Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Energi: Stok Avtur Eropa Diprediksi Habis dalam Enam Minggu

Kompas.com, 16 April 2026, 18:47 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

Ketimpangan pasokan antarnegara

Pasokan bahan bakar jet di Eropa juga tidak merata antarnegara.

Spanyol, misalnya, memiliki delapan kilang dan berstatus sebagai eksportir bersih avtur. Sebaliknya, Inggris mengandalkan impor untuk lebih dari 60 persen kebutuhan avtur.

Baca juga: Efek Berantai Avtur Mahal: Tiket Naik Terbatas, Rute Maskapai Diubah, Pemerintah Turun Tangan

Secara keseluruhan, wilayah OECD Eropa mengimpor lebih dari 30 persen kebutuhan bahan bakar jet, dengan sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.

Ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi yang kini terganggu menjadi faktor utama yang memperbesar risiko krisis.

Ketidakpastian pasar dan operasional maskapai

Di tengah kondisi yang belum pasti, maskapai penerbangan mulai menghadapi kesulitan dalam merencanakan operasional mereka.

Chief Technology Officer Lufthansa, Grazia Vittadini, mengungkapkan bahwa pemasok bahan bakar kini mengubah pendekatan mereka dalam memberikan proyeksi pasokan.

Baca juga: AirAsia Minta Maaf Ubah Rute dan Jadwal Imbas Harga Avtur Naik demi Jaga Operasional

“Pemasok (avtur) kami mengubah jangka waktu perkiraan mereka, dan mereka tidak lagi bersedia memberikan perkiraan dalam jangka waktu yang lebih dari satu bulan,” kata Vittadini.

Ilustrasi pesawat, penerbangan.Pexels.com/RDNE Stock project Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Kondisi ini menunjukkan meningkatnya ketidakpastian di pasar energi, yang berdampak langsung pada perencanaan bisnis maskapai.

Sementara itu, sejumlah operator bandara masih memantau perkembangan situasi.

Bandara Heathrow di Inggris menyatakan bahwa dampak perang belum dirasakan secara langsung terhadap operasionalnya, namun tetap melakukan pemantauan ketat.

Baca juga: AirAsia Ubah Jadwal dan Rute, Tekanan Avtur Terasa, Penumpang Terdampak

Dampak global lebih luas

IEA juga menekankan, dampak krisis energi ini tidak akan merata di seluruh dunia. Negara-negara berkembang diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak.

“Negara-negara yang akan paling menderita bukanlah negara-negara yang suaranya banyak didengar. Terutama negara-negara berkembang. Negara-negara miskin di Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” ujar Birol.

Ia menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, China, Pakistan, dan Bangladesh sebagai wilayah yang berada di garis depan dampak krisis energi.

Dengan kenaikan harga energi yang meluas, tekanan terhadap inflasi global juga diperkirakan akan meningkat, memperburuk kondisi ekonomi di berbagai negara.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Tarif Tiket Pesawat Bakal Naik Maksimal 13 Persen

Cadangan darurat dan keterbatasannya

Uni Eropa sebenarnya memiliki mekanisme cadangan darurat untuk menghadapi gangguan pasokan energi. Negara anggota diwajibkan menyimpan cadangan minyak setara 90 hari konsumsi.

Namun, tidak terdapat kewajiban khusus untuk menyimpan avtur dalam jumlah tertentu.

Meski bahan bakar tersebut dapat dihitung sebagai bagian dari cadangan minyak, tidak semua negara memiliki stok yang memadai untuk kebutuhan sektor penerbangan.

Keterbatasan ini menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pada industri penerbangan dalam jangka pendek.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat

Di tengah upaya berbagai pihak untuk mencari solusi, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penentu utama arah krisis energi global saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau