkapan ikan yang menjadi lebih terbatas. Namun pola itu bersifat musiman dan terjadi setiap tahun.

“Terkait dengan ketersediaan stok di sektor hulu di perikanan tangkap sampai dengan Maret 2026 ini prognosis kita ada sekitar 7,3 juta ton produksi hingga Maret 2026 ini. Ini sedikit agak turun memang karena pola musim dan juga pola penangkapan yang memang sangat terganggu dengan faktor cuaca,” ujar Ady Candra saat konferensi pers di gedung KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: KKP Targetkan Transaksi Rp 7 Miliar dalam Business Matching UMKM

KKP memperkirakan produksi akan kembali meningkat pada awal Maret seiring membaiknya kondisi cuaca. Selain itu, menjelang Idul Fitri, kapal-kapal nelayan, terutama di wilayah pantai utara Jawa (Pantura), biasanya kembali melaut secara intensif, sehingga mendorong kenaikan produksi perikanan tangkap.

“Jadi diproyeksikan nanti di awal Maret juga akan mulai meningkat. Dan biasanya menjelang Idul fitri juga akan banyak kapal-kapal yang nanti akan kembali, terutama di pantura sehingga ini juga akan mendorong peningkatan produksi dari sektor perikanan tangkap. Jadi ini pola musim yang terjadi setiap tahunnya,” paparnya.

Dari sisi harga, KKP mencatat pergerakan relatif stabil untuk sebagian besar komoditas utama. Ikan cakalang memang mengalami kenaikan harga di sejumlah wilayah Sulawesi, tetapi secara nasional masih terkendali. Hal serupa terjadi pada cumi yang mengalami kenaikan harga di Jakarta dan Jawa Tengah, sementara daerah lain relatif stabil.

Baca juga: KKP Berencana Tata Kapal Nelayan yang Dianggap Menumpuk di Muara Angke

Komoditas ikan kakap juga tercatat dominan stabil, dengan kenaikan harga terbatas di Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Jakarta. Ikan tongkol mengalami kenaikan di beberapa daerah di Sulawesi, terutama Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Adapun tuna relatif stabil secara nasional, dengan kenaikan harga di Sulawesi Utara, yang konsumsi lokalnya cukup tinggi.

Berikut rincian volume produksi hingga harga rata-rata ikan di Indonesia.

Dari sisi volume produksi terbesar, Jawa Tengah tercatat sebagai daerah dengan produksi tertinggi sebesar 40.490 ton. Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta dengan 26.471 ton, disusul Jawa Timur sebesar 20.737 ton. Sulawesi Utara mencatat produksi 11.501 ton, sementara Bali sebesar 10.189 ton.

Baca juga: Data KKP Ungkap Suhu Laut Naik 4 Kali Lipat, Ancam Biota dan Picu Banjir

Sebaliknya, untuk volume produksi terkecil ada di Bengkulu dengan persentase 8 ton. Jambi berada di angka 11 ton, Papua Barat 75 ton, Sumatera Selatan 96 ton, dan Sulawesi Barat menjadi yang terendah dengan 1 ton.

Dari sisi harga, rata-rata harga produsen tertinggi tercatat di Maluku sebesar Rp 69.884 per kilogram. Papua Barat menyusul dengan Rp 68.879, Sulawesi Utara Rp 62.690, DKI Jakarta Rp 55.333, dan Sumatera Selatan Rp 39.156.

Sementara itu, rata-rata harga produsen terendah tercatat di Banten sebesar Rp 360 per kilogram. Jambi berada di Rp 1.336, Kalimantan Timur Rp 1.798, Kalimantan Tengah Rp 2.441, dan Kepulauan Riau Rp 4.200.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau