Penulis
Pasokan bahan bakar jet di Eropa juga tidak merata antarnegara.
Spanyol, misalnya, memiliki delapan kilang dan berstatus sebagai eksportir bersih avtur. Sebaliknya, Inggris mengandalkan impor untuk lebih dari 60 persen kebutuhan avtur.
Baca juga: Efek Berantai Avtur Mahal: Tiket Naik Terbatas, Rute Maskapai Diubah, Pemerintah Turun Tangan
Secara keseluruhan, wilayah OECD Eropa mengimpor lebih dari 30 persen kebutuhan bahan bakar jet, dengan sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi yang kini terganggu menjadi faktor utama yang memperbesar risiko krisis.
Di tengah kondisi yang belum pasti, maskapai penerbangan mulai menghadapi kesulitan dalam merencanakan operasional mereka.
Chief Technology Officer Lufthansa, Grazia Vittadini, mengungkapkan bahwa pemasok bahan bakar kini mengubah pendekatan mereka dalam memberikan proyeksi pasokan.
Baca juga: AirAsia Minta Maaf Ubah Rute dan Jadwal Imbas Harga Avtur Naik demi Jaga Operasional
“Pemasok (avtur) kami mengubah jangka waktu perkiraan mereka, dan mereka tidak lagi bersedia memberikan perkiraan dalam jangka waktu yang lebih dari satu bulan,” kata Vittadini.
Ilustrasi pesawat, penerbangan.Kondisi ini menunjukkan meningkatnya ketidakpastian di pasar energi, yang berdampak langsung pada perencanaan bisnis maskapai.
Sementara itu, sejumlah operator bandara masih memantau perkembangan situasi.
Bandara Heathrow di Inggris menyatakan bahwa dampak perang belum dirasakan secara langsung terhadap operasionalnya, namun tetap melakukan pemantauan ketat.
Baca juga: AirAsia Ubah Jadwal dan Rute, Tekanan Avtur Terasa, Penumpang Terdampak
IEA juga menekankan, dampak krisis energi ini tidak akan merata di seluruh dunia. Negara-negara berkembang diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak.
“Negara-negara yang akan paling menderita bukanlah negara-negara yang suaranya banyak didengar. Terutama negara-negara berkembang. Negara-negara miskin di Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” ujar Birol.
Ia menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, China, Pakistan, dan Bangladesh sebagai wilayah yang berada di garis depan dampak krisis energi.
Dengan kenaikan harga energi yang meluas, tekanan terhadap inflasi global juga diperkirakan akan meningkat, memperburuk kondisi ekonomi di berbagai negara.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Tarif Tiket Pesawat Bakal Naik Maksimal 13 Persen
Uni Eropa sebenarnya memiliki mekanisme cadangan darurat untuk menghadapi gangguan pasokan energi. Negara anggota diwajibkan menyimpan cadangan minyak setara 90 hari konsumsi.
Namun, tidak terdapat kewajiban khusus untuk menyimpan avtur dalam jumlah tertentu.
Meski bahan bakar tersebut dapat dihitung sebagai bagian dari cadangan minyak, tidak semua negara memiliki stok yang memadai untuk kebutuhan sektor penerbangan.
Keterbatasan ini menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pada industri penerbangan dalam jangka pendek.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat
Di tengah upaya berbagai pihak untuk mencari solusi, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penentu utama arah krisis energi global saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang